Kamis, 24 Januari 2013

Love Like Oxygen (PART 1)


Author: Araiemei Avalon
Cast: Lee Jinki (Onew SHINee), Park Hyerim, Kim Kibeom, Han Yoonhee
Genre: Family
Rate: 13+
---

*      Hye Rim POV’s
          Ini adalah kisah yang berawal saat dimana aku merekam kisah pertemuan itu di hatiku, bukan pada camera yang selalu menggantung di leherku semenjak berumur kurang lebih 6 tahun. Aku menyimpan namanya sudah lama. Nama yang dengan mengingatnya saja aku jadi seperti merasakan mudah untuk bernafas. Melenyapkan sejenak rasa nyeri yang selalu membuatku memegang dada dan kadang-kadang sambil meregang.
          Waktu itu, beberapa tahun yang lalu, saat aku masih di Daegu, aku pikir aku tidak akan pernah bertemu kembali dengannya. Asma akut yang sudah kuidap sejak kecil itu sering mendatangiku tiba-tiba. Sakitnya minta ampun, aku seperti kekurangan oksigen. Aku benar-benar sulit untuk menarik nafas meski satu kali helaan saja. Jika sudah begitu, aku langsung jatuh pingsan, dan begitu tersadar, aku mendapati tubuhku sudah terbaring di atas tempat tidur sebuah rumah sakit. Dan aku juga melihat Appa duduk di sebuah bangku, di samping tempat tidur yang menjadi tempatku berbaring untuk menungguku.
                   ---
          Akulah yang selalu tahu dirimu. Orang yang selalu mencintaimu adalah aku. Itu karena bertemu denganmu adalah keajaiban untukku.
---
          “Ige mwoya?” suara namja itu bertanya malas, matanya menatap sosok yeoja di depan mejanya dengan tatapan jenuh.
          “Aku tau kau belum sarapan, jadi aku membawakan ini dari rumah. Aku harap kau mau memakannya!” yeoja di depannya tersenyum manis sembari semakin mendekatkan kotak makanan hijau di tangannya itu ke arah si namja.
          Tapi bukannya berterimakasih, namja tersebut malah membuang pandangan sembari mendengus kecil,
          “Hey, kau tak mau mengambilnya?” ucap yeoja di depannya itu lagi,  “Padahal ini sudah aku siapkan khusus untukmu. Masakannya juga aku sendiri yang membuat.”
          “Aku tidak memintanya.”  Sahut si namja ketus.
          “Oppa~ …”
          “JANGAN PANGGIL AKU SEPERTI ITU!” tiba-tiba saja Jinki berteriak. Suaranya nyaring memenuhi ruangan. Yeoja di depanya itu sedikit tersentak, matanya mengerjap kaget. Untung saja saat itu siswa-siswa lain tidak sedang berada di dalam kelas, karena masih dalam jam istirahat. “Kau bukan siapa-siapaku. Jadi jangan pernah berharap aku bisa menerima panggilan seperti itu.” lanjutnya kemudian dengan volume suara yang sudah dikecilkan.
          Gadis di depannya itu menunduk. “Aku akan tetap menunggunya.” Sahut yeoja berambut hitam panjang itu pelan, namun berhasil membuat Jinki refleks mendongakan kepalanya.
          “Mworago?!” Jinki menatap gadis itu dengan pandangan heran sekaligus kaget. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang tadi ia dengar? Gadis itu akan menunggunya bersedia dipanggil “Oppa”?
---
          Semalaman aku tidak bisa mengubah pikiranku. Kau seolah-olah selalu berada di depanku. Meski kita tidak bisa berbicara, karena dirimu yang selalu mengalihkan pandangan bila di sampingku. Namun yang terjadi malah aku tidak bisa melupakanmu, aku rindu kamu dan apa yang aku hirup seolah-olah sesuatu yang menenangkan jika mengingatmu. Oksigen seperti hanya untukku. Dan aku tidak pernah merasakan kesusahan lagi saat berada di dekatmu. Walaupun kau tidak pernah menyadari jaraknya. Tapi aku menunggu, aku akan terus mencobanya. Jangan beritahuku bahwa waktu akan segera berakhir. Karena aku punya cinta yang akan memperpanjangnya.
