Kamis, 13 September 2012

Only Look At Me






Title: Only Look At Me

Author: Keiko Ai Hoshiko

Cast: Ryu Hwa Young ( Hwa Young T-Ara)

Jun Jung Hyung (Jun Hyung B2ST)

---
          Mempertanyakan tentang bagaimana sebenarnya perasaanmu, memang pernah, .. malah sering kali mengusik keseharianku. Aku ragu, .. Cintamu apakah sebenarnya murni dari hati? Bahkan dari pertama kau mengatakannya.
          Ah, memang caramu menuturkannya terkesan romantis. Dengan drama-drama TOP di TV-pun tidak bisa dibilang kalah.
          Bunga gardenia hingga bunga mawar sepertinya menjadi saksi kisah ini. Kisah di mana aku harus menekan ketidak-nyamanan yang seperti tak pernah absen menjadi bintang tamu dalam setiap pertemuan kencan kita.
          Maafkan aku jika harus membicarakannya. Hanya saja aku benar-benar sudah gondok menahan egomu yang keseringan acuh dengan apa yang kulakukan apabila kita berdua jalan bersama.
          Jangan bilang jika karena kesibukan. Kau tidak terlihat dalam sebuah rutinitas, tapi terkesan seperti menjauhiku. Jika menginginkan semua berakhir, mungkin tidak masalah. Daripada terus menjalin ikatan tak berdasar pada kejujuran. Aku harap kau memahami ini. Cukup dengan memahami bagaimana perasaanku, Jun Hyung~aa, .. Aku tidak butuh elakanmu dan kata-kata manis seperti setiap kali aku mengutarakan tetang perasaanku, keraguan, serta bagaimana letihnya aku menghadapi hubungan kita dan sikapmu.
--- 
          Mempertanyakan hal itu berulang-ulang, apa kau tak merasa jenuh? Dan jawaban yang kuberikan, tidak cukupkah membuatmu yakin? Tolong jangan dengarkan kata-kata tak berisi seperti itu lagi, .. Cukup lihat ke aku, dengar apa yang aku katakan, percaya aku, karena itu adalah yang benar! Aku mencintaimu... Harus berapa kali aku mengatakannya lagi?
***
          Tap, .. Tap, .. Tap, ...

          Tas selempang itu bergoyang ringan di sisi kanan tubuhnya yang menaiki tangga berkelok menuju ruang kelas yang ada di lantai dua. Sampai sesuatu menghentikan langkahnya di sisa-sisa tanjakan tangga yang terakhir. Hanya tersisa 3 anak tangga, setangkai bunga mawar merah muda tergeletak di atas sebuah amplop putih kecil. Ia menghela nafas berat. Ini acap kali terjadi. Saat ia benar-benar merasa sudah tidak tahan menekan emosinya, bunga ini pasti muncul sebagai pencair. Dan bodohnya, ia tidak bisa mengelak, bahwa itu cukup membuatnya kembali pada perasaan awal. Perasaan yang hanya orang-orang yang memiliki kesetiaan, cukup untuk memahaminya.
          Membungkuk sedikit, ia mencoba untuk mengambil bunga itu yang berada di atas satu tingkat dari tempat kakinya berpijak. Ia sudah tahu apa maksud suratnya, juga yakin siapa pengirimnya. Jadi tanpa perlu membolak-balik amplop yang sudah berpindah ke tangannya itu pun, ia sudah bisa menelisik. Ini sering terjadi, bahkan hampir 2 kali seminggu. Oh, Tuhan... Terlalu hiperbolakah ini? , .. 
          Hari ini tidak ada latihan, soalnya pertandingan tinggal 2 hari lagi. Kau tidak ada kegiatankan? Kita jalan-jalan, bagaimana? Aku tunggu di tempat biasa, ne~?
          Aku merindukanmu, Youngi~aa. Saranghae^^

          Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, Hwa Young menghela nafas lemah.
---
          Aku berpikir bahwa Tuhan menggariskan aku dalam jalur tak pasti. Tidak pernah mendapat sesuatu yang akurat. Selalu saja ragu akan sesuatu. Seperti hubungan ini dan apapun tentang kami. Apa yang terjalin memang sebuah ikatan cinta. Tapi yang tercipta bukan keromantisan, melainkan tanda tanya besar seputar perasaan masing-masing. Haruskah aku berlutut memintanya kali ini? Tolong, jangan acuhkan aku.
---
          Seperti apa yang diminta si pengirim dalam surat tangga tadi, Hwa Young memenuhinya. Usai pelajaran terakhir berakhir, ia berjalan menuju tempat yang dijanjikan, di depan kedai seberang gerbang sekolahnya.
          Hwa Young bisa melihat punggung Jun Hyung di atas motor menunggunya. Seperti saat mereka melakukan janji kemarin-kemarin. Semakin dekat, langkah Hwa Young memperlambat. Wajahnya mendung diterpa angin pertengahan musim gugur tahun ini.
          "Kau kenapa? Hey, Youngi~aa, .." tanya Jun Hyung menelisik intens muka Hwa Young begitu sudah berdiri di samping motornya. Seperti kondisi seperti ini baru pertama kali terjadi pada Hwa Young, padahal sudah sering terjadi setiap kali mereka bertengkar. Dan itu tidak bisa dihitung dengan jari, karena pertengkaran itu hampir selalu muncul apabila mereka kencan. Hubungan yang aneh memang.
          Hwa Young menggeleng lemas, seperti tenaganya tersedot setiap kali berhadapan dengan Jun Hyung. Padahal baru berhadapan, dan perang itu belum dimulai sebenarnya
          "Kau masih marah?" Jun Hyung bertanya lagi yang masih direspon hanya dengan anggukan oleh Hwa Young. Lalu menghela nafas lemah, sebelum melanjutkan berbicara lagi, "Aku harap kau tidak pernah mempermasalahkan komentar-komentar konyol seperti itu lagi. Dan sekarang naiklah, pegang pinggangku, dan lupakan hal-hal tak penting yang mengganggumu. Kkaja!"
          "—Ah, ini pakai dulu."
          Hwa Young menangguk seraya menyambut apa yang disodorkan Jun Hyung. Helm hitam, yang setelahnya langsung ia kenakan ke kepala. Berusaha menekan perasaannya, Hwa Young naik ke atas motor, melingkarkan pergelangan tangannya di pinggang Jun Hyung erat. Kehangatan yang benar-benar sangat ia rindukan saat Jun Hyung sibuk dengan rutinitas latihan tenis-nya. Mungkin ada benarnya, tidak sepantasnya komentar-komentar konyol dari orang tidak penting yang hanya untuk mendinginkan hatinya dalam hubungan ia dan Jun Hyung bisa mengganggu pikirannya, toh, Jun Hyung masih bersedia di sampingnya meski bisa dihitung dengan jari saat-saat mereka bersama selama 1 tahun setengah hubungan mereka terjalin. Ia pikir sekarang sudah saatnya ia bisa berpikir sedikit dewasa menjadi seorang pacar dari atlet tenis andalan di sekolah mereka.
          Dan tak banyak yang bisa lakukan lagi saat Jun Hyung menempelkan telapak tangan kirinya ke punggung tangan Hwa Young, selain hanya menyandar ke punggung si namja. Pelukan itu terasa semakin hangat.
---
          Hwo Young tersenyum kecil. Ia merasa sedikit lebih baik saat ini. Semenjak Jun Hyung menggenggam tangannya hingga mereka sampai di depan Cafe yang memang sudah biasa menjadi tempat mereka berkencan.
          Hwa Young mencoba menikmati suasana sore musim gugur dengan mengetuk-ngetukan ringan jari telunjuknya di atas meja tempat dimana sekarang ia menunggu Jun Hyung yang memesan minuman, sementara matanya menerawang di keadaan luar jendela. Lalu lalang kendaraan bisa terlihat matanya dan terpaan angin sore itu ia rasakan sejuk membelai pipinya.
          'Seberapa lama kau bisa bertahan dengan sikap Jun Hyung seperti itu? Kalian benar-benar terlihat tidak seperti pasangan. Jun Hyung terlalu sibuk dengan urusannya, sementara melihat keadaanmu sendiri, .. Aish, apa kau tidak miris melihat kondisimu sekarang? Lebih baik akhiri saja hubunganmu dengannya, masih banyak lelaki yang bisa memperlakukanmu lebih layak sebagai seorang yeojachingu.'
          Hwa Young mendengus. Sekuat tenaga sudah ia mengerahkan usaha untuk menghalau gangguan-gangguan dari ucapan teman-temannya, tetap saja gagal. Suara komentar-komentar itu masih terngiang-ngiang setiap kali ia mencoba menabahkan hatinya.
          Sampai sebuah suara membuat ia mengalihkan perhatiannya,
          "Apa yang kau lihat, eoh?"
          Jun Hyung datang dengan sebuah nampan yang berisi dua gelas kaca dan 2 kaleng minuman soft drink, lalu duduk di bangku yang berhadapan dengan sang kekasih.
          Hwa Young tersenyum memperhatikan Jun Hyung yang saat itu berusaha membuka penutup soft drink di tangannya. Menatap wajah namja di depannya, .. Entahlah, ia merasa udara terasa begitu sangat sejuk memenuhi sekitar tempatnya, membuat oksigen terasa begitu sangat lembut ia hirup dan menyerbakan aroma harum yang tidak pernah ia rasakan selain berada di sisi Jun Hyung.
          Dengan senyum terkembang manis, Hwa Young meraih gelas di nampan, lalu menyodorkannya kepada Jun Hyung, tetapi Jun Hyung malah mengambil satu gelas lain yang tersisa dan menuangkan soft drink itu ke sana, tidak mengindahkan Hwa Young yang meminta dituangkan olehnya.
          Hwa Young menurunkan gelas dari tangannya, sementara Jun Hyung sudah menghabiskan satu gelas terlebih dahulu. Seperti tidak bisa membaca bagaimana kerutan cemberut memenuhi wajah Hwa Young, Jun Hyung bersikap biasa saja begitu menyuruh kekasihnya untuk minum,
          "Aku sudah memesankannya untukmu, .. Ayo, minum..."
          Hwa Young mengangguk lemas, mood-nya kembali buruk karena sikap acuh Jun Hyung yang seperti tidak bisa memahami keinginan pacaranya yang sebenarnya.

