Kadang bingung sendiri
dengan apa yang bisa kuupayakan dengan mimpiku? Apa ini benar-benar jalan yang
akan membawaku ke sana? Aih, memikirkannya memang membuat sulit akhir-akhir
ini. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, saat aku masih dengan senyum
lebarnya membayangkan perjuangan yang penuh pertualangan itu, dan mimpi-mimpiku
untuk bisa seperti mereka yang sudah berhasil menginspirasiku. Benar-benar
sangat menyenangkan!
Namun sekarang,
.. belum apa-apa, aku sudah merasa sakit. Lelah… padahal ini baru beberapa
bulan kujalani. YA! Rima~ssi! Kemana semangatmu yang dulu? Di mana
motivasi-motivasi yang waktu itu dengan lantangannya kauucapkan di hadapan
mereka-mereka yang meragukanmu?
Belum
sampai 2 bulan di kost’an, aku sudah rindu dengan rumah. Padahal mimpinya mau
ke luar negeri.
Hey,
jangan tertawa! Aku tau ini sangat memiriskan. Bahkan akupun kadang kasian
dengan diriku.
Dulu aku
pernah heran, mendengar cerita-cerita teman yang sudah terlebih dahulu mengecap
rasanya menjadi perantauan dari aku. Tidak sedikit yang bercerita kalau mereka
sering melampiaskan rasa rindu terhadap kampung halaman itu dengan menangis,
menangis dan menangis.
“Kenapa
sih harus menangis? Bukannya itu suatu yang menyenangkan?”
Itu
kata-kata dulu. Sewaktu belum merasakan yang sebenarnya. Masih menatap dalam
kacamata sang anak yang terinspirasi cerita novel.
Setelah
terjun langsung, aku baru tahu. Semua yang kuanggap mengasyikan itu hampir saja
membuatku menangis.
Tolong,
Rima coba tahan! Ini belum seberapa. Perjalananmu bahkan belum boleh dibilang
sudah mencapai titik awal. Ini baru beberapa langkah, .. jadi bertahanlah.
Setidaknya
aku masih punya malu pada diriku sendiri. Menjadikan aku berusaha untuk
bangkit, menanam kuat-kuat mimpiku di dalam hati, lalu memunguti
serpihan-serpihan semangat yang sempat berhamburan diterpa angin kegundahan.
Mulai
sekarang, .. jangan berpikir tentang hal-hal yang membuatmu lemah! Tapi
pikirkan apa yang bisa kauupayakan agar mimpimu terwujud! Berjuang dan
berpetualanglah, sebagaimana mereka yang menemukan kesuksesan dan jati dirinya
ketika diperantauan.
Siapa aku?
.. Apa sebenarnya alasanku hidup? .. Apa yang aku cari? .. Bagaimana aku
memenuhi apa yang kuinginkan? .. Lalu apalagi yang harus kulakukan? .. Untuk
siapa dan demi siapa? .. Lalu kemana tujuanku setelah ini? Tidak mungkin aku
berjalan sendiri tanpa panduan, kan? Bisa dibayangkan itu pasti sangat
membingungkan.
Pernah
terlintas di benakmu pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Aku baru saja
mengalaminya. Dulu aku mengatakan ingin mencari ‘jati diri’, tapi setelah
memulai aku kelabakan, karena tidak tahu harus memulai di mana dan ke mana.
Aku bahkan
belum mengenali siapa aku, .. waktu itu…
Sekarang aku sudah mulai mendapat
gambaran, ternyata aku adalah seorang anak pemimpi yang tidak memiliki setitik
pun mental pemimpi. Aku lemah, baru memulai petualangan sedikit, sudah merasa
lelah.
Benar jika
ada yang mengataiku anak ingusan. Manja itu lebih tepat!
Satu bulan di kost’an, aku benar-benar diajak untuk
berpikir kritis terhadap masa depan. Bahkan, baru beberapa hari di sana, aku
sudah merasa kalau aku ini tua. Konyol memang!
Iya! Itu
beralasan!
Saat
terlintas di benakku; wah, .. sekarang aku sudah ng’kost, yah? Udah SMA juga.
Nggak lama lagi, tugas wajib belajar 12 tahun bakal aku tuntaskan. Tapi, apa
yang harus aku lakukan setelah itu? Aku tidak mungkin dibilang anak-anak lagi,
toh? Jadi tidak mungkin setelah lulus aku kembali ke kampung dan terus
bergantung dengan kedua orang tuaku seperti masa SD dan SMP. Pasti aku dituntut
untuk mencari penghasilan sendiri. Meskipun kenyataannya orang tua tidak
menyuruh, tapi diriku sendiri yang menuntut. Hey! Malu dengan tetangga! Apa
kata mereka yang mendengar kamu yang dulu punya cita-cita pengen keluar negeri
dengan beasiswa? :o
Mengungkit
tentang kuliah untuk seorang anak PNs paling bawah yang bapaknya menjabat
sebagai penjaga sekolah, itu masih menjadi ‘fifhty^2’.
Aih,
sepesimis itukah kau sekarang, Rima?