---
*      Jinki’s POV
          Aku tidak habis pikir, bagaimana aku bisa bersikap begitu kasar akhir-akhir ini, dan itu terhadap seorang yeoja. Tapi entahlah, aku sudah berusaha untuk menahan emosiku setiap berhadapan dengannya, tapi yang terjadi malah pertahananku runtuh, dan emosi itu pun meledak besar. Hal ini bukan pertama kalinya aku membentaknya, tapi sudah sering. Mengacuhkannya, meninggalkannya di jalan dan sebagainya sudah terlampu sering aku lakukan. Aku tau ini sangat keterlaluan, tapi jujur, aku tidak tahu bagaimana caraku untuk mengatasinya. Selalu saja seperti ini, setiap di dekatnya aku dipenuhi emosi tinggi.
          Saat dimana aku bertemu dengannya untuk pertama kali, beberapa bulan yang lalu ketika Eomma dan Abeoji membawanya ke rumah lalu memperkenalkan kepadaku. Namanya Park Hye Rim, tapi aku selalu memanggilnya ‘gadis menyebalkan’. Dia anak dari teman dekatnya Abeoji dan Eomma. Nasibnya cukup menyedihkan aku bilang, Ayahnya meninggal beberapa bulan yang lalu akibat kecelakaan, sementara Ibunya sudah jauh terlebih dahulu pergi, sewaktu ia masih balita.
          Waktu pertama kali bertemu, ia tersenyum kepadaku. Benar-benar tidak menunjukkan gelagat yang aneh. Dia normal, ya dia seperti gadis biasa. Penampilannya juga tidak buruk. Tapi entahlah, aku tidak tahu kenapa rasanya bibirku ini sulit sekali untuk menautkan senyum di depannya apalagi membuka suara.
---
          “YA! Jinki~yaa.” Seseorang datang menepuk pundak Jinki yang saat itu tengah duduk di bangkunya dengan kepala yang ditumpukan pada lengannya yang ia lipat di atas meja. Namun Jinki mengacuhkannya, ia tetap pada posisinya, yang membuat temannya itu memutuskan untuk mengambil tempat di sebelahnya.
          “Tadi di depan, aku ketemu Hye Rim. Dia barusan ke sini ya?” tanya temannya itu kemudian, namun lagi-lagi Jinki tidak bergeming. “YA! Kau pingsan?—JINKI-YAA~!” temannya itu berteriak, sembari mengguncang-guncang pundak Jinki dengan tangan kirinya.
          “KIM KIBEOM…” Jinki menekan suaranya yang terdengar cukup geram begitu mengangkat kepalanya dari atas meja. Matanya berkilat, membuat orang di depannya seketika meringis begitu melihatnya.
          “Hhe,” namja dengan nametag bertuliskan Kim Kibeom pada seragamnya itu cengar-cengir akibat mendapat tatapan tajam oleh orang di hadapannya. Ia mengangkat salah satu tangannya dengan dua jari yang membentuk huruf ‘V’, “PEACE!” ucapnya kemudian.
          Jinki mendengus, membuang tatapan dari Ki Beom ke arah jendela. Perasaannya benar-benar suntuk sekarang. Wajahnya kusut.
          “Jinki-yaa~, kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak terima dengan bagaimana kau memperlakukan Hye Rim. Kau selalu saja tidak menghiraukannya dan sering membentaknya, padahal dia tidak bersalah, bahkan dia terlampau baik kepadamu.”
          “Aku hanya tidak suka dengan cara orang tuaku yang selalu memujinya  dan seolah-olah berusaha untuk membuatku dekat dengannya. Setiap kali mereka seperti itu, aku merasakan kebencian yang berlipat-lipat atas Hye Rim.” Jawab Jinki tanpa mengalihkan pandangannya. Kibeom yang mendengar penuturan Jinki menghembuskan nafas pelan.
