Aku tidak bisa. Entahlah, aku tidak tahu kenapa. Tapi ini benar-benar sulit. Untuk memberitahunya akan keadaanku, aku tidak mampu membayangkannya bagaimana.”
“Ini sama saja menyakitinya dua kali lipat Chae Rin~ah.”
“Kyu Hyun-ssi, aku mohon. Ini hanya sekali, yang pertama dan yang terakhir aku perlu bantuanmu. Jebal… dowajusaeyo.”
“Neon… Jincha~”
“Terserah kau mau mengataiku bagaimana. Aku memang hampir gila hanya karena memikirkan bagaimana nanti jika harus menerima bahwa aku akan kehilangan semua ingatanku. Yang berarti aku juga akan melupakan semua tentangnya dan kami berdua. Aku pikir, lebih baik jika operasi nanti dinyatakan gagal dan aku tidak bisa diselamatkan.”
“Aku bahkan tidak mengerti bagaimana jalan pikiranmu, Chae Rin~ah…”
***
“Kyu Hyun~ah. Kau bisa mengantarkanku ke butik?“
“Mianhae, sepertinya-“
“Ah, algesseoyo. Aku mengerti…”
Tampak gurat kekecewaan pada wajah yeoja di samping Kyu Hyun, menyadari itu, dengan segara Kyu Hyun meraih tangannya, “Ji Hye~yya…” ucapnya dengan tatapan mata yang dalam, “Kau marah?”
“Anni!” sahut Ji Hye, “Sudahlah. Aku bisa sendiri, kok. Kau selesaikan saja urusanmu.” Lalu tersenyum tulus, membuat Kyu Hyun merasa benar-benar tidak nyaman, “Ah, Kyu Hyun~ah. Aku harus segera pergi sepertinya—Jangan memasang wajah seperti itu. Aku pergi dulu, ne~?”
Kyu Hyun membuang nafas sebelum menganggukkan kepalanya, mengiyakan Ji Hye yang melepaskan genggaman tangannya untuk pergi.
Sepeninggal Ji Hye dari hadapannya, Kyu Hyun merasakan ketidak-beresan suasana hidupnya akhir-akhir ini bertambah. Dia bukan seorang tunanetra yang tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Ji Hye begitu ia tidak bisa memenuhi keinginannya untuk sekedar diantarkan ke butik tempat Ji Hye bekerja. Ia bisa menangkap itu dan tentu saja ini semua membuatnya merasa benar-benar tidak nyaman. Lagi-lagi Kyu Hyun hanya bisa menarik nafas begitu menatap arah pergi sang yeoja yang tak terlihat lagi punggungnya.
“Mianhae, chagi~yya.” Desahnya lemah di sela-sela hembusan nafasnya.
---
Kyu Hyun sudah siap di atas motor sport berwarna biru tua miliknya di depan gerbang universitas. Sampai seseorang datang dengan langkah setengah berlari mendekat ke arahnya.
“Maafkan aku, lagi-lagi membuatmu menunggu.” Ucap orang di depan Kyu Hyun itu dengan nafas terengah-engah.
Kyu Hyun mengambil sebuah helm berwarna hitam yang tersangkut di kaca spion motornya, lalu menyodorkannya kepada orang itu, “Ini! Pakailah!”
“Ah, ne~”
“Chae Rin~ah, kau yakin dengan rencana ini?”
Sejenak Chae Rin terdiam. Ia baru saja selesai mengenakan helm ke kepalanya dan bersiap untuk naik ke motor, tapi mendengar pertanyaan Kyu Hyun, ia jadi terhenti. “—Aku sangat berharap jika kau mau memikirkan semua ini lagi.”
“Kau sudah bersedia membantuku. Jadi tinggal jalani saja apa yang sudah direncanakan. Aku tidak mengambil keputusan yang perlu dipikirkan dua kali!” jawab Chae Rin yang dengan segera naik ke atas motor.
Kyu Hyun yang tidak bisa menyahut lagi, kali ini hanya bisa menghela nafas panjang. Lalu menghidupkan motornya dan membawanya ke tempat yang sudah diberitahukan Chae Rin lewat SMS saat mata kuliah Kang saem tadi berlangsung.
Sementara di sana… Di balik pohon besar yang berada di seberang jalan, seseorang memperhatikan dua manusia yang kini sudah melaju dengan motornya. Matanya tampak berkaca-kaca, sementara tangannya meremas bajunya pada bagian dada. Seperti tidak percaya dengan apa yang sudah ia amati sedari tadi.