Tidak… Aku
tidak pesimis, hanya saja aku mulai melihat dunia dalam kacamata ‘real’. Tidak
lagi ‘dream’.
Tapi aku
masih ingin seperti mereka, Dreamer yang berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya.
Rima~ssi, Cobalah
kembali kau renungkan, bukankah mereka berada pada titik yang sama denganmu.
Mereka juga dulunya adalah orang yang jika dilihat dengan kacamata ‘real’ maka
terlihat tidak mungkin. Tapi mereka berhasilkan? Mereka mampu berada pada
almamater yang mereka idam-idamkan? Dan itu hanya berbekal niat, tekad dan
kesungguhan.
Kau punya
itu semua?
Ya, aku
punya! Niatku adalah ingin seperti mereka, berjuang dalam pertualangan demi
mewujudkan mimpi-mimpi dan menemukan jati diri. Sangat mengasyikan tentunya!
Lalu menuliskannya menjadi sebuah cerita yang menggunggah gairah
generasi-generasi selanjutnya untuk bermimpi. Ah, membayangkannya saja,
membuatku senyum-senyum sendiri.
Apa lagi?
Tekad?
Aku sudah bertekad bahwa ini mimpiku. Bertekad untuk
membuktikan bahwa aku bisa menari di atas keterbatasan. #aish, terlalu
hiperbola, kah? Tapi kurasa biasa saja xp
Kesungguhan?
Hey! Aku memang sungguh-sungguh. Aku ingin berpetualang,
melihat bagaimana keadaan di belahan bumi lain?
Tidak ingin hanya menghirup udara tropis, aku juga
ingin menyentuh salju sutropis.
Tapi satu
yang masih belum kudapatkan; MENTAL! Mental sang Pemimpi belum sepenuhnya ada
pada diriku.
Lihatlah
aku yang akhir-akhir ini mudah sekali mengeluh. Membandingkan hidup bersama
orang tua dengan hidup di kost’an. Sangat berbanding terbalik!
Di rumah,
aku tidak perlu pusing mau sarapan dengan apa, pulang sekolah mau makan apa, malam
ada nasi apa tidak. Pakaian pun keseringan tinggal langsung pakai. Lhaa, di
kost’an. Tanpa kau berpikir ‘bagaimana caranya’, 3 hari di sana, pulang
langsung dikuburkan! :o
Itu masih
dilihat dari pekerjaan sehari-hari yang bisa dilakukan jika ada kemauan. #Ya,
mau nggak mau harus dilakukan.
Sementara mereka yang sang Pemimpi sesungguhnya, itu
adalah hal yang sudah memang biasa mereka kerjakan. Mereka tidak hanya berpikir
pada tingkat ‘bagaimana caranya mengisi perut?’ tapi sudah berpikir, ‘bagaimana
caranya aku menghasilkan agar bisa memenuhi kebutuhanku mengisi perut?’
Sekeras
apapun kehidupan luar, mereka tidak akan linglung seperti orang yang kehilangan
peta. Karena hidup mereka sudah terbiasa untuk bekerja membanting tulang demi
mewujudkan keinginan mereka. Dan itu semua tidak membuat mereka menutup mata
untuk melihat masa depan yang lebih cerah. Malah itu yang membangkitkan mereka
untuk tetap berusaha. Mereka yakin bahwa mereka bisa. Ya, mereka bisa! dalam
usia yang sangat belia seperti itu saja mereka sudah bisa memenuhi kebutuhan
sendiri juga meringankan beban orang tuanya.
Sementara
manusia-manusia seperti aku inilah yang bingung sendiri. Punya mimpi, tapi
tidak punya mental yang kuat. Okelah, aku tidak bermasalah dengan hal ‘menu
makan’. Aku sudah terbiasa menghadapi nasi putih berlauk tempe goreng atau
telur dadar yang dibagi beberapa potong, secukup orang-orang yang ada
dikost’an. Hampir setiap hari itu, dan kami menikmatinya bersama-sama.
Tapi
masalah bagaimana mendapatkan penghasilan, aku belum bisa terjun ke sana.
Sebenarnya bisa saja, tapi aku bodoh dalam masalah mencari peluang. Meski pun
di dalam hati mengatakan kalau itu sebuah tuntutan nantinya. Karena tidak
selamanya aku bisa menengadahkan tangan di depan orang tua, menunggu kiriman
setiap bulan. Aku pasti dituntut memiliki mata pencarian sendiri.
Ya, semoga
saja Allah memudahkan jalanku dan jalan siapa saja yang sama-sama dalam masa
perjuangan mewujudkan mimpi dan mencari jati diri. Meridhoi setiap langkah dan
kemana pun kelak tujuan kami. Memilihkan yang terbaik dari yang baik untuk
kami. Menunjukki kami jalan yang akan membawa kami pada kebaikan dunia dan
akhirat. Dan menguatkan kami dalam proses pendewasaan diri demi menjadi manusia
yang bermanfaat bagi sesamanya, agama, bangsa, serta keluarga.
Meringis.
