Title: Only Look At
Me
Author: Keiko Ai
Hoshiko
Cast: Ryu Hwa Young
( Hwa Young T-Ara)
Jun Jung Hyung (Jun
Hyung B2ST)
---
Mempertanyakan tentang bagaimana
sebenarnya perasaanmu, memang pernah, .. malah sering kali mengusik
keseharianku. Aku ragu, .. Cintamu apakah sebenarnya murni dari hati? Bahkan
dari pertama kau mengatakannya.
Ah, memang caramu menuturkannya
terkesan romantis. Dengan drama-drama TOP di TV-pun tidak bisa dibilang kalah.
Bunga gardenia hingga bunga mawar
sepertinya menjadi saksi kisah ini. Kisah di mana aku harus menekan
ketidak-nyamanan yang seperti tak pernah absen menjadi bintang tamu dalam
setiap pertemuan kencan kita.
Maafkan aku jika harus
membicarakannya. Hanya saja aku benar-benar sudah gondok menahan egomu yang
keseringan acuh dengan apa yang kulakukan apabila kita berdua jalan bersama.
Jangan bilang jika karena kesibukan.
Kau tidak terlihat dalam sebuah rutinitas, tapi terkesan seperti menjauhiku.
Jika menginginkan semua berakhir, mungkin tidak masalah. Daripada terus
menjalin ikatan tak berdasar pada kejujuran. Aku harap kau memahami ini. Cukup
dengan memahami bagaimana perasaanku, Jun Hyung~aa, .. Aku tidak butuh elakanmu
dan kata-kata manis seperti setiap kali aku mengutarakan tetang perasaanku,
keraguan, serta bagaimana letihnya aku menghadapi hubungan kita dan sikapmu.
---
Mempertanyakan hal itu berulang-ulang,
apa kau tak merasa jenuh? Dan jawaban yang kuberikan, tidak cukupkah membuatmu
yakin? Tolong jangan dengarkan kata-kata tak berisi seperti itu lagi, .. Cukup
lihat ke aku, dengar apa yang aku katakan, percaya aku, karena itu adalah yang
benar! Aku mencintaimu... Harus berapa kali aku mengatakannya lagi?
***
Tap, .. Tap, .. Tap, ...
Tas selempang itu bergoyang ringan di
sisi kanan tubuhnya yang menaiki tangga berkelok menuju ruang kelas yang ada di
lantai dua. Sampai sesuatu menghentikan langkahnya di sisa-sisa tanjakan tangga
yang terakhir. Hanya tersisa 3 anak tangga, setangkai bunga mawar merah muda
tergeletak di atas sebuah amplop putih kecil. Ia menghela nafas berat. Ini acap
kali terjadi. Saat ia benar-benar merasa sudah tidak tahan menekan emosinya,
bunga ini pasti muncul sebagai pencair. Dan bodohnya, ia tidak bisa mengelak,
bahwa itu cukup membuatnya kembali pada perasaan awal. Perasaan yang hanya
orang-orang yang memiliki kesetiaan, cukup untuk memahaminya.
Membungkuk sedikit, ia mencoba untuk
mengambil bunga itu yang berada di atas satu tingkat dari tempat kakinya
berpijak. Ia sudah tahu apa maksud suratnya, juga yakin siapa pengirimnya. Jadi
tanpa perlu membolak-balik amplop yang sudah berpindah ke tangannya itu pun, ia
sudah bisa menelisik. Ini sering terjadi, bahkan hampir 2 kali seminggu. Oh,
Tuhan... Terlalu hiperbolakah ini? , ..
Hari ini tidak ada latihan, soalnya
pertandingan tinggal 2 hari lagi. Kau tidak ada kegiatankan? Kita jalan-jalan,
bagaimana? Aku tunggu di tempat biasa, ne~?
Aku merindukanmu, Youngi~aa.
Saranghae^^
Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, Hwa
Young menghela nafas lemah.