---
Kyu Hyun’s POV
Ini boleh dibilang seperti drama… Saat seseorang yang sudah mendapat janji bertemuan di sebuah taman—tempat dimana dulu ia meresmikan hubungannya dengan kekasihnya— tersenyum lebar begitu melihat sang kekasih yang ditunggu itu hadir tanpa tahu maksud dari kedatangan itu sebenarnya. Disongsongnya orang itu dengan senyuman termanis, lalu mengatakan kalau hari ini adalah hari spesial, karena itu ada sesuatu yang spesial pun yang ingin ia tunjukkan. Si kekasih masih menunggu dalam kebingungan sampai orang itu mengeluarkan sebuah kotak persegi kecil berwarna merah yang rupanya berisi sepasang cincin platina asli.
Menyematkan cincin itu ke jari sang kekasih dan ia sendiri, lalu memberi kecupan hangat pada dahinya, sampai sebuah kata “putus” membuatnya seperti tersambar petir pada sore hari yang cerah. Benar-benar mengejutkan, dan… Ah, IYA! Ini semua terkesan drama sekali memang. Tapi aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa bisa-bisanya aku menjadi salah satu tokoh dari skenario konyol ini?
Aku beranjak dari tempat pengintaianku, menuju motor yang kuparkir di depan. Beberapa menit menunggu, yeoja itu datang sambil menyeka air matanya dengan sebelah tangan. Aku ingin merutuk. Ini sebuah permainan bodoh! Dan parahnya, aku tidak bisa menghentikan semuanya. Bahkan tak bisa membantah begitu orang yang sudah ada di belakangku itu, menyuruhku untuk segera pergi.
Maafkan aku, atas kebohongan yang konyol ini. Terutama untuk dia yang sudah kukenal dengan baik. Adik tingkatku, Lee JinKi.
“Mianhae~”
Dan kurasakan pergelangan tangan seseorang melingkar di pinggangku. Saling terkait dan sangat erat.
---
Menggantungkah eposide drama ini? Ah, aku tidak tahu! Hanya saja aku ragu untuk tetap bermain di dalamnya. Sudah lebih 1 minggu aku tidak bertemu dengan seorang Lee Chae Rin, juga tidak mendapat apapun info tentangnya. Ini berlangsung semenjak kejadian di atap kampus waktu itu. Aku benar-benar menyesal…
Aku menghempaskan tubuhku begitu saja ke atas tempat tidur. Masalah Ji Hye yang akhir-akhir ini berubah dingin dan sulit diajak bicara juga membuat bebanku terasa bertambah 10x lipat.
Sampai handphone yang kuletakan di atas meja kecil samping tempat tidur bergetar. Aku bangkit untuk membaca isinya yang ternyata setelah kubuka adalah dari Chae Rin.
From: Lee Chae Rin
Lusa aku akan menjalani operasi pengangkatan. Aku harap kau bisa datang sebelum aku memasuki ruangan.
---
Author’s POV
Hujan rintik membasahi bumi pagi itu. Keadaan langit hitam. Jam sudah menunjukkan pukul 10 lebih, tapi matahari belum juga menampakan diri.
Kyu Hyun melihat tetesan-tetesan kecil dari langit itu menabrak jendela rumah sakit. Semakin banyak dan bertambah setiap detiknya. Membuat kabur setiap pandangan yang mengarah ke keadaan luar.
Ia sudah berapa kali menghela nafas begitu memandangi apa yang sekarang ada dalam genggamannya.
“Maaf kalau harus meminta bantuanmu lagi. Hehehe… Tapi kau tidak keberatan, kan? Tidak susah, kok. Hanya memberikan surat ini untuk Ibuku apabila nanti aku sudah selesai dikuburkan, dan… Tolong kembalikan cincin ini kepada JinKi.”
---
“Kyu Hyun~ah! Bagaimana dengan Chae Rin? Kau tidak berbohong?”
Kyu Hyun melengos, menatap empat namja baru saja sampai di hadapannya dengan berbondong-bondong dan langkah yang tergopoh-gopoh itu. Salah satu dari mereka langsung melemparkan pertanyaan yang… entahlah, mendengarnya saja membuat mood Kyu Hyun bertambah buruk.
Begitu berniat menyahut, namun tidak sempat karena Dong Hae yang adalah teman sekelasnya itu menyerobot dengan pertanyaan yang lain,
“Orang tuanya di mana?”
