Author: Araiemei Avalon
Cast: Lee Jinki (Onew SHINee), Park Hyerim, Kim Kibeom, Han Yoonhee
Genre: Family
Rate: 13+
---
Ini adalah kisah yang berawal saat
dimana aku merekam kisah pertemuan itu di hatiku, bukan pada camera yang selalu
menggantung di leherku semenjak berumur kurang lebih 6 tahun. Aku menyimpan
namanya sudah lama. Nama yang dengan mengingatnya saja aku jadi seperti
merasakan mudah untuk bernafas. Melenyapkan sejenak rasa nyeri yang selalu
membuatku memegang dada dan kadang-kadang sambil meregang.
Waktu itu, beberapa tahun yang lalu,
saat aku masih di Daegu, aku pikir aku tidak akan pernah bertemu kembali
dengannya. Asma akut yang sudah kuidap sejak kecil itu sering mendatangiku
tiba-tiba. Sakitnya minta ampun, aku seperti kekurangan oksigen. Aku
benar-benar sulit untuk menarik nafas meski satu kali helaan saja. Jika sudah
begitu, aku langsung jatuh pingsan, dan begitu tersadar, aku mendapati tubuhku
sudah terbaring di atas tempat tidur sebuah rumah sakit. Dan aku juga melihat
Appa duduk di sebuah bangku, di samping tempat tidur yang menjadi tempatku
berbaring untuk menungguku.
---
Akulah yang
selalu tahu dirimu. Orang yang selalu mencintaimu adalah aku. Itu karena
bertemu denganmu adalah keajaiban untukku.
---
“Ige mwoya?” suara namja itu bertanya
malas, matanya menatap sosok yeoja di depan mejanya dengan tatapan jenuh.
“Aku tau kau belum sarapan, jadi aku
membawakan ini dari rumah. Aku harap kau mau memakannya!” yeoja di depannya
tersenyum manis sembari semakin mendekatkan kotak makanan hijau di tangannya
itu ke arah si namja.
Tapi bukannya berterimakasih, namja
tersebut malah membuang pandangan sembari mendengus kecil,
“Hey, kau tak mau mengambilnya?” ucap
yeoja di depannya itu lagi, “Padahal ini
sudah aku siapkan khusus untukmu. Masakannya juga aku sendiri yang membuat.”
“Aku tidak memintanya.” Sahut si namja ketus.
“Oppa~ …”
“JANGAN PANGGIL AKU SEPERTI ITU!”
tiba-tiba saja Jinki berteriak. Suaranya nyaring memenuhi ruangan. Yeoja di
depanya itu sedikit tersentak, matanya mengerjap kaget. Untung saja saat itu siswa-siswa
lain tidak sedang berada di dalam kelas, karena masih dalam jam istirahat. “Kau
bukan siapa-siapaku. Jadi jangan pernah berharap aku bisa menerima panggilan
seperti itu.” lanjutnya kemudian dengan volume suara yang sudah dikecilkan.
Gadis di depannya itu menunduk. “Aku
akan tetap menunggunya.” Sahut yeoja berambut hitam panjang itu pelan, namun
berhasil membuat Jinki refleks mendongakan kepalanya.
“Mworago?!” Jinki menatap gadis itu
dengan pandangan heran sekaligus kaget. Ia benar-benar tidak mengerti dengan
apa yang tadi ia dengar? Gadis itu akan menunggunya bersedia dipanggil “Oppa”?
---
Semalaman aku tidak bisa mengubah pikiranku. Kau seolah-olah
selalu berada di depanku. Meski kita tidak bisa berbicara, karena dirimu yang
selalu mengalihkan pandangan bila di sampingku. Namun yang terjadi malah aku
tidak bisa melupakanmu, aku rindu kamu dan apa yang aku hirup seolah-olah
sesuatu yang menenangkan jika mengingatmu. Oksigen seperti hanya untukku. Dan
aku tidak pernah merasakan kesusahan lagi saat berada di dekatmu. Walaupun kau
tidak pernah menyadari jaraknya. Tapi aku menunggu, aku akan terus mencobanya.
Jangan beritahuku bahwa waktu akan segera berakhir. Karena aku punya cinta yang
akan memperpanjangnya.
---
Aku tidak habis pikir, bagaimana aku
bisa bersikap begitu kasar akhir-akhir ini, dan itu terhadap seorang yeoja.