Bocah perempuan itu terus saja bersembunyi di sisi kanan Ayahnya. Tangannya
mencengkram ujung baju sang Ayah. Sirat matanya seperti mengatakan kalau ia
benar-benar takut dengan apa yang ia lihat sekarang.
Melihat
keadaan sang anak, Ayahnya menampilkan senyum menenangkan, “Sudah… Chae Rin
jangan takut. Appa di sini.” Katanya.
Tapi tetap
saja tidak mudah untuk menghentikan gemetar pada tubuh kecil Chae Rin. Ia masih
bersembunyi, sampai suara pukulan itu membahana lagi,
PLLAK!!
***
Pagi itu,
cuaca cukup cerah. Tidak tampak awan hitam menggelayut menutupi matahari.
Dengan senyum manisnya Chae Rin keluar, membawa sebuah wadah kecil yang berisi
makanan ikan di tangannya.
Ia
melangkah menuju kolam kecil yang berada di halaman belakang rumah, lalu
menebarkan isi di dalam wadah itu ke kolam tersebut. Senyum itu kembali tertaut
lebar begitu menyaksikan tingkah saling rebut antar ikan-ikan saat ia
menebarkan makanan.
Sampai
seseorang memanggil namanya, Chae Rin menghentikan aktifitas, mencoba
mendengarkan baik-baik apa yang orang itu katakan,
“Bisakah
kau membelikan Appa kopi di kedai Bibi Han?” begitu kalimat yang tertangkap
oleh telinga Chae Rin yang saat itu masih berdiri di depan kolam.
“Ye~,
Appa… Aku akan ke sana.” sahutnya lalu segera masuk menghampiri sang Ayah yang
saat itu sibuk mengutak-atik radio tuanya.
“Ini
uangnya. Cepat kembali, ne~?”
Chae Rin
mengangguk takzim begitu menerima beberapa lembar uang dari sang Ayah.
Ayahnya
tersenyum sembari mengacak poni Anaknya pelan.
“Ah,
Appa…” langkah kaki kecil Chae Rin seketika terhenti di dekat pintu, berbalik
ke arah sang Ayah yang menoleh begitu mendengar suaranya, “—Berapa bungkus?”
“Satu
saja.”
Chae Rin
mengangguk sekali sebelum ia benar-benar sudah menghilang dari balik pintu yang
tertutup.
---
“Gamsahamnida~”
Chae Rin menundukan kepalanya saat menerima bungkusan yang berisi pesanan sang
Ayah dari tangan seorang wanita paruh baya pemilik kedai itu. Bibi Han, begitu
ia sering memanggilnya.
“Ne~”
Chae Rin
melangkah keluar pagar kedai Bibi Han, setelah akhirnya langkahnya seketika
terhenti. Matanya menangkap sosok bocah laki-laki bertubuh kurus itu berlari
ketakutan, lalu bersembunyi di balik drum besar samping rumah bibi Han. Sejenak
ia menatapi sosok itu, sampai sebuah teriakan membuatnya tersadar dari apa
sebenarnya yang saat itu terjadi.
“YA! Anak
nakal! Kau bersembunyi, eoh? Jangan harap kau akan selamat kalau kau tertangkap
mataku!” seorang wanita yang berada beberapa meter di hadapan Chae Rin itu
berteriak keras. Suara cemprengnya melengking seperti tidak takut kalau-kalau
saja setelah itu pita suaranya akan rusak. Penampilannya benar-benar sangat
berantakan. Lihat saja baju terusan dan jaket yang ia pakai, kumal sekali!
Sudah begitu, rambutnya juga kusut seperti tidak pernah mandi beberapa tahun.
Tangan
kanannya menggantang sebuah potongan kayu cukup besar. Dengan langkah yang
lebar itu, ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari sosok yang
sudah membuatnya persis seperti orang kesurupan. Nafasnya menderu setiap kali
ia berteriak, “YA! ANAK NAKAL! CEPAT KELUAR! APA KAU AKAN BENAR-BENAR MATI
SETELAH INI!”
Bengis!
Itu yang sekarang berkelabat di otak si kecil Chae Rin. Ia menoleh ke arah
sosok yang berada pada arah sebelah kiridari tempat sekarang ia berpijak. Chae Rin yakin bahwa bocah itu pasti
masih bersembunyi di balik drum.
Perlahan
ia mendekat. Benar saja! Bocah laki-laki itu tampak menutup telinganya dengan
kedua telapak tangan. Ia memejamkan mata, sementara kedua lutunya menekuk.
Tidak menyadari kalau sekarang seseorang sudah mengambil tempat di sampingnya.
“Kau
takut?” bisik Chae Rin di dekat telinganya, berhasil membuat bocah itu
tersentak kaget. “…Tenanglah! Aku—“
“Sstt!”
Seketika
Chae Rin menutup mulut, begitu bocah di sampingnya itu menyuruhnya untuk diam
dengan isyarat jari telunjuk tangannya menempel ke bibir. Chae Rin bisa
merasakan gemetar yang terjadi pada tubuh bocah laki-laki itu.