          “Padahal dulu mereka tidak pernah memperlakukan Yoonhee seperti bagaimana mereka memperlakukan Hyerim dengan baik.”
          Kibeom menepuk pundak sahabat karibnya itu, membuat Jinki menoreh ke arahnya. Kibeom tersenyum, “Tapi perhatian Hyerim kepadamu jauh lebih baik dibandingkan Yoonhee.”
          “Aku tidak membutuhkan perhatian yang berlebihan, Kibeom~ah.” Sahut Jinki. Kibeom melepaskan tangannya dari pundak teman sebangkunya itu. Lalu mengangguk pelan, seolah-olah memahami apa yang sekarang sedang Jinki rasakan sebenarnya. Dan bersikap seperti pembicaraan tadi tidak pernah mereka bahas sebelumnya. Mereka saling terdiam di tempat hingga bel kembali berbunyi.
---
          Hyerim’s POV
          KLIIK!!!
          Bidikanku tepat lagi. Wajahnya kembali muncul di layar camera digitalku. Ia begitu tampan. Entahlah, aku tidak tahu kenapa aku menyukai raut wajahnya apabila sedang khusyuk membaca buku.
          Aku membalik badanku, bersandar pada tembok dekat pintu perpustakaan. Aku baru saja berhasil mencuri fotonya lagi. Aku mendapatkannya!
          Beberapa hari ini, aku hanya bisa memperhatikannya diam-diam di belakang. Aku tidak berani lagi menemuinya. Tapi bukan berarti aku berputus asa karena bentakannya waktu itu. Sama sekali bukan itu. Itu semua karena aku tidak ingin mengganggunya. Sebentar lagi dia akan menghadapi ujian kelulusan. Aku pikir dia harus belajar dengan tenang.
          Dua hari ini aku sudah mendapatkan lebih dari 30 fotonya. Semuanya terlihat sangat bagus. Dan itu tidak mustahil, dia memang tampan. Malah sangat tampan untukku.
          Aku sudah menyukainya lebih dari 10 tahun. Pertemuan kami beberapa bulan yang lalu bukanlah pertemuan pertama, tapi kami sudah bertemu sebelumnya. Waktu camera yang menggantung di leherku adalah camera hadiah ulang tahun dari ayahku saat aku menginjak umur 4 tahun.
          Sebenarnya aku sudah bisa menerka dia tidak akan mengingatku lagi. Walaupun di dalam hati ada harapan untuk dia bisa mengingat itu cukup besar. Namun, yang terjadi dia tidak mengacuhkanku. Bahkan ketika aku tersenyum kepadanya saat pertama kali aku menginjakkan kaki ke rumahnya, ia acuh begitu saja terhadapku. Itu benar-benar jauh dari apa yang kuharapkan. Tapi wajarlah, aku bisa menerimanya. Aku paham. Dan aku pikir, saat ini memang ujian besar untuk perasaanku. Aku yakin, aku pasti bisa melewatinya. Aku akan membuktikan, bahwa aku akan setia menunggunya untuk kembali mengingat pertemuan 10 tahun silam.
          “Hyerim~ah…” saat sedang asik-asiknya melihat-lihat hasil jepretanku, suara seseorang terdengar memanggil namaku. Aku mengalihkan pandangan dari camera digitial di tanganku, menoleh ke arahnya. Ternyata suara itu berasal dari sosok pemuda yang kukenal bernama Kim Kibeom. Dia sunbaeku, teman sekelasnya Jinki.
          Aku tersenyum ke arahnya, “Annyeong!” sapanya dengan kedua telapak tangan yang melambai. Ia tersenyum lebar sekali. Aku menyukai keramahannya setiap kali kami bertemu.
          “Annyeonghaseyo, Sunbae-nim.” Balasku dengan senyum yang tidak kalah lebar sembari merundukkan tubuhku sebagai penghormatan atas ia yang adalah kakak tingkatku di sini.