---
Aku berpikir bahwa Tuhan menggariskan
aku dalam jalur tak pasti. Tidak pernah mendapat sesuatu yang akurat. Selalu
saja ragu akan sesuatu. Seperti hubungan ini dan apapun tentang kami. Apa yang
terjalin memang sebuah ikatan cinta. Tapi yang tercipta bukan keromantisan,
melainkan tanda tanya besar seputar perasaan masing-masing. Haruskah aku
berlutut memintanya kali ini? Tolong, jangan acuhkan aku.
---
Seperti apa yang diminta si pengirim
dalam surat tangga tadi, Hwa Young memenuhinya. Usai pelajaran terakhir
berakhir, ia berjalan menuju tempat yang dijanjikan, di depan kedai seberang
gerbang sekolahnya.
Hwa Young bisa melihat punggung Jun
Hyung di atas motor menunggunya. Seperti saat mereka melakukan janji
kemarin-kemarin. Semakin dekat, langkah Hwa Young memperlambat. Wajahnya
mendung diterpa angin pertengahan musim gugur tahun ini.
"Kau kenapa? Hey, Youngi~aa,
.." tanya Jun Hyung menelisik intens muka Hwa Young begitu sudah berdiri
di samping motornya. Seperti kondisi seperti ini baru pertama kali terjadi pada
Hwa Young, padahal sudah sering terjadi setiap kali mereka bertengkar. Dan itu
tidak bisa dihitung dengan jari, karena pertengkaran itu hampir selalu muncul
apabila mereka kencan. Hubungan yang aneh memang.
Hwa Young menggeleng lemas, seperti
tenaganya tersedot setiap kali berhadapan dengan Jun Hyung. Padahal baru
berhadapan, dan perang itu belum dimulai sebenarnya
"Kau masih marah?" Jun Hyung
bertanya lagi yang masih direspon hanya dengan anggukan oleh Hwa Young. Lalu
menghela nafas lemah, sebelum melanjutkan berbicara lagi, "Aku harap kau
tidak pernah mempermasalahkan komentar-komentar konyol seperti itu lagi. Dan
sekarang naiklah, pegang pinggangku, dan lupakan hal-hal tak penting yang
mengganggumu. Kkaja!"
"—Ah, ini pakai dulu."
Hwa Young menangguk seraya menyambut
apa yang disodorkan Jun Hyung. Helm hitam, yang setelahnya langsung ia kenakan
ke kepala. Berusaha menekan perasaannya, Hwa Young naik ke atas motor,
melingkarkan pergelangan tangannya di pinggang Jun Hyung erat. Kehangatan yang
benar-benar sangat ia rindukan saat Jun Hyung sibuk dengan rutinitas latihan
tenis-nya. Mungkin ada benarnya, tidak sepantasnya komentar-komentar konyol
dari orang tidak penting yang hanya untuk mendinginkan hatinya dalam hubungan
ia dan Jun Hyung bisa mengganggu pikirannya, toh, Jun Hyung masih bersedia di
sampingnya meski bisa dihitung dengan jari saat-saat mereka bersama selama 1
tahun setengah hubungan mereka terjalin. Ia pikir sekarang sudah saatnya ia
bisa berpikir sedikit dewasa menjadi seorang pacar dari atlet tenis andalan di
sekolah mereka.
Dan tak banyak yang bisa lakukan lagi
saat Jun Hyung menempelkan telapak tangan kirinya ke punggung tangan Hwa Young,
selain hanya menyandar ke punggung si namja. Pelukan itu terasa semakin hangat.
---
Hwo Young tersenyum kecil. Ia merasa
sedikit lebih baik saat ini. Semenjak Jun Hyung menggenggam tangannya hingga
mereka sampai di depan Cafe yang memang sudah biasa menjadi tempat mereka
berkencan.