Tapi entahlah, aku sudah berusaha untuk menahan emosiku setiap berhadapan
dengannya, tapi yang terjadi malah pertahananku runtuh, dan emosi itu pun
meledak besar. Hal ini bukan pertama kalinya aku membentaknya, tapi sudah
sering. Mengacuhkannya, meninggalkannya di jalan dan sebagainya sudah terlampu
sering aku lakukan. Aku tau ini sangat keterlaluan, tapi jujur, aku tidak tahu
bagaimana caraku untuk mengatasinya. Selalu saja seperti ini, setiap di
dekatnya aku dipenuhi emosi tinggi.
Saat dimana aku bertemu dengannya
untuk pertama kali, beberapa bulan yang lalu ketika Eomma dan Abeoji membawanya
ke rumah lalu memperkenalkan kepadaku. Namanya Park Hye Rim, tapi aku selalu
memanggilnya ‘gadis menyebalkan’. Dia anak dari teman dekatnya Abeoji dan
Eomma. Nasibnya cukup menyedihkan aku bilang, Ayahnya meninggal beberapa bulan
yang lalu akibat kecelakaan, sementara Ibunya sudah jauh terlebih dahulu pergi,
sewaktu ia masih balita.
Waktu pertama kali bertemu, ia
tersenyum kepadaku. Benar-benar tidak menunjukkan gelagat yang aneh. Dia
normal, ya dia seperti gadis biasa. Penampilannya juga tidak buruk. Tapi
entahlah, aku tidak tahu kenapa rasanya bibirku ini sulit sekali untuk
menautkan senyum di depannya apalagi membuka suara.
---
“YA! Jinki~yaa.” Seseorang datang
menepuk pundak Jinki yang saat itu tengah duduk di bangkunya dengan kepala yang
ditumpukan pada lengannya yang ia lipat di atas meja. Namun Jinki
mengacuhkannya, ia tetap pada posisinya, yang membuat temannya itu memutuskan
untuk mengambil tempat di sebelahnya.
“Tadi di depan, aku ketemu Hye Rim.
Dia barusan ke sini ya?” tanya temannya itu kemudian, namun lagi-lagi Jinki
tidak bergeming. “YA! Kau pingsan?—JINKI-YAA~!” temannya itu berteriak, sembari
mengguncang-guncang pundak Jinki dengan tangan kirinya.
“KIM KIBEOM…” Jinki menekan suaranya
yang terdengar cukup geram begitu mengangkat kepalanya dari atas meja. Matanya
berkilat, membuat orang di depannya seketika meringis begitu melihatnya.
“Hhe,” namja dengan nametag
bertuliskan Kim Kibeom pada seragamnya itu cengar-cengir akibat mendapat
tatapan tajam oleh orang di hadapannya. Ia mengangkat salah satu tangannya
dengan dua jari yang membentuk huruf ‘V’, “PEACE!” ucapnya kemudian.
Jinki mendengus, membuang tatapan dari
Ki Beom ke arah jendela. Perasaannya benar-benar suntuk sekarang. Wajahnya
kusut.
“Jinki-yaa~, kalau boleh jujur,
sebenarnya aku tidak terima dengan bagaimana kau memperlakukan Hye Rim. Kau
selalu saja tidak menghiraukannya dan sering membentaknya, padahal dia tidak
bersalah, bahkan dia terlampau baik kepadamu.”
“Aku hanya tidak suka dengan cara
orang tuaku yang selalu memujinya dan
seolah-olah berusaha untuk membuatku dekat dengannya. Setiap kali mereka
seperti itu, aku merasakan kebencian yang berlipat-lipat atas Hye Rim.” Jawab
Jinki tanpa mengalihkan pandangannya. Kibeom yang mendengar penuturan Jinki
menghembuskan nafas pelan.
“Padahal dulu mereka tidak pernah
memperlakukan Yoonhee seperti bagaimana mereka memperlakukan Hyerim dengan
baik.”
Kibeom menepuk pundak sahabat karibnya
itu, membuat Jinki menoreh ke arahnya. Kibeom tersenyum, “Tapi perhatian Hyerim
kepadamu jauh lebih baik dibandingkan Yoonhee.”
“Aku tidak membutuhkan perhatian yang
berlebihan, Kibeom~ah.” Sahut Jinki. Kibeom melepaskan tangannya dari pundak
teman sebangkunya itu. Lalu mengangguk pelan, seolah-olah memahami apa yang
sekarang sedang Jinki rasakan sebenarnya. Dan bersikap seperti pembicaraan tadi
tidak pernah mereka bahas sebelumnya. Mereka saling terdiam di tempat hingga
bel kembali berbunyi.
---
Hyerim’s POV
KLIIK!!!
Bidikanku tepat lagi. Wajahnya kembali
muncul di layar camera digitalku. Ia begitu tampan. Entahlah, aku tidak tahu kenapa
aku menyukai raut wajahnya apabila sedang khusyuk membaca buku.