---
          “Rasanya sudah lama sekali tidak melihatmu, Hyerim~ah. Kau baik-baik saja, kan?” tanya Kibeom begitu sudah berhadapan dengan Hyerim. Hyerim mengangguk pasti.
          “Nde~, aku baik-baik saja.” Jawab Hyerim. Kibeom menjenjangkan sedikit lehernya untuk memfokuskan pandangan ke arah dalam ruangan perpustakaan. Hyerim yang sadar, segera mengikuti kemana arah pandangan Kibeom. Jinki masih berada di posisi yang sama dengan yang tadi. Ia duduk di meja dekat jendela. Masih terlihat khusyuk dengan buku-bukunya.
          “Kau, ingin menemui Jinki?” suara Kibeom bertanya, yang seketika saja langsung membuat Hye Rim kembali beralih fokus.
          Ia menatap bingung dengan tampang yang begitu polos, “Nde~?”
          Melihatnya Kibeomjadi terkekeh sendiri. “Kau ingin menemui Jinki, kan?”
          “A-annio~!” Hyerim menyambar cepat, “Aku tidak ingin bertemu dengannya, kok.”
          Kibeom berdehem, Hye Rim menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
          “Apa Jinki masih membentakmu?” pertanyaan Kibeom kali ini,  .. Hyerim kembali terperangah dibuatnya.
          “NDE?”
          “Aku pikir kita memang harus memiliki waktu khusus untuk berbicara berdua.” Ucap Kibeom. Hyerim terdiam di tempat. Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Ia tidak mungkin mengelak sekarang.
          “Minggu sore, kita bertemu di taman. Kau bisa, kan?” Hyerim terpaku beberapa saat, menimbang-nimbang dalam hati hingga akhirnya ia pun menganggukan kepala. Tanpa pertanyaan dan tanpa berpikir panjang lagi.
---



Rabu, 09 Januari 2013

All My Heart (Oneshot)

Title: All My Heart




Cast: Park Hye Rim
       Lee Donghae

          *Huaaa~ Ini efek galau gara-gara baca ceritanya si Donghae sama Ayahnya. Hhuu -___- … Bikin saya penyakit ngkhayal saya akut dan hasilnya jadi kayak gini, fanfiction galau. xD tapi semoga bisa dinikmati yak..
Happy reading^^

------------------------
           Dia mungkin baru saja mengenalku. Tapi aku sudah jauh lebih mengenalnya sebelum pertemuan itu terjadi. Aku pernah menangis hanya karena membaca cerita hidupnya. Ketika dia menceritakan semua tentang Ayahnya dan bagaimana perjuangan mereka. Aku tahu itu. Meskipun saat itu aku belum berada di sampingnya, tapi aku tidak pernah membiarkan ia menangis sendiri. Aku juga akan menitikan airmata apabila dia menangis. 
          Terserah siapapun jika ingin mengatai bahwa yang aku lakukan ini bodoh. Aku tidak akan peduli. Yang pasti aku hanya ingin menjadi sosok yang tidak membiarkan dirinya terpuruk sendiri. Aku ingin menjadi orang yang paling dekat dengannya. Ya, menjadi sosok adik dari seorang Lee Donghae adalah angan-anganku sedari dulu.
          Sejak kecil, aku sering kali iri dengan sepupuku hanya karena dia punya sosok kakak laki-laki. Ditambah lagi sang kakak sangat perhatian dengannya. Dia benar-benar beruntung aku pikir. Dan aku ingin seperti dirinya. Aku ingin mempunyai sosok Kakak di rumah yang bisa aku panggil dengan sebutan “Oppa”.
          Dan sosok Lee Donghae adalah sosok Abang yang ada dalam bayanganku semenjak kecil. Abang yang lembut, lucu, teguh dan penyayang. Semuanya ada pada diri Lee Donghae. Aku pikir akan sangat menyenangkan jika sekiranya aku bisa bercanda dengannya sebagaimana sepupuku itu dengan Abangnya. Yah, aku sangat mengharapkan itu terjadi. Sampai beberapa tahun kemudian…
          “Oppa, .. Apa tidak dingin?” tanyaku. Orang yang berjalan di sampingku menggelengkan kepalanya. Aku hanya menatapnya sekilas, lalu memperbaiki posisi payung yang kupegang agar bisa menaungi tubuh kami di bawahnya. “Jaketmu sudah habis basah seperti itu, .. kenapa tidak mengambil saja mantel yang tadi Eomma siapkan, eoh?”
          “Gwenchanayo, Hye Rim~ah. Oppa sudah biasa seperti ini.” Sahutnya. Aku memilih diam setelah itu dengan posisi masih setia memayungi tubuh Donghae yang mulai membersihkan daun-daun yang berjatuhan di makam Ayahnya.
          “Aku tidak bisa melihat jika kuburan Abeoji seperti ini.” Ucapnya yang setelah itu meminta bunga yang ada padaku untuk ia letakkan ke makam sang Ayah.  Lalu setelah itu mengambil posisi untuk memberi penghormatan.
          Aku hanya bisa menatap nanar dengan perasaan yang kecut. Bagaimana tidak, saat dulu di mana aku melihat ia yang menangis di depan kamera begitu menceritakan sang Ayah saja sudah berhasil membuatku ikut terisak, apalagi bila secara langsung seperti ini. Batinku tidak kuat melihat Donghae berusaha menyembunyikan airmatanya di tengah rinai-rinai hujan yang turun dan menetes begitu saja ke wajahnya.
          “Abeoji, ..” ucap Donghae memulai pembicaraannya begitu sudah mengambil posisi berjongkok di samping makam Ayahnya. Lalu berkata lagi, “Kau pasti senang, kan kalau anakmu yang paling tampan ini datang membawa calon menantu untukmu?”
          Aku berdecak begitu mendengarnya sembari memutar bola mata jengah.
          “Dia cantik, pengertian, lembut dan, … yah, pokoknya semua kriteria calon menantu idaman Abeoji semua ada pada dirinya. Aku yakin Abeoji pasti sangat menyukainya lalu mengatakan bahwa aku tidak salah pilih! Iya, kan? Ah, kita berdua memang satu hati.”
          “—Abeoji, apa kau tidak rindu denganku?”
          Seketika aku tertegun. Kenapa tiba-tiba pembicaraannya yang tadi menggebu-gebu malah berubah genre seperti ini? Aku yang masih pada posisi di belakangnya dengan menggatang payung ke atas, mencoba kembali memfokuskan pendengaranku.
          “Kau tahu impian terbesarku itu apa? Impian terbesarku adalah, aku ingin sekali Abeoji bisa hadir di pesta pernikahanku nanti. Duduk mendampingiku dengan stelan jas yang sama. Aku ingin Abeoji menggenggam tanganku atau menepuk-nepuk pundakku seperti yang sering Abeoji lakukan untuk menenangkanku dan menyemangatiku. Aku sangat merindukan semua itu, kau tahu kan?”
          Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan selain hanya mendaratkan telapak tanganku yang kosong ke pundak kanannya. Sementara airmataku merembes tak terkendali lagi. Suaranya yang tiba-tiba berubah parau itu membuat dadaku seperti ditikam mata belati tajam.          “Tapi, aku selalu yakin kalau Abeoji selalu di sampingku kapanpun dan bagaimanapun keadaanku. Abeoji akan selalu bersamaku seperti bagaimana janji Abeoji dalam surat.”
          “—Ah, iya, .. Aku hampir lupa untuk mengatakan maaf kepadamu karena aku tidak bisa membawa calon menantumu saat ini. Dia masih sibuk menyiapkan acara pernikahan nanti. Ya, kau taukan kalau urusan perempuan itu memang berlipat-lipat repotnya daripada kaum kita?” ia terkekeh sendiri, meskipun terdengar sengau. Sementara aku tidak lagi bisa mencibirnya selain hanya ikut tersenyum. “Tapi aku janji, aku pasti akan membawanya menemui Abeoji secepatnya! Oke, Abeoji?—Aku mencintaimu.”
          Donghae mengakhiri pembicaraannya dengan mencium batu nisan Ayahnya. Setitik airmata kembali jatuh ke pipinya saat ia memberikan penghormatan terakhir sebelum pulang dari ziarah hari ini.
          Aku menatapnya yang berbalik badan. Ia hanya tersenyum, lalu mempersilahkan aku mengambil posisinya. Aku mengangguk, lalu menyerahkan payung yang ada di tanganku kepada Donghae.
          “Annyeonghasimnikka, Abeoji.” Ucapku begitu merundukkan tubuhku sebagai penghormatan terhadap orang yang sangat dihormati oleh Donghae dan juga aku.
          “Kemarin begitu Donghae Oppa mengajakku untuk mengunjungimu, aku benar-benar senang sekali dan pastinya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu denganmu.”
          “—Abeoji, kau tidak marahkan jika aku memanggilmu seperti itu? aku hanya ingin sekali masuk dalam daftar anak-anakmu seperti Donghwa dan Donghae Oppa. Pasti akan menyenangkan sekali karena menjadi putri satu-satunya. Meskipun sebentar lagi Donghae Oppa akan membawa putri yang lain.” Ucapanku terhenti beberapa saat begitu mendengar suara kekehan dari belakang. Dan aku hafal sekali itu suara siapa. Tapi aku tidak peduli itu. Biarkan saja. Aku ingin bercerita banyak sekarang dengan Abeojiku.
          “Oh, iya. Ini adalah pertemuan ketiga kita. Waktu itu aku mengunjungimu bersama Eomma dan Donghwa Oppa. Kau pasti sudah mengingat wajahku kan sekarang? Ah, kau harus mengingatnya, karena sekarang aku sudah menjadi putri dalam daftar anak-anakmu. Hehehe…”
          “Abeoji, .. sebentar lagi Donghaemu yang manja itu akan menikah. Aku benar-benar tidak yakin apakah dia bisa menjadi suami dan Ayah yang baik atau tidak. Lihat saja kelakuannya masih kekanak-kanakan seperti itu—Aww!!”
          “Kau mau cari mati, eoh?” suara Donghae Oppa mengancamku begitu sudah berhasil mendaratkan jitakannya ke kepalaku. Sementara kekehan menyebalkan itu kembali terdengar. Aku tidak mau menoleh. Sedikitpun! Lebih baik aku meneruskan ceritaku. Bukannya Abeoji masih menanti kelanjutannya?
          “Nah, Abeoji lihat sendiri dia menjitakku, kan? Dia memang selalu menyebalkan seperti ini.” Ucapku. Sedangkan Donghae Oppa mendengus lirih di belakangku.
          “Tapi aku menghormatinya. Malah sangat-sangat menghormatinya. Dia persis seperti dirimu. Lembut, penyayang, hormat juga bijak. Aku bangga punya Oppa seperti dirinya. Dan Aku berjanji akan menjadi adik yang baik untuk Donghae-mu yang paling manja itu. Kau bisa percayakannya kepadaku, Abeoji.”
          “—Aku kira hanya ini yang bisa aku ceritakan sekarang. Aku harus kembali untuk membantu persiapan pernikahan mereka minggu depan. Kaulihat, bahkan anakmu yang paling tampan itu belum memotong rambutnya sama sekali! Keterlaluan! Tapi aku janji akan menceritakan lebih banyak nanti. Kita pasti bertemu lagi. Dan yang perlu kautahu, aku sangat menghormati dan menyayangimu.”     
          Aku berdiri, kembali memberi penghormatan sebagai tanda perpisahan hari ini. Lalu aku merasa seseorang menepuk pundakku dari belakang, begitu aku berbalik Donghae langsung memelukku erat, dan mulai terisak setelahnya.
          Bisa kurasakan tubuhnya yang sedikit bergetar begitu aku membalas memeluknya. Lalu memutuskan untuk menepuk-nepuk pundaknya sedikit memberi penenangan. Setelah mungkin merasa cukup, Donghae melepas pelukannya. “Gomawoyo, ..” ucapnya sengau. Aku mengangguk.
          “Ehhemm…” tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan di antara kami. Aku menoleh dan mendapati sosok berjaket putih dengan topi hitam melindungi kepalanya, berdiri sembari mengusap-usap tengkuknya dengan tangan. Aku memang sudah tahu bahwa ada sosok lain selain aku dan Donghae di sini sedari tadi, tapi aku hanya pura-pura tidak menghiraukannya.
          “Sejak kapan ada makhluk lain di sini, Oppa?” ucapku yang memilih melemparkan pertanyaan kepada Donghae. Sementara orang yang aku maksud itu melengos mendengarnya.
          Donghae terkekeh, “Aish, jangan seperti itu. Bagaimana pun dia yang sudah membuatmu pernah tidak bisa tidur satu malam, eoh?”
          Aku yang tidak ingin ucapan berbahaya dari mulut Donghae semakin berkelanjutan itu segera saja mendaratkan kepalan tanganku ke lengan atas tangannya. Ia mengaduh lirih sebentar kemudian kembali terkekeh-kekeh menyebalkan. Aku hanya bisa mendengus sekarang, sementara orang yang berdiri di antara kami itu semakin memperkecil matanya yang sipit. Seperti berusaha mencerna maksud ucapan sekilas Donghae tadi. Benar-benar menjengkelkan.
          “Oppa sengaja memintanya ke sini untuk menjemputmu.” Ucap Donghae kemudian begitu tawanya sudah mereda. “Oppa mungkin tidak bisa kembali ke Seoul bersamamu setelah ini. Jongwoon hyeong baru saja menelpon untuk hadir ke acara peresmian restourant barunya di Busan. Sementara Eonnimu meminta untuk kau segera di kembalikan agar membantunya mengukur gaun. Oppa tidak bisa mendampinginya hari ini, jadi—“
          “Arraseo, ..” ucapku sambil mengangguk-anggukan kepala karena tidak ingin mendengar penjelasan yang lebih panjang lagi. “Tapi kenapa harus dia yang menjemputku?” ucapku kemudian sambil melirik sosok namja berjaket putih itu yang tadinya tersenyum manis kini tiba-tiba berubah berkerut mukanya karena mendengar kata-kataku. Donghae lagi-lagi hanya bisa terkekeh.
          “Kau sudah bosan dengannya, eoh?”
          “Anni.” Sahutku, “Hanya saja jika dengannya aku merasa jantungku tidak pernah bekerja normal.”
          Seketika senyum itu pun kembali merekah lebar di wajahnya. Matanya yang sipit menjadi hanya seperti garis panjang yang menghiasi wajah putihnya. Aku terunduk mengulum senyum. Tidak tahu apakah ucapanku barusan terlampau dari kata basi. Tapi masa bodoh, .. menyenangkan hati orang pun sudah termasuk pahala bukan?
          “Nde, .. Oppa tahu. Bahkan seperti katamu waktu itu, .. coklat akan tiba-tiba terasa hambar hanya karena melihatnya tersenyum.” Timpal Donghae yang kali ini tidak bisa mencegah hawa hangat menjalari pipiku. Seperti ada listrik bertegangan rendah. Membuat aku terpaku di tempat tanpa bisa mengangkat wajah. Bagaimana merahnya sekarang wajahku pun, aku tidak bisa membayangkannya.
          “Jinjja, hyeong?” ucap namja itu yang setelahnya aku langsung menarik sebelah tangan Donghae untuk mengajaknya pergi. Tidak ingin ini menjadi semakin berkelanjutan yang akhirnya pasti aku yang menjadi bulan-bulanan mereka.
---
End
---