“Chae Rin sudah masuk ruang operasi. Dan orang tuanya… Dia berpesan untuk jangan menghubungi mereka sebelum semuanya selesai.”
“MWO?” kaget empat namja di depannya itu serempak dengan ekspresi wajah yang sama.
“Lalu? Di mana ruangannya sekarang?” Ki Bum bertanya lagi.
“Ikuti aku!”
---
Empat orang namja itu terlihat hanyut dalam kerisauan satu-persatu. Duduk di bangku tunggu depan ruang operasi dengan gaya masing-masing. Ada yang tertunduk menatapi ujung sepatunya, menempelkan kedua siku tangan di atas lutut sementara telapak tangan menutup wajah, juga ada yang bersandar pada punggung kursi dengan tangan yang bersilang di dada.
Kyu Hyun menatap jengkel namja satu-satunya yang kini sedang mondar-mandir di hadapan mereka. Menggiggit jari-jari tangannya, lalu berhenti mendadak, “Jin Ki… Dia tahu ini?”
Mendengarnya, Kyu Hyun tersentak. Sedangkan 4 namja itu menatapnya dengan tatapan menuntut untuk mendapat jawaban.
Kyu Hyun menggeleng lemas, “Dia tidak tahu.”
“MWO?”
“—Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa kau menjadi satu-satunya yang tahu tentang Chae Rin?”
Lagi-lagi, namja yang bernama Kim Ki Bum itu membombardirnya dengan berbagai pertanyaan yang kali ini terdengar sedikit tidak enak di telinga Kyu Hyun.
“YA! Apa maksudmu? Tentang penyakit Chae Rin, bukan hanya aku yang mengetahuinya. Mustahil jika dokter yang sekarang mengoperasinya juga tidak mengetahui tentang hal ini!”
Aish, kenapa jadi kekanak-kanakan seperti ini? Entahlah… Dalam situasi seperti ini, Kyu Hyun benar-benar kalut.
“Sudah, sudah.” Sela Dong Hae, mencoba menyetabilkan suasana sembari menepuk-nepuk ringan pundak Kyu Hyun di sampingnya, “—Yesung~ah, kau bisa menghubungi Jin Ki, kan?”
Mendengar kalimat Dong Hae yang mengarah untuknya, Yesung menganggukan kepala. Kemudian mengeluarkan handphonenya dari saku, mencari nomer Jin Ki dan menghubunginya, sampai saat terdengar nada tunggu Yesung berjalan mencari tempat untuk berbicara.
---
Kyu Hyun’s POV
Beberapa menit setelah kembalinya Yesung, suasana kembali hening sekarang. Jin Ki sudah diberi tahu. Sementara Ki Bum kini sudah menghentikan tingkahnya yang mondar-mandir seperti setrika itu, menjadi berdiri dengan punggung bersandarkan tembok.
Aku menghela nafas. Baiklah! Hari ini akan ada perombakan skenario yang menjadikan kebohongan itu terbongkar. Cantik sekali! Dalam keadaan yang darurat seperti ini. Berhasil membuat aku kehabisan akal. Lalu melampiaskan apa yang bercampur aduk dalam benakku itu dengan mengusak-usak rambut sampai berantakan. Dong Hae sudah berapa kali menenangkan, tapi tetap saja hatiku merutuki akan apa yang sekarang terjadi. Kenapa harus ada perencanaan konyol itu? Yeoja yang benar-benar membuatku tidak habis pikir bagaimana sebenarnya jalan pikirannya. Apa ini memang adalah efek samping dari penyakitnya? Lalu aku… Demi Tuhan! Aku masih tidak mengerti kenapa aku bisa terseret dalam alur ini?
“Kau mau kemana?” salah seorang dari mereka bertanya, begitu aku melangkah meninggalkan kursi yang tadi kududuki.
Aku menatapnya, namja bertubuh paling pendek di antara kami, “Mencari angin.” Jawabku singkat yang setelahnya langsung melanjutkan langkah, berniat mencari tempat yang sedikit terbuka.
Namun beberapa meter saja, aku mendadak menghentikan langkah. Seorang namja yang tampak acak-acakan tatanan rambutnya juga wajah yang kentara sembab, kini turut menghentikan langkah begitu tatapannya menubrukku, kemudian menundukan wajah. Nafasnya terengah-engah dengan sebelah tangan menggapai tembok di sampingnya, berniat meneruskan langkahnya yang gontai. Namun dengan sigap aku menahan pergelangan tangannya yang lain.
Okay! Kebohongan konyol ini akan berakhir.