Hwa Young mencoba menikmati suasana
sore musim gugur dengan mengetuk-ngetukan ringan jari telunjuknya di atas meja
tempat dimana sekarang ia menunggu Jun Hyung yang memesan minuman, sementara
matanya menerawang di keadaan luar jendela. Lalu lalang kendaraan bisa terlihat
matanya dan terpaan angin sore itu ia rasakan sejuk membelai pipinya.
'Seberapa lama kau bisa bertahan
dengan sikap Jun Hyung seperti itu? Kalian benar-benar terlihat tidak seperti
pasangan. Jun Hyung terlalu sibuk dengan urusannya, sementara melihat keadaanmu
sendiri, .. Aish, apa kau tidak miris melihat kondisimu sekarang? Lebih baik
akhiri saja hubunganmu dengannya, masih banyak lelaki yang bisa memperlakukanmu
lebih layak sebagai seorang yeojachingu.'
Hwa Young mendengus. Sekuat tenaga
sudah ia mengerahkan usaha untuk menghalau gangguan-gangguan dari ucapan
teman-temannya, tetap saja gagal. Suara komentar-komentar itu masih
terngiang-ngiang setiap kali ia mencoba menabahkan hatinya.
Sampai sebuah suara membuat ia
mengalihkan perhatiannya,
"Apa yang kau lihat, eoh?"
Jun Hyung datang dengan sebuah nampan
yang berisi dua gelas kaca dan 2 kaleng minuman soft drink, lalu duduk di
bangku yang berhadapan dengan sang kekasih.
Hwa Young tersenyum memperhatikan Jun
Hyung yang saat itu berusaha membuka penutup soft drink di tangannya. Menatap
wajah namja di depannya, .. Entahlah, ia merasa udara terasa begitu sangat
sejuk memenuhi sekitar tempatnya, membuat oksigen terasa begitu sangat lembut
ia hirup dan menyerbakan aroma harum yang tidak pernah ia rasakan selain berada
di sisi Jun Hyung.
Dengan senyum terkembang manis, Hwa
Young meraih gelas di nampan, lalu menyodorkannya kepada Jun Hyung, tetapi Jun
Hyung malah mengambil satu gelas lain yang tersisa dan menuangkan soft drink
itu ke sana, tidak mengindahkan Hwa Young yang meminta dituangkan olehnya.
Hwa Young menurunkan gelas dari
tangannya, sementara Jun Hyung sudah menghabiskan satu gelas terlebih dahulu.
Seperti tidak bisa membaca bagaimana kerutan cemberut memenuhi wajah Hwa Young,
Jun Hyung bersikap biasa saja begitu menyuruh kekasihnya untuk minum,
"Aku sudah memesankannya untukmu,
.. Ayo, minum..."
Hwa Young mengangguk lemas, mood-nya
kembali buruk karena sikap acuh Jun Hyung yang seperti tidak bisa memahami
keinginan pacaranya yang sebenarnya.
"Setelah ini kita ke tokonya Dong
Joon Hyeong bagaimana? Kau setuju?" ajak Jun Hyung yang sekali lagi hanya
dibalas oleh anggukan. Hwa Young benar-benar malas berkomentar---lebih tepatnya
tidak mau berkomentar---akan ucapan dan sikap lelaki itu. Ia benar-benar sudah
lelah berharap akan perhatian yang lebih dari seorang Jun Hyung. Dan mirisnya,
Jun Hyung tak pernah bisa mengetahui apa yang ia inginkan.
Usai merasa cukup mengunjungi cafe
yang memang sering menjadi tempat pertemuan mereka, keduanya pun memutuskan
untuk pergi ke toko baju dan aksesoris milik Doon Joon.
Sesampainya di sana, Doon Joon yang
adalah mantan pelatih Jun Hyung menyambut begitu mereka masuk ke dalam tokonya,
Dan sialnya, lagi-lagi Hwa Young
merasa dirinya kembali dikacangi oleh Jun Hyung yang asik bercengkrama dengan
sosok laki-laki bertubuh tinggi tegap itu, seperti sudah lupa dengan ia yang
berdiri di sampingnya sambil mengeluarkan rutukan-rutukan sebal dalam hati,
"Dia
pacarmu?" tanya Doon Joon seraya beralih menatapi gadis di samping kanan
Jun Hyung yang langsung dijawab oleh Jun Hyung dengan anggukan kepala.
"Ne,"
Jun Hyung menjawab, lalu mengaitkan lengan kanannya ke pinggang Hwa Young
bermaksud merapatkan jarak antara mereka berdua, "Dia pacarku."
"Cantik
sekali, .." komentar Doon Joon tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah
Hwa Young dengan raut wajah terpukau,
"—Ya, Jun
Hyung~ah, .. Apa kau tidak takut dengan membawanya ke sini aku akan merebutnya
darimu?" celetuk Doon Joon.
Jun Hyung
terkekeh, "Kau berani melakukannya?"
"Tentu
saja," balas Doon Joon, "Apapun usaha akan dikerahkan demi gadis
secantik dirinya,"
Mendengarnya
tiba-tiba Hwa Young merasa udara jadi tidak nyaman. Apalagi dengan tatapan yang
ia dapatkan dari laki-laki bernama Doon Joon itu,
Masih merasa akan
pergelangan tangan seseorang melingkar di pinggangnya, Hwa Young menatap Jun
Hyung seperti mengabarkan bahwa ia merasa jenuh di sini, tapi lagi-lagi Jun
Hyung bersikap seperti tidak bisa mengerti, ia malah terkekeh menanggapi ucapan
temannya tersebut,
"Kau bisa
mendapatkannya, tapi kau harus pastikan dulu bahwa dia benar-benar beralih
menyukaimu. Ah, aku pikir kau tidak bisa melakukannya." tantang Jun Hyung
yang sukses membuat Doon Joon tergelak, sementara Hwa Young di sampingnya
menyenggol sebal pinggang Jun Hyung dengan siku,
"Kau
apa-apaan sih?" gerutunya cemberut.
"Kau
meragukan kemampuanku Jun Hyung~ah?" ucap Doon Joon berusaha menahan
tawanya.
"Aku tidak
meragukan kemampuanmu, hanya saja aku meragukan kalau gadisku bisa lepas atau
tidak dariku."
Hwa Young memutar
bola matanya jengah. Namjanya lagi-lagi bertingkah narsis yang membuat ia
mendengar jadi mual sendiri.
"Arraseo,"
ucap Doon Joon di sela-sela tawanya yang lagi-lagi meledak, benar-benar membuat
udara semakin tak bersahabat untuk seorang Hwa Young, "Silahkan
melihat-lihat barang-barang di sini Tuan Muda Jun Hyung, .. Kami akan memberi
potongan harga spesial dikarenakan anda pendatang pertama hari ini yang membawa
pasangan ke toko kami," ucap Doon Joon mempersilahkan calon pembelinya itu
memilih-milih barang yang ada di tokonya.
Jun Hyung
mengangguk tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang dulu adalah teman
seperjuangnya di klub tenis sekolah, lalu melangkah dengan tangan yang tak
lepas mengandeng pinggang Hwa Young, menuju tempat aksesoris.
Lagi, .. Hwa
Young menatap Jun Hyung dengan tatapan tak mengira akan mendapat perlakuan
manis seperti ini dari namjachingunya yang terlalu dingin itu, ia merasa
sesuatu yang indah memenuhi dadanya, namun tidak lama, karena beberapa detik
kemudian, ketika mereka sudah memasuki ruang khusus aksesoris, Jun Hyung
melepas pegangannya dari pinggang Hwa Young, lalu melenggang sendiri ke arah
jejeran jam tangan, meninggalkan Hwa Young yang merasa saat itu semuanya pupus.
Keindahan bersama Jun Hyung tak pernah lama ia rasakan, hanya beberapa detik
saja, lalu berubah dingin kembali. Dalam hati Hwa Young merutuk untuk kesekian
kalinya dan itu bisa terpancar dari raut wajahnya yang mengerucutkan bibir
sebal.
Daripada berdiri
kikuk sendiri menunggu Jun Hyung selesai dengan aktifitasnya, Hwa Young
memutuskan melihat-lihat kebagian aksesoris wanita yang dimana di sana banyak
sekali terdapat hiasan-hiasan untuk rambut. Sampai hatinya merasa jatuh cinta
pada sebuah bando plastik berhias bunga mawar kecil berwarna pink, Hwa Young
pun meraihnya,
"Oppa,"
panggilnya.
Jun Hyung menoleh, "Wae~?"
"Bagaimana
menurutmu?" tanya Hwa Young menunjukkan apa yang ada di tangannya kepada
Jun Hyung, bermaksud meminta pendapat.
"Yeppo,"
sahut Jun Hyung singkat, kemudian beralih kepada sumber fokus awal kegiatannya,
sibuk dengan model jam tangan yang akan ia beli,
Hwa Young
cemberut untuk kesekian kalinya. Benar-benar, .. Jun Hyung tak pernah absen
membuat ia merasa gondok setiap kali mereka jalan berdua. Sikap dinginnya yang
sering kumat kapanpun dan dimana pun itu membuat Hwa Young merasa sangat
teracuhkan.
Setelah
mendapatkan apa yang dicari di ruang aksesoris, Jun Hyung mengajak Hwa Young
menuju ke ruang baju,
"Kau tidak
menginginkan apapun di sini?" tanya Jun Hyung begitu melihat Hwa Young
yang masih bertangan kosong, "Kau tidak jadi membeli bandonya?"
Hwa Young
menggeleng. Ia benar-benar sudah kehilangan nafsu untuk berbelanja sepertinya,
"Coba lihat
ini?" Hwa Young mengambil sepasang baju couple bertuliskan 'LOVE' pada
bagian dadanya, lalu menunjukkannya kepada Jun Hyung. Satunya berwarna merah
muda cerah dan satunya berwarna merah muda tipis,
"Hmm,"
Jun Hyung tampak berpikir, "Bagus sih, .. Kau suka?"
"Sepertinya
aku perlu lihat-lihat yang lain dulu," jawab Hwa Young seraya
mengembalikan baju itu ke tempatnya dan mencoba memilih-milih lagi baju lain
yang ada,
"Igon—"
ucap Hwa Young yang seketika itu jua tersendat. Matanya menerawang mencari
sosok Jun Hyung yang beberapa detik sebelumnya masih di sampingnya, namun
sekarang sudah tidak ada.
Kesebelan itu
kembali menguap begitu ia melihat sosok laki-laki muncul dari kamar ganti
menuju cermin besar yang ada di luar tirai, menatapi bayangannya dirinya yang
mengenakan kaos oblong biru di dalam cermin besar di depannya.
Hwa Young
benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi sekarang. Keinginannya untuk
memiliki baju pasangan dengan Jun Hyung sudah tidak ada lagi, selain hanya
ingin segera pergi dari sana dan meninggalkan laki-laki itu sendiri, bahkan ia
berpikir akan lebih baik jika mereka tak pernah bertemu lagi.
---
Sempat mencuri
perhatian seseorang, saat Hwa Young melangkah setengah berlari keluar dari toko
tersebut, namun Doon Joon tak bisa mengejar meski hatinya setengah mendesak,
tapi pembeli yang ada di sampingnya masih memintanya untuk melayani, dan sudah
barang tentu ia tak bisa meninggalkan.
Dengan perasaan
kecewa yang bertumpuk-tumpuk semenjak awal dari hubungan mereka, Hwa Young
merasa ini adalah titik terakhir pertahanannya. Ia sudah merasa bahwa sekarang
ia harus mengucapkan kata cukup untuk apa yang selama ini menekan batinnya.
Berlari membuat
perasaannya yang terguncang semakin jadi. Sebenarnya ia benar-benar tidak kuat
lagi saat itu, gravitasi seperti sudah memenuhinya dan terus saja
menarik-nariknya agar terjatuh begitu saja, tapi ia mencoba bertahan, meski
sesekali punggung tangannya menyeka cairan hangat di pipinya. Tak ada yang
mencegat, Jun Hyung tidak datang mengejar. Walaupun Hwa Young tidak
mengharapkannya lagi, karena ia pikir semua sudah cukup. Ia tidak mungkin
bertahan di samping sosok cuek seorang Jun Hyung, sementara di dalam hatinya ia
membutuhkan perhatian seseorang.
---
Cukup! Ini
terlampau memauakan.
Memintaku untuk selalu melihat ke arahnya, percaya dengan apa
katanya, hanya mendengar ucapannya, sementara ia yang tidak pernah muncul di
setiap kali aku membutuhkan ia mengucapkan kata-kata yang bisa kupercayai dan
mendengar ia membela hatiku yang hari demi hari mulai goyah untuk
mempertahankan hubungan ini.
Harus berapa kali aku mengatakan? Lihat aku, percaya aku, dengar
aku, .. Jangan pedulikan mereka yang tidak sepenuhnya mengetahui tentang
hubungan kita.
Hwa Young~aa, aku merasa benar-benar tersiksa setiap kali kau
mempertanyakannya dan lebih memilih tak acuh dari komentar-komentar tak
bersahabat itu. Jika kau peduli aku, tolong hapus keraguanmu tentang aku. Malam
ini kutunggu di bangku taman dekat telpon umum, .. Datanglah sebagaimana kita
kencan pertama.
Saranghae^^
---
---
Uap kecil mengepul keluar sesaat dari mulut Hwa Young setelah ia
selesai membaca tulisan di secarik kertas putih di tangannya itu, entah ini
sudah untuk yang keberapa kalinya.
Lalu matanya beralih ke arah jam tangan putih di pergelangan
tangannya. Pukul 21.45. Sudah lebih 1 jam dari perjanjian yang tertulis di
surat tangga yang lagi-lagi tadi pagi ia dapatkan sewaktu menuju kelas.
Ini malam pertama musim dingin. Hwa Young memegang kedua bahunya
dengan telapak tangan yang tersilang, mencoba menghalau rasa dingin yang
beberapa menit sudah membuat kakinya bergetar. Ia masih saja duduk di bangku
dekat telpon umum itu, menunggu seseorang yang lagi-lagi membuat Hwa Young
tersenyum miris dengan keadaannya yang tragis. Entahlah, Hwa Young pikir,
begitulah adanya ia sekarang.
Ia tidak bisa menghitung sudah berapa tetesan airmata yang jatuh
hanya karena seorang Jun Hyung, seperti ia tidak bisa menghitung bagaimana ia
yang selalu terperdaya untuk mempercayai kata-kata laki-laki itu yang ternyata
pada akhirnya malah luka yang dihasilkan di hatinya.
Hwa Young menghela nafas, lalu menghembuskannya sedikit
bergetar. Bukan karena udara yang menggigitnya, tapi karena berusaha menahan
apa yang sekarang sudah memenuhi rongga matanya. Tidak tahu bagaimana dengan
esok hari, apakah kata-kata "cukup" itu benar-benar terjadi, atau
malah kembali percaya pada seseorang yang akhirnya malah mengkhianati.
***
END~
---
SORRY KALAU
CERITANYA GAJE. INI FAN FICTION TEMEN GUE YANG REQUEST. MINTANYA TENTANG
KEPERCAYAAN YANG DIKHIANTI. JADINYA YAA, GINI AJA… SEDIKIT TERINSPIRASI DARI MV
B1A4 SIH. TAPI SEDIKIT AJA, KOQ .. HHEHEHE
GOMAWOYO~