Sejenak ia
menatapi sosok di sampingnya. Kepalanya yang plontos menyembul untuk melihat
situasi di depan kedai. Ahjuma itu masih berteriak-teriak keras dengan kalimat
yang sama. Lalu memencak-mencak kesal, karena merasa panggilannya tidak juga
diindahkan.
Bocah
laki-laki itu menghembuskan nafas begitu menyandarkan tubuh kurusnya pada badan
drum. Masih gemetar, ia memeluk kedua lututnya lalu membenamkan wajahnya di
sana.
Ada rasa
perihatin dalam benak Chae Rin melihat apa yang terjadi pada bocah itu, ia
masih memandanginya, lalu mencoba untuk kembali membuka mulut, “Dia siapa?”
Mendengar
pertanyaan Chae Rin, bocah lelaki itu mengangkat wajah. Sejenak menatap Chae
Rin datar, “Oori eomma~” lirihnya. Lalu begitu hendak membenamkan kembali
wajahnya, Chae Rin mengeluarkan pertanyaan lagi,
“Boleh aku
tau namamu?”
Kali ini,
Chae Rin tidak mendapat jawaban, selain tatapan bocah itu yang terasa mulai
tidak menyukai akan adanya ia di sana, “—Waeyo?”
PLLAKK!!!
Chae Rin
tersentak kaget. Matanya baru saja menangkap sebuah sendal karet besar melayang
ke kepala si bocah. Tepat! Tidak meleset sama sekali. Dan seketika juga matanya
membulat. Sosok yang berantakan dan berteriak-teriak kasar di jalan itu tadi
sudah berdiri beberapa meter di hadapan mereka. Tampak dadanya turun naik
menatap siapa yang bersembunyi di balik drum itu sedari tadi.
Gemetar
tidak terjadi hanya pada bocah lelaki itu, tapi juga pada Chae Rin. Tanpa ia
sadari, kantong plastik yang berisi bungkusan kopi pesanan sang Ayah itu sudah
terlepas jatuh dari tangannya.
---
“Chang
Seok~ah!”
“Wae
Ommonim?” sahut lelaki paruh baya mengenakan kaos oblong putih itu, tanpa mengalihkan
dari apa yang sekarang menjadi fokusnya. Tangan kanannya memegang obeng kecil
sementara tangan kanannya memegangi sisi radio tua miliknya. Entahlah, apa
sebenarnya sejarah yang tersimpan dari benda rongsokan itu. Sampai-sampai ia
lebih memilih untuk terus berusaha memperbaikinya setiap kali mengalami
ketidak-normalan, daripada membeli yang baru.
Sosok
wanita tua bertubuh kurus itu melangkah ke dapur, meletakan keranjang
belanjaannya yang penuh berisi sayuran di dekat lemari masak, lalu kembali ke
ruang tengah, mendekat ke arah meja kayu panjang di depan jendela, tempat di
mana sekarang anak lelakinya itu berkutat dengan kesibukannya sendiri, “Dari
kemarin kau selalu sibuk dengan ini.” Gerutunya, “—YA! Chang Seok~ah… Chae Rin
di mana?”
“Aku tadi
menyuruhnya membeli kopi di kedai depan—YA! Sekarang sudah jam berapa?”
tiba-tiba Chang Seok menoleh menatap jam di dinding rumah mereka, lalu
tersentak kaget begitu menyadari sudah pukul berapa sebenarnya sekarang,
“—Aigoo~”
Ibunya
yang tidak mengerti kenapa, menatap heran keadaan wajah Chang Seok yang
tiba-tiba berubah panik, “Waeyo?” tanyanya penasaran begitu merasa ada aura
yang tidak beres. Dan ini mungkin berkaitan dengan Chae Rin.
“Ia keluar
rumah saat jam menunjukkan pukul 8 kurang sepuluh menit, sekarang sudah pukul 9
lewat 15. Berarti hampir setengah jam. Tapi dia belum juga pulang.”
“YA~ Chang
Seok~aa… Kenapa bisa begini?”
“Aku juga
tidak tahu, Omonim.”
Tampak
gurat kekhawatiran di wajah keduanya. Atmosfer rumah tiba-tiba berubah buruk.
Chang Seok meraih jaket hitamnya yang ada di sandaran kursi, lalu dengan segera
melangkahkan kaki keluar rumah diikuti Ibunya yang sama-sama dipenuhi perasaan
khawatir dan was-was akan keadaan si kecil Chae Rin.
---
“Anak
nakal! Siapa yang mengajarimu seperti ini, hahh? Bersembunyi dari orang tua!
Tidak mendengar apa kata orang tua! Mau jadi apa kau—Jangan menambah benci
Eomma, Jun Hae~aa!”
Chae Rin
meringis melihat aksi kekerasan di depan mukanya. Ia menjerit tertahan setiap
kali tangan dan balok kayu itu menghantam kasar tubuh bocah lelaki di depannya.
Bertubi-tubi dan tanpa ampun. Sampai ketika wanita yang dikiranya bukan berasal
dari golongan manusia itu mengangkat tinggi-tinggi balok kayu di tangannya ke
atas kepala si bocah, Chae Rin sontak berteriak, “BIBI, HENTIKAN!—JANGAN PUKUL
KEPALANYA!”