          "Setelah ini kita ke tokonya Dong Joon Hyeong bagaimana? Kau setuju?" ajak Jun Hyung yang sekali lagi hanya dibalas oleh anggukan. Hwa Young benar-benar malas berkomentar---lebih tepatnya tidak mau berkomentar---akan ucapan dan sikap lelaki itu. Ia benar-benar sudah lelah berharap akan perhatian yang lebih dari seorang Jun Hyung. Dan mirisnya, Jun Hyung tak pernah bisa mengetahui apa yang ia inginkan.
          Usai merasa cukup mengunjungi cafe yang memang sering menjadi tempat pertemuan mereka, keduanya pun memutuskan untuk pergi ke toko baju dan aksesoris milik Doon Joon.
          Sesampainya di sana, Doon Joon yang adalah mantan pelatih Jun Hyung menyambut begitu mereka masuk ke dalam tokonya,
          Dan sialnya, lagi-lagi Hwa Young merasa dirinya kembali dikacangi oleh Jun Hyung yang asik bercengkrama dengan sosok laki-laki bertubuh tinggi tegap itu, seperti sudah lupa dengan ia yang berdiri di sampingnya sambil mengeluarkan rutukan-rutukan sebal dalam hati,
          "Dia pacarmu?" tanya Doon Joon seraya beralih menatapi gadis di samping kanan Jun Hyung yang langsung dijawab oleh Jun Hyung dengan anggukan kepala.
          "Ne," Jun Hyung menjawab, lalu mengaitkan lengan kanannya ke pinggang Hwa Young bermaksud merapatkan jarak antara mereka berdua, "Dia pacarku."
          "Cantik sekali, .." komentar Doon Joon tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Hwa Young dengan raut wajah terpukau,
          "—Ya, Jun Hyung~ah, .. Apa kau tidak takut dengan membawanya ke sini aku akan merebutnya darimu?" celetuk Doon Joon.
          Jun Hyung terkekeh, "Kau berani melakukannya?"
          "Tentu saja," balas Doon Joon, "Apapun usaha akan dikerahkan demi gadis secantik dirinya,"
          Mendengarnya tiba-tiba Hwa Young merasa udara jadi tidak nyaman. Apalagi dengan tatapan yang ia dapatkan dari laki-laki bernama Doon Joon itu,
          Masih merasa akan pergelangan tangan seseorang melingkar di pinggangnya, Hwa Young menatap Jun Hyung seperti mengabarkan bahwa ia merasa jenuh di sini, tapi lagi-lagi Jun Hyung bersikap seperti tidak bisa mengerti, ia malah terkekeh menanggapi ucapan temannya tersebut,
          "Kau bisa mendapatkannya, tapi kau harus pastikan dulu bahwa dia benar-benar beralih menyukaimu. Ah, aku pikir kau tidak bisa melakukannya." tantang Jun Hyung yang sukses membuat Doon Joon tergelak, sementara Hwa Young di sampingnya menyenggol sebal pinggang Jun Hyung dengan siku,
          "Kau apa-apaan sih?" gerutunya cemberut.
          "Kau meragukan kemampuanku Jun Hyung~ah?" ucap Doon Joon berusaha menahan tawanya.
          "Aku tidak meragukan kemampuanmu, hanya saja aku meragukan kalau gadisku bisa lepas atau tidak dariku."
          Hwa Young memutar bola matanya jengah. Namjanya lagi-lagi bertingkah narsis yang membuat ia mendengar jadi mual sendiri.
          "Arraseo," ucap Doon Joon di sela-sela tawanya yang lagi-lagi meledak, benar-benar membuat udara semakin tak bersahabat untuk seorang Hwa Young, "Silahkan melihat-lihat barang-barang di sini Tuan Muda Jun Hyung, .. Kami akan memberi potongan harga spesial dikarenakan anda pendatang pertama hari ini yang membawa pasangan ke toko kami," ucap Doon Joon mempersilahkan calon pembelinya itu memilih-milih barang yang ada di tokonya.
          Jun Hyung mengangguk tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang dulu adalah teman seperjuangnya di klub tenis sekolah, lalu melangkah dengan tangan yang tak lepas mengandeng pinggang Hwa Young, menuju tempat aksesoris.
          Lagi, .. Hwa Young menatap Jun Hyung dengan tatapan tak mengira akan mendapat perlakuan manis seperti ini dari namjachingunya yang terlalu dingin itu, ia merasa sesuatu yang indah memenuhi dadanya, namun tidak lama, karena beberapa detik kemudian, ketika mereka sudah memasuki ruang khusus aksesoris, Jun Hyung melepas pegangannya dari pinggang Hwa Young, lalu melenggang sendiri ke arah jejeran jam tangan, meninggalkan Hwa Young yang merasa saat itu semuanya pupus. Keindahan bersama Jun Hyung tak pernah lama ia rasakan, hanya beberapa detik saja, lalu berubah dingin kembali. Dalam hati Hwa Young merutuk untuk kesekian kalinya dan itu bisa terpancar dari raut wajahnya yang mengerucutkan bibir sebal.
          Daripada berdiri kikuk sendiri menunggu Jun Hyung selesai dengan aktifitasnya, Hwa Young memutuskan melihat-lihat kebagian aksesoris wanita yang dimana di sana banyak sekali terdapat hiasan-hiasan untuk rambut. Sampai hatinya merasa jatuh cinta pada sebuah bando plastik berhias bunga mawar kecil berwarna pink, Hwa Young pun meraihnya,
          "Oppa," panggilnya.
Jun Hyung menoleh, "Wae~?"
          "Bagaimana menurutmu?" tanya Hwa Young menunjukkan apa yang ada di tangannya kepada Jun Hyung, bermaksud meminta pendapat.
          "Yeppo," sahut Jun Hyung singkat, kemudian beralih kepada sumber fokus awal kegiatannya, sibuk dengan model jam tangan yang akan ia beli,
          Hwa Young cemberut untuk kesekian kalinya. Benar-benar, .. Jun Hyung tak pernah absen membuat ia merasa gondok setiap kali mereka jalan berdua. Sikap dinginnya yang sering kumat kapanpun dan dimana pun itu membuat Hwa Young merasa sangat teracuhkan.
          Setelah mendapatkan apa yang dicari di ruang aksesoris, Jun Hyung mengajak Hwa Young menuju ke ruang baju,
          "Kau tidak menginginkan apapun di sini?" tanya Jun Hyung begitu melihat Hwa Young yang masih bertangan kosong, "Kau tidak jadi membeli bandonya?"
          Hwa Young menggeleng. Ia benar-benar sudah kehilangan nafsu untuk berbelanja sepertinya,
          "Coba lihat ini?" Hwa Young mengambil sepasang baju couple bertuliskan 'LOVE' pada bagian dadanya, lalu menunjukkannya kepada Jun Hyung. Satunya berwarna merah muda cerah dan satunya berwarna merah muda tipis,
          "Hmm," Jun Hyung tampak berpikir, "Bagus sih, .. Kau suka?"
          "Sepertinya aku perlu lihat-lihat yang lain dulu," jawab Hwa Young seraya mengembalikan baju itu ke tempatnya dan mencoba memilih-milih lagi baju lain yang ada,
          "Igon—" ucap Hwa Young yang seketika itu jua tersendat. Matanya menerawang mencari sosok Jun Hyung yang beberapa detik sebelumnya masih di sampingnya, namun sekarang sudah tidak ada.
          Kesebelan itu kembali menguap begitu ia melihat sosok laki-laki muncul dari kamar ganti menuju cermin besar yang ada di luar tirai, menatapi bayangannya dirinya yang mengenakan kaos oblong biru di dalam cermin besar di depannya.
          Hwa Young benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi sekarang. Keinginannya untuk memiliki baju pasangan dengan Jun Hyung sudah tidak ada lagi, selain hanya ingin segera pergi dari sana dan meninggalkan laki-laki itu sendiri, bahkan ia berpikir akan lebih baik jika mereka tak pernah bertemu lagi.
---
          Sempat mencuri perhatian seseorang, saat Hwa Young melangkah setengah berlari keluar dari toko tersebut, namun Doon Joon tak bisa mengejar meski hatinya setengah mendesak, tapi pembeli yang ada di sampingnya masih memintanya untuk melayani, dan sudah barang tentu ia tak bisa meninggalkan.
          Dengan perasaan kecewa yang bertumpuk-tumpuk semenjak awal dari hubungan mereka, Hwa Young merasa ini adalah titik terakhir pertahanannya. Ia sudah merasa bahwa sekarang ia harus mengucapkan kata cukup untuk apa yang selama ini menekan batinnya.
          Berlari membuat perasaannya yang terguncang semakin jadi. Sebenarnya ia benar-benar tidak kuat lagi saat itu, gravitasi seperti sudah memenuhinya dan terus saja menarik-nariknya agar terjatuh begitu saja, tapi ia mencoba bertahan, meski sesekali punggung tangannya menyeka cairan hangat di pipinya. Tak ada yang mencegat, Jun Hyung tidak datang mengejar. Walaupun Hwa Young tidak mengharapkannya lagi, karena ia pikir semua sudah cukup. Ia tidak mungkin bertahan di samping sosok cuek seorang Jun Hyung, sementara di dalam hatinya ia membutuhkan perhatian seseorang.
---
          Cukup! Ini terlampau memauakan.
Memintaku untuk selalu melihat ke arahnya, percaya dengan apa katanya, hanya mendengar ucapannya, sementara ia yang tidak pernah muncul di setiap kali aku membutuhkan ia mengucapkan kata-kata yang bisa kupercayai dan mendengar ia membela hatiku yang hari demi hari mulai goyah untuk mempertahankan hubungan ini. 
Harus berapa kali aku mengatakan? Lihat aku, percaya aku, dengar aku, .. Jangan pedulikan mereka yang tidak sepenuhnya mengetahui tentang hubungan kita.
Hwa Young~aa, aku merasa benar-benar tersiksa setiap kali kau mempertanyakannya dan lebih memilih tak acuh dari komentar-komentar tak bersahabat itu. Jika kau peduli aku, tolong hapus keraguanmu tentang aku. Malam ini kutunggu di bangku taman dekat telpon umum, .. Datanglah sebagaimana kita kencan pertama.
Saranghae^^ 