Aku membalik badanku, bersandar pada
tembok dekat pintu perpustakaan. Aku baru saja berhasil mencuri fotonya lagi.
Aku mendapatkannya!
Beberapa hari ini, aku hanya bisa
memperhatikannya diam-diam di belakang. Aku tidak berani lagi menemuinya. Tapi
bukan berarti aku berputus asa karena bentakannya waktu itu. Sama sekali bukan
itu. Itu semua karena aku tidak ingin mengganggunya. Sebentar lagi dia akan
menghadapi ujian kelulusan. Aku pikir dia harus belajar dengan tenang.
Dua hari ini aku sudah mendapatkan
lebih dari 30 fotonya. Semuanya terlihat sangat bagus. Dan itu tidak mustahil,
dia memang tampan. Malah sangat tampan untukku.
Aku sudah menyukainya lebih dari 10
tahun. Pertemuan kami beberapa bulan yang lalu bukanlah pertemuan pertama, tapi
kami sudah bertemu sebelumnya. Waktu camera yang menggantung di leherku adalah
camera hadiah ulang tahun dari ayahku saat aku menginjak umur 4 tahun.
Sebenarnya aku sudah bisa menerka dia
tidak akan mengingatku lagi. Walaupun di dalam hati ada harapan untuk dia bisa
mengingat itu cukup besar. Namun, yang terjadi dia tidak mengacuhkanku. Bahkan
ketika aku tersenyum kepadanya saat pertama kali aku menginjakkan kaki ke
rumahnya, ia acuh begitu saja terhadapku. Itu benar-benar jauh dari apa yang
kuharapkan. Tapi wajarlah, aku bisa menerimanya. Aku paham. Dan aku pikir, saat
ini memang ujian besar untuk perasaanku. Aku yakin, aku pasti bisa melewatinya.
Aku akan membuktikan, bahwa aku akan setia menunggunya untuk kembali mengingat
pertemuan 10 tahun silam.
“Hyerim~ah…” saat sedang asik-asiknya
melihat-lihat hasil jepretanku, suara seseorang terdengar memanggil namaku. Aku
mengalihkan pandangan dari camera digitial di tanganku, menoleh ke arahnya.
Ternyata suara itu berasal dari sosok pemuda yang kukenal bernama Kim Kibeom.
Dia sunbaeku, teman sekelasnya Jinki.
Aku tersenyum ke arahnya, “Annyeong!”
sapanya dengan kedua telapak tangan yang melambai. Ia tersenyum lebar sekali.
Aku menyukai keramahannya setiap kali kami bertemu.
“Annyeonghaseyo, Sunbae-nim.” Balasku
dengan senyum yang tidak kalah lebar sembari merundukkan tubuhku sebagai
penghormatan atas ia yang adalah kakak tingkatku di sini.
---
“Rasanya sudah lama sekali tidak
melihatmu, Hyerim~ah. Kau baik-baik saja, kan?” tanya Kibeom begitu sudah
berhadapan dengan Hyerim. Hyerim mengangguk pasti.
“Nde~, aku baik-baik saja.” Jawab
Hyerim. Kibeom menjenjangkan sedikit lehernya untuk memfokuskan pandangan ke
arah dalam ruangan perpustakaan. Hyerim yang sadar, segera mengikuti kemana
arah pandangan Kibeom. Jinki masih berada di posisi yang sama dengan yang tadi.
Ia duduk di meja dekat jendela. Masih terlihat khusyuk dengan buku-bukunya.
“Kau, ingin menemui Jinki?” suara
Kibeom bertanya, yang seketika saja langsung membuat Hye Rim kembali beralih
fokus.
Ia menatap bingung dengan tampang yang
begitu polos, “Nde~?”
Melihatnya Kibeomjadi terkekeh
sendiri. “Kau ingin menemui Jinki, kan?”
“A-annio~!” Hyerim menyambar cepat,
“Aku tidak ingin bertemu dengannya, kok.”
Kibeom berdehem, Hye Rim
menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
“Apa Jinki masih membentakmu?”
pertanyaan Kibeom kali ini, .. Hyerim
kembali terperangah dibuatnya.
“NDE?”
“Aku pikir kita memang harus memiliki
waktu khusus untuk berbicara berdua.” Ucap Kibeom. Hyerim terdiam di tempat. Ia
tidak tahu harus berkata apalagi. Ia tidak mungkin mengelak sekarang.
“Minggu sore, kita bertemu di taman.
Kau bisa, kan?” Hyerim terpaku beberapa saat, menimbang-nimbang dalam hati
hingga akhirnya ia pun menganggukan kepala. Tanpa pertanyaan dan tanpa berpikir
panjang lagi.
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar