Kamis, 24 Januari 2013

Love Like Oxygen (PART 1)


Author: Araiemei Avalon
Cast: Lee Jinki (Onew SHINee), Park Hyerim, Kim Kibeom, Han Yoonhee
Genre: Family
Rate: 13+
---

*      Hye Rim POV’s
          Ini adalah kisah yang berawal saat dimana aku merekam kisah pertemuan itu di hatiku, bukan pada camera yang selalu menggantung di leherku semenjak berumur kurang lebih 6 tahun. Aku menyimpan namanya sudah lama. Nama yang dengan mengingatnya saja aku jadi seperti merasakan mudah untuk bernafas. Melenyapkan sejenak rasa nyeri yang selalu membuatku memegang dada dan kadang-kadang sambil meregang.
          Waktu itu, beberapa tahun yang lalu, saat aku masih di Daegu, aku pikir aku tidak akan pernah bertemu kembali dengannya. Asma akut yang sudah kuidap sejak kecil itu sering mendatangiku tiba-tiba. Sakitnya minta ampun, aku seperti kekurangan oksigen. Aku benar-benar sulit untuk menarik nafas meski satu kali helaan saja. Jika sudah begitu, aku langsung jatuh pingsan, dan begitu tersadar, aku mendapati tubuhku sudah terbaring di atas tempat tidur sebuah rumah sakit. Dan aku juga melihat Appa duduk di sebuah bangku, di samping tempat tidur yang menjadi tempatku berbaring untuk menungguku.
                   ---
          Akulah yang selalu tahu dirimu. Orang yang selalu mencintaimu adalah aku. Itu karena bertemu denganmu adalah keajaiban untukku.
---
          “Ige mwoya?” suara namja itu bertanya malas, matanya menatap sosok yeoja di depan mejanya dengan tatapan jenuh.
          “Aku tau kau belum sarapan, jadi aku membawakan ini dari rumah. Aku harap kau mau memakannya!” yeoja di depannya tersenyum manis sembari semakin mendekatkan kotak makanan hijau di tangannya itu ke arah si namja.
          Tapi bukannya berterimakasih, namja tersebut malah membuang pandangan sembari mendengus kecil,
          “Hey, kau tak mau mengambilnya?” ucap yeoja di depannya itu lagi,  “Padahal ini sudah aku siapkan khusus untukmu. Masakannya juga aku sendiri yang membuat.”
          “Aku tidak memintanya.”  Sahut si namja ketus.
          “Oppa~ …”
          “JANGAN PANGGIL AKU SEPERTI ITU!” tiba-tiba saja Jinki berteriak. Suaranya nyaring memenuhi ruangan. Yeoja di depanya itu sedikit tersentak, matanya mengerjap kaget. Untung saja saat itu siswa-siswa lain tidak sedang berada di dalam kelas, karena masih dalam jam istirahat. “Kau bukan siapa-siapaku. Jadi jangan pernah berharap aku bisa menerima panggilan seperti itu.” lanjutnya kemudian dengan volume suara yang sudah dikecilkan.
          Gadis di depannya itu menunduk. “Aku akan tetap menunggunya.” Sahut yeoja berambut hitam panjang itu pelan, namun berhasil membuat Jinki refleks mendongakan kepalanya.
          “Mworago?!” Jinki menatap gadis itu dengan pandangan heran sekaligus kaget. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang tadi ia dengar? Gadis itu akan menunggunya bersedia dipanggil “Oppa”?
---
          Semalaman aku tidak bisa mengubah pikiranku. Kau seolah-olah selalu berada di depanku. Meski kita tidak bisa berbicara, karena dirimu yang selalu mengalihkan pandangan bila di sampingku. Namun yang terjadi malah aku tidak bisa melupakanmu, aku rindu kamu dan apa yang aku hirup seolah-olah sesuatu yang menenangkan jika mengingatmu. Oksigen seperti hanya untukku. Dan aku tidak pernah merasakan kesusahan lagi saat berada di dekatmu. Walaupun kau tidak pernah menyadari jaraknya. Tapi aku menunggu, aku akan terus mencobanya. Jangan beritahuku bahwa waktu akan segera berakhir. Karena aku punya cinta yang akan memperpanjangnya.
---
*      Jinki’s POV
          Aku tidak habis pikir, bagaimana aku bisa bersikap begitu kasar akhir-akhir ini, dan itu terhadap seorang yeoja. Tapi entahlah, aku sudah berusaha untuk menahan emosiku setiap berhadapan dengannya, tapi yang terjadi malah pertahananku runtuh, dan emosi itu pun meledak besar. Hal ini bukan pertama kalinya aku membentaknya, tapi sudah sering. Mengacuhkannya, meninggalkannya di jalan dan sebagainya sudah terlampu sering aku lakukan. Aku tau ini sangat keterlaluan, tapi jujur, aku tidak tahu bagaimana caraku untuk mengatasinya. Selalu saja seperti ini, setiap di dekatnya aku dipenuhi emosi tinggi.
          Saat dimana aku bertemu dengannya untuk pertama kali, beberapa bulan yang lalu ketika Eomma dan Abeoji membawanya ke rumah lalu memperkenalkan kepadaku. Namanya Park Hye Rim, tapi aku selalu memanggilnya ‘gadis menyebalkan’. Dia anak dari teman dekatnya Abeoji dan Eomma. Nasibnya cukup menyedihkan aku bilang, Ayahnya meninggal beberapa bulan yang lalu akibat kecelakaan, sementara Ibunya sudah jauh terlebih dahulu pergi, sewaktu ia masih balita.
          Waktu pertama kali bertemu, ia tersenyum kepadaku. Benar-benar tidak menunjukkan gelagat yang aneh. Dia normal, ya dia seperti gadis biasa. Penampilannya juga tidak buruk. Tapi entahlah, aku tidak tahu kenapa rasanya bibirku ini sulit sekali untuk menautkan senyum di depannya apalagi membuka suara.
---
          “YA! Jinki~yaa.” Seseorang datang menepuk pundak Jinki yang saat itu tengah duduk di bangkunya dengan kepala yang ditumpukan pada lengannya yang ia lipat di atas meja. Namun Jinki mengacuhkannya, ia tetap pada posisinya, yang membuat temannya itu memutuskan untuk mengambil tempat di sebelahnya.
          “Tadi di depan, aku ketemu Hye Rim. Dia barusan ke sini ya?” tanya temannya itu kemudian, namun lagi-lagi Jinki tidak bergeming. “YA! Kau pingsan?—JINKI-YAA~!” temannya itu berteriak, sembari mengguncang-guncang pundak Jinki dengan tangan kirinya.
          “KIM KIBEOM…” Jinki menekan suaranya yang terdengar cukup geram begitu mengangkat kepalanya dari atas meja. Matanya berkilat, membuat orang di depannya seketika meringis begitu melihatnya.
          “Hhe,” namja dengan nametag bertuliskan Kim Kibeom pada seragamnya itu cengar-cengir akibat mendapat tatapan tajam oleh orang di hadapannya. Ia mengangkat salah satu tangannya dengan dua jari yang membentuk huruf ‘V’, “PEACE!” ucapnya kemudian.
          Jinki mendengus, membuang tatapan dari Ki Beom ke arah jendela. Perasaannya benar-benar suntuk sekarang. Wajahnya kusut.
          “Jinki-yaa~, kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak terima dengan bagaimana kau memperlakukan Hye Rim. Kau selalu saja tidak menghiraukannya dan sering membentaknya, padahal dia tidak bersalah, bahkan dia terlampau baik kepadamu.”
          “Aku hanya tidak suka dengan cara orang tuaku yang selalu memujinya  dan seolah-olah berusaha untuk membuatku dekat dengannya. Setiap kali mereka seperti itu, aku merasakan kebencian yang berlipat-lipat atas Hye Rim.” Jawab Jinki tanpa mengalihkan pandangannya. Kibeom yang mendengar penuturan Jinki menghembuskan nafas pelan.
          “Padahal dulu mereka tidak pernah memperlakukan Yoonhee seperti bagaimana mereka memperlakukan Hyerim dengan baik.”
          Kibeom menepuk pundak sahabat karibnya itu, membuat Jinki menoreh ke arahnya. Kibeom tersenyum, “Tapi perhatian Hyerim kepadamu jauh lebih baik dibandingkan Yoonhee.”
          “Aku tidak membutuhkan perhatian yang berlebihan, Kibeom~ah.” Sahut Jinki. Kibeom melepaskan tangannya dari pundak teman sebangkunya itu. Lalu mengangguk pelan, seolah-olah memahami apa yang sekarang sedang Jinki rasakan sebenarnya. Dan bersikap seperti pembicaraan tadi tidak pernah mereka bahas sebelumnya. Mereka saling terdiam di tempat hingga bel kembali berbunyi.
---
          Hyerim’s POV
          KLIIK!!!
          Bidikanku tepat lagi. Wajahnya kembali muncul di layar camera digitalku. Ia begitu tampan. Entahlah, aku tidak tahu kenapa aku menyukai raut wajahnya apabila sedang khusyuk membaca buku.
          Aku membalik badanku, bersandar pada tembok dekat pintu perpustakaan. Aku baru saja berhasil mencuri fotonya lagi. Aku mendapatkannya!
          Beberapa hari ini, aku hanya bisa memperhatikannya diam-diam di belakang. Aku tidak berani lagi menemuinya. Tapi bukan berarti aku berputus asa karena bentakannya waktu itu. Sama sekali bukan itu. Itu semua karena aku tidak ingin mengganggunya. Sebentar lagi dia akan menghadapi ujian kelulusan. Aku pikir dia harus belajar dengan tenang.
          Dua hari ini aku sudah mendapatkan lebih dari 30 fotonya. Semuanya terlihat sangat bagus. Dan itu tidak mustahil, dia memang tampan. Malah sangat tampan untukku.
          Aku sudah menyukainya lebih dari 10 tahun. Pertemuan kami beberapa bulan yang lalu bukanlah pertemuan pertama, tapi kami sudah bertemu sebelumnya. Waktu camera yang menggantung di leherku adalah camera hadiah ulang tahun dari ayahku saat aku menginjak umur 4 tahun.
          Sebenarnya aku sudah bisa menerka dia tidak akan mengingatku lagi. Walaupun di dalam hati ada harapan untuk dia bisa mengingat itu cukup besar. Namun, yang terjadi dia tidak mengacuhkanku. Bahkan ketika aku tersenyum kepadanya saat pertama kali aku menginjakkan kaki ke rumahnya, ia acuh begitu saja terhadapku. Itu benar-benar jauh dari apa yang kuharapkan. Tapi wajarlah, aku bisa menerimanya. Aku paham. Dan aku pikir, saat ini memang ujian besar untuk perasaanku. Aku yakin, aku pasti bisa melewatinya. Aku akan membuktikan, bahwa aku akan setia menunggunya untuk kembali mengingat pertemuan 10 tahun silam.
          “Hyerim~ah…” saat sedang asik-asiknya melihat-lihat hasil jepretanku, suara seseorang terdengar memanggil namaku. Aku mengalihkan pandangan dari camera digitial di tanganku, menoleh ke arahnya. Ternyata suara itu berasal dari sosok pemuda yang kukenal bernama Kim Kibeom. Dia sunbaeku, teman sekelasnya Jinki.
          Aku tersenyum ke arahnya, “Annyeong!” sapanya dengan kedua telapak tangan yang melambai. Ia tersenyum lebar sekali. Aku menyukai keramahannya setiap kali kami bertemu.
          “Annyeonghaseyo, Sunbae-nim.” Balasku dengan senyum yang tidak kalah lebar sembari merundukkan tubuhku sebagai penghormatan atas ia yang adalah kakak tingkatku di sini.
---
          “Rasanya sudah lama sekali tidak melihatmu, Hyerim~ah. Kau baik-baik saja, kan?” tanya Kibeom begitu sudah berhadapan dengan Hyerim. Hyerim mengangguk pasti.
          “Nde~, aku baik-baik saja.” Jawab Hyerim. Kibeom menjenjangkan sedikit lehernya untuk memfokuskan pandangan ke arah dalam ruangan perpustakaan. Hyerim yang sadar, segera mengikuti kemana arah pandangan Kibeom. Jinki masih berada di posisi yang sama dengan yang tadi. Ia duduk di meja dekat jendela. Masih terlihat khusyuk dengan buku-bukunya.
          “Kau, ingin menemui Jinki?” suara Kibeom bertanya, yang seketika saja langsung membuat Hye Rim kembali beralih fokus.
          Ia menatap bingung dengan tampang yang begitu polos, “Nde~?”
          Melihatnya Kibeomjadi terkekeh sendiri. “Kau ingin menemui Jinki, kan?”
          “A-annio~!” Hyerim menyambar cepat, “Aku tidak ingin bertemu dengannya, kok.”
          Kibeom berdehem, Hye Rim menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
          “Apa Jinki masih membentakmu?” pertanyaan Kibeom kali ini,  .. Hyerim kembali terperangah dibuatnya.
          “NDE?”
          “Aku pikir kita memang harus memiliki waktu khusus untuk berbicara berdua.” Ucap Kibeom. Hyerim terdiam di tempat. Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Ia tidak mungkin mengelak sekarang.
          “Minggu sore, kita bertemu di taman. Kau bisa, kan?” Hyerim terpaku beberapa saat, menimbang-nimbang dalam hati hingga akhirnya ia pun menganggukan kepala. Tanpa pertanyaan dan tanpa berpikir panjang lagi.
---



Tidak ada komentar:

Posting Komentar