 ---
Uap kecil mengepul keluar sesaat dari mulut Hwa Young setelah ia selesai membaca tulisan di secarik kertas putih di tangannya itu, entah ini sudah untuk yang keberapa kalinya.
Lalu matanya beralih ke arah jam tangan putih di pergelangan tangannya. Pukul 21.45. Sudah lebih 1 jam dari perjanjian yang tertulis di surat tangga yang lagi-lagi tadi pagi ia dapatkan sewaktu menuju kelas.
Ini malam pertama musim dingin. Hwa Young memegang kedua bahunya dengan telapak tangan yang tersilang, mencoba menghalau rasa dingin yang beberapa menit sudah membuat kakinya bergetar. Ia masih saja duduk di bangku dekat telpon umum itu, menunggu seseorang yang lagi-lagi membuat Hwa Young tersenyum miris dengan keadaannya yang tragis. Entahlah, Hwa Young pikir, begitulah adanya ia sekarang.
Ia tidak bisa menghitung sudah berapa tetesan airmata yang jatuh hanya karena seorang Jun Hyung, seperti ia tidak bisa menghitung bagaimana ia yang selalu terperdaya untuk mempercayai kata-kata laki-laki itu yang ternyata pada akhirnya malah luka yang dihasilkan di hatinya.
Hwa Young menghela nafas, lalu menghembuskannya sedikit bergetar. Bukan karena udara yang menggigitnya, tapi karena berusaha menahan apa yang sekarang sudah memenuhi rongga matanya. Tidak tahu bagaimana dengan esok hari, apakah kata-kata "cukup" itu benar-benar terjadi, atau malah kembali percaya pada seseorang yang akhirnya malah mengkhianati.
***
END~
---
SORRY KALAU CERITANYA GAJE. INI FAN FICTION TEMEN GUE YANG REQUEST. MINTANYA TENTANG KEPERCAYAAN YANG DIKHIANTI. JADINYA YAA, GINI AJA… SEDIKIT TERINSPIRASI DARI MV B1A4 SIH. TAPI SEDIKIT AJA, KOQ .. HHEHEHE
GOMAWOYO~