Sekita
sepasang mata berwarna merah tajam itu menghujam tubuh kecil Chae Rin yang
menggigil ketakutan. Kilat kemarahannya semakin terpancar. Nafasnya naik turun,
“Siapa kau?” tanyanya sinis.
Chae Rin
tidak bersuara. Hanya butiran kecil bening yang keluar dari sudut matanya.
Membuat kekesalan wanita bengis itu semakin memuncak, “YA! Kau tidak
bertelinga?—Cepat pergi dari sini, atau aku akan menghukummu!”
“—PERGI DARI SINI AKU BILANG!” teriaknya semakin keras
karena tidak menerima respon apa-apa dari Chae Rin, “—ANAK NAKAL! SIAPA ORANG
TUAMU, EOH?”
“Aku orang
tuanya!” sahut sebuah suara yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
Wanita
kasar itu segera menoleh ke arah sumber suara, “Neo…” gumamnya tertahan.
“Dia anakku.
Dan jangan pernah sekali-kali kau menyentuhnya!” ucap orang itu lagi seraya
meraih tangan Chae Rin dan mendekap ke sisinya. “—Apa yang kaulakukan? Memukuli
Jun Hae lagi?” tanyanya kemudian begitu melihat tubuh kurus seorang bocah
lelaki di dekat kakiIbunya, duduk
dengan membenamkan wajah di antara lututnya yang tertekuk. Kaos lengan panjang
dan berwarna biru muda yang dikenakan si bocah tampak ternodai oleh bercak-bercak
darah. Juga balok kayu yang ada pada tangan si wanita, membuat ia tidak habis
pikir dan menggeleng-gelengkan kepala, “—YA! Hwang Ah Sung! Kau sama saja
dengan Ayahnya. Tidak bertanggung jawab!”
“Kau Chang
Seok…” Ah Sung mengeraskan rahangnya menahan kekesalan yang teramat sangat atas
pria menyebalkan di dapannya saat ini. Kilatan benci semakin memancar dari
matanya, “—Jangan pernah ungkit masalah namja brengsek itu lagi di hadapanku.
Dan jangan pernah samakan aku dengannya!” ucapnya setelah terlebih dahulu
membuang pandangan dari wajah Chang Seok.
“YA! Chang
Seok~aa… Di mana Chae Rin? Kau menemukannya?”
“Neneeek…”
panggil Chae Rin serak. Membuat wanita tua itu berlaih menatap sosoknya yang
menempel di samping Chang Seok. Segera ia mendekat ke arah mereka, “Chae
Rin~ah, gwenchanayo?” tanyanya begitu melihat keadaan cucunya yang saat itu
masih bergemetaran. Sementara tangannya membelai-belai wajah sembab Chae Rin.
Tidak ada
sahutan keluar dari mulut Chae Rin. Dan seketika si Nenek baru menyadari akan
keberadaan orang lain di antara mereka, tatapannya menelisik, mencoba untuk
mencerna kejadian apa sebenarnya yang terjadi sebelum ia datang kemari.
“Aigoo~” pekiknya, dan dengan segera menghampiri sosok kecil bertubuh kurus
itu, “Jun Hae~aa…” tangannya yang saat itu mencoba untuk menyentuh kepala
seorang bocah yang sudah membuatnya mengerti akan situasi sebenarnya, tiba-tiba
ditepis kasar oleh tangan seseorang,
“Ayo,
pulang!” tangan kasar itu meraih pergelangan tangan Jun Hae, lalu menyeretnya
pergi. Membuat kaki kecil Jun Hae yang biru akibat terkena pukulan,
terseok-seok mengikuti langkah Ibunya yang menyeretnya seperti tak punya
perasaan.
PLAKK!!
Lagi-lagi
sebuah pukulan menghamtan punggung Jun Hae. Membuat Ibu Chang Seok menarik
nafas dalam melihatnya, sementara Chang Seok hanya bisa menggeleng-gelengkan
kepala. Tidak habis pikir dengan sikap Ah Sung yang tidak pernah berhenti
memukuli anaknya sendiri demi melampiaskan kekesalannya.
“Appa~”
suara parau Chae Rin terdengar lirih memecahkan keheningan.
Ayahnya
merubah posisi memeluk tubuh Chae Rin yang semakin bergetar hebat. Dibelainya
pundak anak gadis itu lembut sambil terus mencoba menenangkan. Namun Chae Rin
tiba-tiba jadi terisak. Perasaan takut benar-benar menguasainya sekarang. Meski
dua sosok manusia yang sudah membuat ia jadi seperti ini sudah tidak ada lagi,
bahkan bayangannya sekali pun, tapi tetap saja ini menimbulkan sebuah trauma
untuknya.
***
Semenjak
kejadian itu, Chae Rin tidak lagi menemukan sosoknya. Seorang bocah laki-laki
kurus yang entah bagaimana bisa bertahan setiap kali menerima pukulan keras
dari tangan sang Ibu. Ia tidak pernah mengelak, menangkis, atau sekedar
mengeluarkan suara; “Ibu hentikan!” setiap kali pukulan-pukulan itu menghantam
tubuhnya. Bahkan ia tidak menangis, sementara tubuhnya penuh dengan warna
keungu-unguan akibat memar. Mengingat itu, Chae Rin sempat mengungkapkan
perasaannya kepada sang Ayah.
“Ayah, aku
tidak ingin bertemu Eomma lagi.”
“Kenapa?”
tanya Chang Seok yang saat itu tengah duduk menikmati siaran radio dengan segelas
teh hangat di atas meja juga Yangparing—cermilan khas Korea, bercita rasa
bawang dan berbentuk bulat-bulat seperti cincin)— sebagai pelengkapnya.
“Aku takut
kalau Eomma juga akan segalak Ahjuma itu.” jawabnya polos. Membuat Chang Seok
menyunggingkan senyum begitu mendengarnya.
Dihampirinya
putri semata wayangnya yang saat itu sedang asik dengan mainan
boneka-bonekaannya yang Chang Seok belikan di toko boneka sewaktu liburan untuk
menonton festival kepiting salju beberapa minggu lalu.
“Chae Rin
jangan berpikiran seperti itu terhadap Eomma. Eomma Chae Rin baik, dia juga
sosok yang sangat lembut.”
“Jeongmal?”
tanya Chae Rin. Matanya menatap wajah sang Ayah seolah meminta kepastian. Chang
Seok menganggukan kepalanya mantap.
Namun
seketika wajah Chae Rin berubah mendung. Ia beralih menundukan kepala, menatapi
boneka di tangannya dengan pandangan sayu, “Tapi… Jika seandainya Eomma adalah
Ibu yang baik, Eomma tidak mungkin meninggalkan Chae Rin. Iya kan, Appa~?”
ucapnya, seraya kembali menatap wajah sang Ayah yang saat itu memilih bungkam
mendengar pertanyaannya. Ia tidak menjawab—lebih tepatnya tidak bisa menjawab.
Hanya senyum samar yang menyungging di bibirnya sebelum memutuskan untuk
membelai lembut rambut sang Anak yang sudah kembali fokus dengan mainannya.
Entahlah… Ucapan Chae Rin yang tiba-tiba, membuat Chang Seok tidak bisa
berkata-kata lagi.
***
Dengan
langkah berlari, Chae Rin menyambangi rumah makan yang berada kurang lebih 100
meter dari tempat ia bersekolah dengan masih menggunakan seragam. Beberapa
tahun berlalu sudah berhasil menyulap Chae Rin yang tadinya masih bocah,
menjadi sosok remaja cantik yang sekarang duduk di bangku kelas 3 SMP. Tanpa
polesan kosmetik apapun tidak mengurangi sama sekali daya tarik yang ia miliki.
Bentuk tubuh yang semampai juga kaki jenjangnya yang indah, membuat tidak
sedikit remaja seusianya yang iri dengan fostur tubuh Chae Rin.
Dari
wajah, ia memiliki sepasang lesung pipi yang akan terlihat apabila ia
tersenyum, lalu matanya menyipit, membuat kesan orang yang melihatnya
mengatakan kalau dia adalah sosok gadis yang imut. Hidungnya mancungnya yang
tertaut dengan bibir merah tipis menjadi daya tarik utama seorang Yoon Chae
Rin. Boleh dikatakan, kalau cantik yang ia miliki adalah alami, tanpa perlu
polesan make-up apa pun.
“Wooaa~
Appaku sudah kembali…” ucapnya dengan senyum lebar saat masuk ke dalam warung
makan dan mendapati sang Ayah tengah duduk santai di belakang meja kasir.
Ayahnya melebarkan tangannya begitu Chae Rin mendekat, tapi Chae Rin malah
menghentikan langkah.
“Waeyo?” tanya
sang Ayah.
“Haiissh~”
Chae Rin mengerucutkan bibirnya cemberut, “Apa yang kau lakukan berlama-lama di
Daegu, eoh?” ucapnya plin-plan seraya menyilangkan tangan di depan dada.
Chang Seok
terkekeh, “Annio~ Appa lama karena Appa sibuk mencarikan oleh-oleh untukmu.”
“Jincha?”
mendengar kata oleh-oleh, telinga Chae Rin mengembang. Dan begitu mendapat
anggukan dari sang Ayah, giliran senyumnya yang melebar. Matanya berbinar-binar
dan dengan segera menghambur memeluk tubuh sang Ayah. “Woaaa~ Appa…
Saranghaeyo, .. Jeongmal saranghae~”
“Chae
Rin~ah… Kau sudah pulang?”
Chae Rin
melepaskan diri dari pelukan sang Ayah, begitu mendengar suara seseorang
memanggilnya. Ia mengenali suara itu. Ya, itu adalah suara neneknya. Namun, ia
tidak tahu siapa yang sekarang berdiri di samping sang Nenek. Seorang wanita
cantik bertubuh semampai, mengenakan blouse orange tak berlengan yang diluarnya
dilapisi cardigan putih, rambutnya yang panjang tergerai ikal menutupi sebagian
dadanya. Cantik… itu yang pertama kali terlintas dibenak Chae Rin saat melihat
wanita di samping neneknya itu. Kelihatannya mereka berdua baru saja keluar
dari ruang belakang, tempat yang dijadikan dapur untuk karyawan-karyawan Ayah
memasak.
Wanita
cantik itu tersenyum,tapi Chae Rin tak
membalasnya, melainkan malah beralih menatap sang Ayah, “Nugu?” tanyanya,
terdengar menuntut.
“Dia teman
Appa di Daegu. Namanya Hyun Ji. Kau harus memanggilnya Bibi—Bibi Hyun Ji.
Arra~?”
“Untuk
apa? Aku tak mengenalnya?” sahut Chae Rin ketus, kembali memandang wanita yang
diperkenalkan Ayahnya bernama Hyun Ji itu dengan tatapan tak suka.
“Chae
Rin~ah. Jangan bicara seperti itu. Appa tidak pernah mendidikmu menjadi anak
yang tidak punya sopan santun.” Ujar Chang Seok. Terdengar serius
memperingatkan tingkah anaknya. Membuat Chae Rin yang mendengarnya semakin
jengkel.
“Dan Appa
tidak pernah membentakku sekali saja sebelumnya,” Balas Chae Rin. “…Sebelum
wanita itu ada.” Matanya kini menatap tajam wanita di samping Neneknya yang
kini terlihat shock akan pertengkaran anak dan orang tuanya itu. Lalu berbalik
mengambil langkah keluar dari rumah makan.
“YA! Chae
Rin~ah!” teriak Chang Seok. Mengejar anaknya yang memacu langkahnya berlari
semakin jauh.
---
Hampir
saja! Benda berwarna orange itu melesat mengenai kepala seseorang yang melintasi
lapangan olahraga sekolah SangDong. Ia menjerit kaget, kemudian mengelus
dadanya dengan raut wajah shock. Bersyukur dalam hati karena bola besar yang
menggelinding jauh dari lapangan itu tidak benar-benar mengenai kepalanya.
“Hey, Nona
gendut! Kau tidak lihat di sini sedang latihan?” teriak sebuah suara,
mengalihkan pandangan satu-satunya yeoja di tempat itu.
Seorang
namja berjalan mendekat ke arahnya.
“Sudah
berapa kali kukatakan, jangan mengataiku gendut!” balas si yeoja dengan tatapan
sangar miliknya. Melihatnya membuat si namja itu malah menyunggingkan senyum
miring. Terkesan angkuh dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Lalu,
jika bukan gendut, apalagi aku harus memanggilmu, eoh?” ucapnya, terdengar
mencibir.
Si yeoja
di hadapannya hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya di sisi rok
seragam. Nafasnya naik turun menahan kegeramannya terhadap sosok makhluk berpeluh
di depannya itu. Menatap namja itu tajam, sebelum akhirnya melangkah pergi dari
tempat itu dengan kekesalan yang kelewat batas. Tak menyahut. Karena ia sadar
itu hanya akan merugikannya.
Sementara
namja tadi, semakin mengembangkan senyumnya. Kali ini! Ia lagi-lagi berhasil
membuat kesal yeoja yang adalah teman sekelasnya itu.
“YA! Jun Hae~aa...
Kau mau ke mana?” teriak temannya yang sedang duduk memegang botol minuman di
bangku pinggir lapangan bersama beberapa teman-temannya yang lain.
Jun Hae
menoleh, mengangkat telapak tangan kanannya kepada namja berambut plontos itu,
“Ngambil bola.” Sahutnya, kemudian nyengir.
---
Jun Hae
yang saat itu mau ngambil bola basket di dekat pos satpam, tiba-tiba berhenti.
Memperhatikan apa yang sekarang menggaet matanya. Yeoja tadi… tampak sedang
bercengkrama di dekat gerbang sekolah dengan seorang wanita yang mengenakan
seragam kantor berwarna abu-abu pekat. Kakinya mengenakan sepatu berhak tinggi
sementara di tangannya terkait hand bag hitam. Di sana… nun di depan gerbang
terparkir sebuah mobil. Dari pengamatan Jun Hae, ia menebak bahwa dua manusia itu
adalah anak-beranak.
“Ada
urusan apa kau ke sini? Aku tidak memintamu datang.” ucap si anak sembari
menyilangkan tangannya. Benar-benar tidak sopan, pikir Jun Hae.
Segera ia
mencari tempat yang strategis untuk mendengarkan ucapan dua manusia itu tanpa
bisa diketahui. Jadilah ia berjongkok di samping tong sampah. Menajamkan
pendengarnnya di sana.
“Hyo
Min~ah…“
“Lebih
baik kembali. Pekerjaan lebih baik dari segalanya, eoh? Kau tak perlu datang.
Bukannya kemarin-kemarin juga seperti itu.” ucapnya, tak mau memandang wajah
kecewa orang di sampingnya. Melihat ini, Jun Hae semakin tertarik untuk tahu
lebih lanjut.