         
         


A Cup Of Ice Cream (Penjelasan) B


Aku tidak bisa. Entahlah, aku tidak tahu kenapa. Tapi ini benar-benar sulit. Untuk memberitahunya akan keadaanku, aku tidak mampu membayangkannya bagaimana.”
“Ini sama saja menyakitinya dua kali lipat Chae Rin~ah.”
“Kyu Hyun-ssi, aku mohon. Ini hanya sekali, yang pertama dan yang terakhir aku perlu bantuanmu. Jebal… dowajusaeyo.”
“Neon… Jincha~”
“Terserah kau mau mengataiku bagaimana. Aku memang hampir gila hanya karena memikirkan bagaimana nanti jika harus menerima bahwa aku akan kehilangan semua ingatanku. Yang berarti aku juga akan melupakan semua tentangnya dan kami berdua. Aku pikir, lebih baik jika operasi nanti dinyatakan gagal dan aku tidak bisa diselamatkan.”
“Aku bahkan tidak mengerti bagaimana jalan pikiranmu, Chae Rin~ah…”
***
“Kyu Hyun~ah. Kau bisa mengantarkanku ke butik?“

“Mianhae, sepertinya-“

“Ah, algesseoyo. Aku mengerti…”

Tampak gurat kekecewaan pada wajah yeoja di samping Kyu Hyun, menyadari itu, dengan segara Kyu Hyun meraih tangannya, “Ji Hye~yya…” ucapnya dengan tatapan mata yang dalam, “Kau marah?”

“Anni!” sahut Ji Hye, “Sudahlah. Aku bisa sendiri, kok. Kau selesaikan saja urusanmu.” Lalu tersenyum tulus, membuat Kyu Hyun merasa benar-benar tidak nyaman, “Ah, Kyu Hyun~ah. Aku harus segera pergi sepertinya—Jangan memasang wajah seperti itu. Aku pergi dulu, ne~?”

Kyu Hyun membuang nafas sebelum menganggukkan kepalanya, mengiyakan Ji Hye yang melepaskan genggaman tangannya untuk pergi.

Sepeninggal Ji Hye dari hadapannya, Kyu Hyun merasakan ketidak-beresan suasana hidupnya akhir-akhir ini bertambah. Dia bukan seorang tunanetra yang tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Ji Hye begitu ia tidak bisa memenuhi keinginannya untuk sekedar diantarkan ke butik tempat Ji Hye bekerja. Ia bisa menangkap itu dan tentu saja ini semua membuatnya merasa benar-benar tidak nyaman. Lagi-lagi Kyu Hyun hanya bisa menarik nafas begitu menatap arah pergi sang yeoja yang tak terlihat lagi punggungnya.

“Mianhae, chagi~yya.” Desahnya lemah di sela-sela hembusan nafasnya.
---
Kyu Hyun sudah siap di atas motor sport berwarna biru tua miliknya di depan gerbang universitas. Sampai seseorang datang dengan langkah setengah berlari mendekat ke arahnya.

“Maafkan aku, lagi-lagi membuatmu menunggu.” Ucap orang di depan Kyu Hyun itu dengan nafas terengah-engah.
Kyu Hyun mengambil sebuah helm berwarna hitam yang tersangkut di kaca spion motornya, lalu menyodorkannya kepada orang itu, “Ini! Pakailah!”

“Ah, ne~”

“Chae Rin~ah, kau yakin dengan rencana ini?”

Sejenak Chae Rin terdiam. Ia baru saja selesai mengenakan helm ke kepalanya dan bersiap untuk naik ke motor, tapi mendengar pertanyaan Kyu Hyun, ia jadi terhenti. “—Aku sangat berharap jika kau mau memikirkan semua ini lagi.”

“Kau sudah bersedia membantuku. Jadi tinggal jalani saja apa yang sudah direncanakan. Aku tidak mengambil keputusan yang perlu dipikirkan dua kali!” jawab Chae Rin yang dengan segera naik ke atas motor.

Kyu Hyun yang tidak bisa menyahut lagi, kali ini hanya bisa menghela nafas panjang. Lalu menghidupkan motornya dan membawanya ke tempat yang sudah diberitahukan Chae Rin lewat SMS saat mata kuliah Kang saem tadi berlangsung.

Sementara di sana… Di balik pohon besar yang berada di seberang jalan, seseorang memperhatikan dua manusia yang kini sudah melaju dengan motornya. Matanya tampak berkaca-kaca, sementara tangannya meremas bajunya pada bagian dada. Seperti tidak percaya dengan apa yang sudah ia amati sedari tadi.
---
Kyu Hyun’s POV
Ini boleh dibilang seperti drama… Saat seseorang yang sudah mendapat janji bertemuan di sebuah taman—tempat dimana dulu ia meresmikan hubungannya dengan kekasihnya— tersenyum lebar begitu melihat sang kekasih yang ditunggu itu hadir tanpa tahu maksud dari kedatangan itu sebenarnya. Disongsongnya orang itu dengan senyuman termanis, lalu mengatakan kalau hari ini adalah hari spesial, karena itu ada sesuatu yang spesial pun yang ingin ia tunjukkan. Si kekasih masih menunggu dalam kebingungan sampai orang itu mengeluarkan sebuah kotak persegi kecil berwarna merah yang rupanya berisi sepasang cincin platina asli.

Menyematkan cincin itu ke jari sang kekasih dan ia sendiri, lalu memberi kecupan hangat pada dahinya, sampai sebuah kata “putus” membuatnya seperti tersambar petir pada sore hari yang cerah. Benar-benar mengejutkan, dan… Ah, IYA! Ini semua terkesan drama sekali memang. Tapi aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa bisa-bisanya aku menjadi salah satu tokoh dari skenario konyol ini?

Aku beranjak dari tempat pengintaianku, menuju motor yang kuparkir di depan. Beberapa menit menunggu, yeoja itu datang sambil menyeka air matanya dengan sebelah tangan. Aku ingin merutuk. Ini sebuah permainan bodoh! Dan parahnya, aku tidak bisa menghentikan semuanya. Bahkan tak bisa membantah begitu orang yang sudah ada di belakangku itu, menyuruhku untuk segera pergi.

Maafkan aku, atas kebohongan yang konyol ini. Terutama untuk dia yang sudah kukenal dengan baik. Adik tingkatku, Lee JinKi.

“Mianhae~”

Dan kurasakan pergelangan tangan seseorang melingkar di pinggangku. Saling terkait dan sangat erat.
---

Menggantungkah eposide drama ini? Ah, aku tidak tahu! Hanya saja aku ragu untuk tetap bermain di dalamnya. Sudah lebih 1 minggu aku tidak bertemu dengan seorang Lee Chae Rin, juga tidak mendapat apapun info tentangnya. Ini berlangsung semenjak kejadian di atap kampus waktu itu. Aku benar-benar menyesal…

Aku menghempaskan tubuhku begitu saja ke atas tempat tidur. Masalah Ji Hye yang akhir-akhir ini berubah dingin dan sulit diajak bicara juga membuat bebanku terasa bertambah 10x lipat.

Sampai handphone yang kuletakan di atas meja kecil samping tempat tidur bergetar. Aku bangkit untuk membaca isinya yang ternyata setelah kubuka adalah dari Chae Rin.

From: Lee Chae Rin
        Lusa aku akan menjalani operasi pengangkatan. Aku harap kau bisa datang sebelum aku memasuki ruangan.
---
Author’s POV

        Hujan rintik membasahi bumi pagi itu. Keadaan langit hitam. Jam sudah menunjukkan pukul 10 lebih, tapi matahari belum juga menampakan diri.

Kyu Hyun melihat tetesan-tetesan kecil dari langit itu menabrak jendela rumah sakit. Semakin banyak dan bertambah setiap detiknya. Membuat kabur setiap pandangan yang mengarah ke keadaan luar.

Ia sudah berapa kali menghela nafas begitu memandangi apa yang sekarang ada dalam genggamannya.

“Maaf kalau harus meminta bantuanmu lagi. Hehehe… Tapi kau tidak keberatan, kan? Tidak susah, kok. Hanya memberikan surat ini untuk Ibuku apabila nanti aku sudah selesai dikuburkan, dan… Tolong kembalikan cincin ini kepada JinKi.”
---
“Kyu Hyun~ah! Bagaimana dengan Chae Rin? Kau tidak berbohong?”

Kyu Hyun melengos, menatap empat namja baru saja sampai di hadapannya dengan berbondong-bondong dan langkah yang tergopoh-gopoh itu. Salah satu dari mereka langsung melemparkan pertanyaan yang… entahlah, mendengarnya saja membuat mood Kyu Hyun bertambah buruk.

Begitu berniat menyahut, namun tidak sempat karena Dong Hae yang adalah teman sekelasnya itu menyerobot dengan pertanyaan yang lain,
“Orang tuanya di mana?”

“Chae Rin sudah masuk ruang operasi. Dan orang tuanya… Dia berpesan untuk jangan menghubungi mereka sebelum semuanya selesai.”

“MWO?” kaget empat namja di depannya itu serempak dengan ekspresi wajah yang sama.

“Lalu? Di mana ruangannya sekarang?” Ki Bum bertanya lagi.

“Ikuti aku!”
---

Empat orang namja itu terlihat hanyut dalam kerisauan satu-persatu. Duduk di bangku tunggu depan ruang operasi dengan gaya masing-masing. Ada yang tertunduk menatapi ujung sepatunya, menempelkan kedua siku tangan di atas lutut sementara telapak tangan menutup wajah, juga ada yang bersandar pada punggung kursi dengan tangan yang bersilang di dada.

Kyu Hyun menatap jengkel namja satu-satunya yang kini sedang mondar-mandir di hadapan mereka. Menggiggit jari-jari tangannya, lalu berhenti mendadak, “Jin Ki… Dia tahu ini?”

Mendengarnya, Kyu Hyun tersentak. Sedangkan 4 namja itu menatapnya dengan tatapan menuntut untuk mendapat jawaban.

Kyu Hyun menggeleng lemas, “Dia tidak tahu.”

“MWO?”

“—Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa kau menjadi satu-satunya yang tahu tentang Chae Rin?”

Lagi-lagi, namja yang bernama Kim Ki Bum itu membombardirnya dengan berbagai pertanyaan yang kali ini terdengar sedikit tidak enak di telinga Kyu Hyun.

“YA! Apa maksudmu? Tentang penyakit Chae Rin, bukan hanya aku yang mengetahuinya. Mustahil jika dokter yang sekarang mengoperasinya juga tidak mengetahui tentang hal ini!”

Aish, kenapa jadi kekanak-kanakan seperti ini? Entahlah… Dalam situasi seperti ini, Kyu Hyun benar-benar kalut.

“Sudah, sudah.” Sela Dong Hae, mencoba menyetabilkan suasana sembari menepuk-nepuk ringan pundak Kyu Hyun di sampingnya, “—Yesung~ah, kau bisa menghubungi Jin Ki, kan?”

Mendengar kalimat Dong Hae yang mengarah untuknya, Yesung menganggukan kepala. Kemudian mengeluarkan handphonenya dari saku, mencari nomer Jin Ki dan menghubunginya, sampai saat terdengar nada tunggu Yesung berjalan mencari tempat untuk berbicara.
---

Kyu Hyun’s POV

Beberapa menit setelah kembalinya Yesung, suasana kembali hening sekarang. Jin Ki sudah diberi tahu. Sementara Ki Bum kini sudah menghentikan tingkahnya yang mondar-mandir seperti setrika itu, menjadi berdiri dengan punggung bersandarkan tembok.

Aku menghela nafas. Baiklah! Hari ini akan ada perombakan skenario yang menjadikan kebohongan itu terbongkar. Cantik sekali! Dalam keadaan yang darurat seperti ini. Berhasil membuat aku kehabisan akal. Lalu melampiaskan apa yang bercampur aduk dalam benakku itu dengan mengusak-usak rambut sampai berantakan. Dong Hae sudah berapa kali menenangkan, tapi tetap saja hatiku merutuki akan apa yang sekarang terjadi. Kenapa harus ada perencanaan konyol itu? Yeoja yang benar-benar membuatku tidak habis pikir bagaimana sebenarnya jalan pikirannya. Apa ini memang adalah efek samping dari penyakitnya? Lalu aku… Demi Tuhan! Aku masih tidak mengerti kenapa aku bisa terseret dalam alur ini?

“Kau mau kemana?” salah seorang dari mereka bertanya, begitu aku melangkah meninggalkan kursi yang tadi kududuki.
Aku menatapnya, namja bertubuh paling pendek di antara kami, “Mencari angin.” Jawabku singkat yang setelahnya langsung melanjutkan langkah, berniat mencari tempat yang sedikit terbuka.

Namun beberapa meter saja, aku mendadak menghentikan langkah. Seorang namja yang tampak acak-acakan tatanan rambutnya juga wajah yang kentara sembab, kini turut menghentikan langkah begitu tatapannya menubrukku, kemudian menundukan wajah. Nafasnya terengah-engah dengan sebelah tangan menggapai tembok di sampingnya, berniat meneruskan langkahnya yang gontai. Namun dengan sigap aku menahan pergelangan tangannya yang lain.
Okay! Kebohongan konyol ini akan berakhir.

Aku merogoh saku jaket tebalku, di mana tadi aku mengamankan barang titipan Chae Rin sebelum memasuki ruang operasi.

Setelah merasa siap untuk menyerahkannya dan menjelaskan semuanya kepada bocah laki-laki di depanku ini, aku mencoba membuka telapak tangannya yang mengepal, lalu meletakan sesuatu yang semula berada dalam jaketku ke telapaknya, “Apapun yang sudah ia katakan untuk menyakiti hatimu waktu itu, semuanya bohong. Dan aku sebenarnya merasa sangat berdosa karena ikut bermain dalam kebohongan itu… Tapi percayalah, alasannya melakukan ini semua karena ia begitu mencintaimu. Dia malah lebih memilih untuk mati daripada terus hidup tapi kehilangan semua ingatannya dan semua hal tentang kalian. Dia sangat mencintaimu, JinKi~ssi.”
---

Seperti apa yang sudah kukatakan, kebohongan ini berakhir. Selayaknya skenario yang Tuhan ciptakan untuknya, ini telah menjadi episode terakhir untuk seorang malaikat masa kecilku. Aku tidak bisa mendekat. Hanya bersembunyi di sini… di balik tembok ujung koridor. Menyaksikan scene terakhir yang memilukan. Sebelum merasa benar-benar lemah hingga gravitasi menguasaiku dan membuatku jatuh begitu saja. Masih bersandar pada tembok, aku menepuk-nepuk dadaku yang setiap detik terasa semakin sakit.

Skenario konyol yang diciptakan seseorang yang mencoba untuk terlihat baik-baik saja di sisa pertahanan terakhirnya. Menutupi tentang apa yang selama ini membuatnya sakit, agar orang-orang disekitarnya tidak ikut merasakan.
Hebat! Kau benar-benar mengajariku tentang berartinya sebuah makna dari setiap helaan nafas, Lee Chae Rin~ssi…
***

Tersadar dari apa yang beberapa menit sudah membuatnya mengembara pada masa lalu, Kyu Hyun merasakan sebuah getaran yang membangunkannya. Ia menatap layar touchscreen android miliknya yang ia biarkan tergeletak di meja, sebelum memutuskan untuk memungutnya. Ia memencet tombol answer seteleh terlebih dahulu mengembalikan pigura kecil di tangannya tadi kembali ke tempat semula.

“Yeobosaeyo?”

“Ah, Hyeong~ah. Kau sedang sibuk?” terdengar jawaban dari speaker android Kyu Hyun.

“Tidak… Kenapa?”

“Bisakah kita bertemu di tempat biasa?”

“Nde~” sahut Kyu Hyun, “Sekarang kau di mana?”

“Aku sudah menunggumu di sini, Hyeong.”

“Ah, tunggulah. Aku segera ke sana.”
***

Author POV’s

Kyu Hyun berjalan memasuki café yang berada tidak terlalu jauh dari rumahnya, masih pada kawasan Apgujeong. Matanya menangkap sosok berjaket coklat di pojok ruangan cafe yang saat ini tidak begitu ramai, tengah duduk ditemani secangkir espresso. Senyum merekah di wajah orang tersebut begitu menyadari kehadiran Kyu Hyun di hadapannya.
“Ah, Hyeong~ Kau sudah datang. Duduk Hyeong.”

Kyu Hyun mengangguk, membalas senyumnya, “Kau juga penyuka espresso kan, Hyeong~? Aku akan memesankannya.” Ucap namja di hadapannya itu lagi, kemudian dengan segera melambaikan tangannya kepada salah satu pelayan wanita.

“Kau mengajakku ke sini bukan hanya untuk menemanimu menghabiskan secangkir espresso, kan?” tanya Kyu Hyun yang membuat namja di depannya itu menyunggingkan senyum tipis.

“Anni.”

“Wajahmu selalu saja begitu. YA! Jin Ki~ah, sudah berapa kali kukatakan, kalau ada masalah jangan dipendam.”
Tampak Jin Ki melemparkan pandangannya ke arah luar, melalu jendela kaca bening di samping mereka, lalu menghela nafas, membuat asap kecil terlihat mengepul keluar dari mulut dan lubang hidungnya.

“—Masalah dengan Ayahmu?” tanya Kyu Hyun seperti bisa menebak apa sebenarnya yang membuat suasana wajah namja di hadapannya itu mendung, seperti keadaan cuaca hari ini.

Jin Ki beralih menatap wajah Kyu Hyun, lalu mengangguk kecil, “Abeoji menuntut hal itu lagi.” Ucapnya dengan mimik wajah yang semakin tak bersemangat untuk hidup. Mendengarnya, Kyu Hyun membuang nafas kasar.

“Lalu? Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku meminta Abeoji menyetujui permohonanku untuk mengadopsi anak.” Sahut Jin Ki yang berhasil mengundang keterkejutan Kyu Hyun,

“MWO?”

Jin Ki membuang pandangan kembali ke jalan luar, “Ini adalah cara terakhir untuk mewujudkan keinginan Abeoji. Mengingat janjiku, aku tidak mungkin memenuhi keinginan beliau untuk segera menikah.”

“Ayahmu menyetujuinya?—Ah, ye~ gamsahamnida…” Kyu Hyun menganggukan kepala begitu seorang pelayan datang meletakan secangkir espresso ke meja di depannya. Lalu kembali beralih menatap Jin Ki.

“Untuk saat ini aku belum menerima respon.” Jawab Jin Ki sepergi pelayan itu dari hadapan mereka berdua.

“Kau sama saja seperti Chae Rin.” balas Kyu Hyun “Aneh! Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana jalan pikiran kalian.”

“—Aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya aku yang menjadi Ayahmu.” Celetuknya kemudian meraih cangkir espresso di hadapannya dan menyeruputnya perlahan-lahan. Sementara Jin Ki tersenyum kecut memandangi cangkir di hadapannya dengan tatapan hambar.
---
“Annyeonghasimnikka, Ahjussi~” sapa seorang bocah laki-laki di hadapannya sembari membungkukkan badan. Saat itu Kyu Hyun baru saja turun dari mobilnya hendak menuju kantor tempat sekarang ia bekerja sebelum nantinya benar-benar harus menerima jabatan sebagai penerus CEO di Shinhaedong Corp. Langkah Kyu Hyun terhenti begitu seorang namja dan seorang bocah laki-laki datang menyambanginya.

Awalnya Kyu Hyun tidak percaya dengan apa yang kini ada di depannya. Jin Ki tersenyum lebar sebelum menyuruh bocah yang ia bawa itu menyapa Kyu Hyun.

“Annyeonghasimnikka.” Balas Kyu Hyun, lalu menatap Jin Ki dengan penuh tanda tanya besar.

“Dia anakku Hyeong~” jawab Jin Ki yang masih menautkan senyum lebar di wajahnya. Sampai beberapa detik kemudian, Kyu Hyun baru bisa mengerti, “—Namanya Lee Jun Hae.”
***