“Izinkan
Eomma menghadiri pertemuan orang tua hari ini, Hyo Min~ah. Maafkan Eomma jika
dulu Eomma tak pernah datang, karena memang Eomma sibuk di kantor. Hari ini
Eomma tidak punya meeting apa pun, jadi biarkan Eomma hadir, ne~?”
“Tidak
perlu!” sahut Hyo Min, menatap datar Ibunya. “Aku sudah menelpon Paman. Dia
akan datang. Jadi kau pulang saja.” Tanpa menunggu Ibunya membuka mulut lagi,
Hyo Min bergegas pergi. Berlari menuju kelasnya. Tanpa di sadarinya, Jun Hae
yang menangkap buliran air mata di pipi Hyo Min. Sementara Ibunya, tampak
memandangi punggung sang anak yang semakin menjauh dengan tatapan nanar,
sebelum akhirnya memutuskan pergi.
---
Uap kecil
mengepul, saat seseorang yang saat ini sedang bersandar pada tembok luar
gerbang sekolah ByungHee High School menghembuskan nafasnya dari mulut. Kedua
telinganya tersumpal earphone. Sementara tangannya ia jejalkan ke dalam saku
jas seragamnya, karena udara cukup dingin siang ini. Hujan lebat baru saja
berhenti, menyisakan rinai-rinai yang masih berjatuhan ke baju sosok makhluk
satu-satunya di sana yang mengenakan seragam SMP.
Ia
celingukan, begitu menyadari bahwa siswa-siswa ByungHee High School sudah ada
beberapa yang keluar dari gerbang sekolah. Ia berjinjit demi menambah tinggi
ukuran tubuhnya yang sebenarnya tidak terlalu pendek itu. Lehernya ia
jenjangkan guna memudahkan pencariannya. Sampai seseorang yang ditunggu itu pun
tertangkap matanya, ia tersenyum lebar mengangkat tangan kanannya sembari
meneriakan nama seseorng, “Jin Kyu Noona~”
Sontak
orang yang merasa namanya dipanggil, menoleh ke arah bocah ingusan berseragam
SMP itu melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Ia ingin lari, tapi bocah itu
keburu ada di hadapannya, “Ngapain ke sini lagi, hahh~? Nggak bosen-bosen ya
ngikutin orang?—Kamu itu masih SMP, sekolahmu di situ, tu, ..” yeoja bernama Ji
Kyu itu menunjuk ke arah sekolah SangDong yang ada di seberang jalan, nggak berjauhan
dengan sekolah ByungHee High School.
Bocah
berseragam SMP itu nyengir, “—Ngapain nyengir-nyengir?” bentak si yeoja lagi,
“Ah,
annio~ aku ke sini, hanya ingin memastikan kalau Nuna hadir ke pertandingan
basketku minggu depan.” Jawab si bocah polos, masih cengar-cengir nggak jelas.
“Nggak
bakal!—Minggir! Aku mau pulang.”
“Aissh,
nunaaa~” bocah itu lagi-lagi mengeluarkan suara memelas milikinya.
“Kenapa,
hah~? Tanpa aku juga pertandingan pasti berjalan. YA~ Jun Hae~aa, berhenti
bersikap seperti ini. Sebentar lagi kau lulus SMP. Itu berarti kau akan masuk
SMA dan kau seharusnya bisa bersikap sedikit lebih dewasa. Jangan terus
bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Kau tidak di TK lagi sekarang.”
Jun Hae
terdiam. Kepalanya menunduk beberapa detik, sebelum akhirnya mengangkat wajah
dan berbalik, “TAPI AKU SEPERTI INI KARENAMU! AKU HANYA INGIN NUNA MELIHAT KE
ARAHKU!—NUNA, AKU MOHON! HADIR KE PERTANDINGAN BASKET ITU. TANPA NUNA, AKU
TIDAK AKAN TURUN KE LAPANGAN!” teriaknya tanpa mempedulikan orang-orang di
sekitarnya dan di mana sekarang ia berada. Ia hanya ingin orang itu
mendengarnya. Mendengar kesungguhannya selama ini.
Tapi Ji
Kyu terus saja menjauh, tak mau peduli sama sekali dengan apa yang dikatakan
dan dilakukan bocah di belakangnya itu. Ia sudah cukup pusing selama ini dengan
kehadiran Jun Hae di depan gerbang sekolahnya setiap kali ia mau masuk atau
pulang. Dengan alasan hanya untuk menanyakan kabar dan mengucapkan satu kalimat,
“Nuna aku selalu menunggumu sampai kapanpun.”
“Benar-benar
memalukan!” gerutu Ji Kyu sebal.
***
TBC
---
Woaaa~
lalalala… saya menyelesaikan part ini akhirnya~
11 Agustus 2012.
Ini adalah hari pertama ane maen blog. Dibikinin sama ma-best-fren ane, An Nisa Hairani. Cukup membuat ane jingkrak-jingkrak sendiri di kamar gegara kesenengan. Gomawoyo chingu~ :*ciumicha
Oke, baiklah. Ane belum terlalu ngerti, tapi akan berusaha untuk paham (?)
Bismillah...
Semoga ini awal yang baik.