Aku merogoh saku jaket tebalku, di mana tadi aku mengamankan barang titipan Chae Rin sebelum memasuki ruang operasi.
Setelah merasa siap untuk menyerahkannya dan menjelaskan semuanya kepada bocah laki-laki di depanku ini, aku mencoba membuka telapak tangannya yang mengepal, lalu meletakan sesuatu yang semula berada dalam jaketku ke telapaknya, “Apapun yang sudah ia katakan untuk menyakiti hatimu waktu itu, semuanya bohong. Dan aku sebenarnya merasa sangat berdosa karena ikut bermain dalam kebohongan itu… Tapi percayalah, alasannya melakukan ini semua karena ia begitu mencintaimu. Dia malah lebih memilih untuk mati daripada terus hidup tapi kehilangan semua ingatannya dan semua hal tentang kalian. Dia sangat mencintaimu, JinKi~ssi.”
---
Seperti apa yang sudah kukatakan, kebohongan ini berakhir. Selayaknya skenario yang Tuhan ciptakan untuknya, ini telah menjadi episode terakhir untuk seorang malaikat masa kecilku. Aku tidak bisa mendekat. Hanya bersembunyi di sini… di balik tembok ujung koridor. Menyaksikan scene terakhir yang memilukan. Sebelum merasa benar-benar lemah hingga gravitasi menguasaiku dan membuatku jatuh begitu saja. Masih bersandar pada tembok, aku menepuk-nepuk dadaku yang setiap detik terasa semakin sakit.
Skenario konyol yang diciptakan seseorang yang mencoba untuk terlihat baik-baik saja di sisa pertahanan terakhirnya. Menutupi tentang apa yang selama ini membuatnya sakit, agar orang-orang disekitarnya tidak ikut merasakan.
Hebat! Kau benar-benar mengajariku tentang berartinya sebuah makna dari setiap helaan nafas, Lee Chae Rin~ssi…
***
Tersadar dari apa yang beberapa menit sudah membuatnya mengembara pada masa lalu, Kyu Hyun merasakan sebuah getaran yang membangunkannya. Ia menatap layar touchscreen android miliknya yang ia biarkan tergeletak di meja, sebelum memutuskan untuk memungutnya. Ia memencet tombol answer seteleh terlebih dahulu mengembalikan pigura kecil di tangannya tadi kembali ke tempat semula.
“Yeobosaeyo?”
“Ah, Hyeong~ah. Kau sedang sibuk?” terdengar jawaban dari speaker android Kyu Hyun.
“Tidak… Kenapa?”
“Bisakah kita bertemu di tempat biasa?”
“Nde~” sahut Kyu Hyun, “Sekarang kau di mana?”
“Aku sudah menunggumu di sini, Hyeong.”
“Ah, tunggulah. Aku segera ke sana.”
***
Author POV’s
Kyu Hyun berjalan memasuki café yang berada tidak terlalu jauh dari rumahnya, masih pada kawasan Apgujeong. Matanya menangkap sosok berjaket coklat di pojok ruangan cafe yang saat ini tidak begitu ramai, tengah duduk ditemani secangkir espresso. Senyum merekah di wajah orang tersebut begitu menyadari kehadiran Kyu Hyun di hadapannya.
“Ah, Hyeong~ Kau sudah datang. Duduk Hyeong.”
Kyu Hyun mengangguk, membalas senyumnya, “Kau juga penyuka espresso kan, Hyeong~? Aku akan memesankannya.” Ucap namja di hadapannya itu lagi, kemudian dengan segera melambaikan tangannya kepada salah satu pelayan wanita.
“Kau mengajakku ke sini bukan hanya untuk menemanimu menghabiskan secangkir espresso, kan?” tanya Kyu Hyun yang membuat namja di depannya itu menyunggingkan senyum tipis.
“Anni.”
“Wajahmu selalu saja begitu. YA! Jin Ki~ah, sudah berapa kali kukatakan, kalau ada masalah jangan dipendam.”
Tampak Jin Ki melemparkan pandangannya ke arah luar, melalu jendela kaca bening di samping mereka, lalu menghela nafas, membuat asap kecil terlihat mengepul keluar dari mulut dan lubang hidungnya.
“—Masalah dengan Ayahmu?” tanya Kyu Hyun seperti bisa menebak apa sebenarnya yang membuat suasana wajah namja di hadapannya itu mendung, seperti keadaan cuaca hari ini.
Jin Ki beralih menatap wajah Kyu Hyun, lalu mengangguk kecil, “Abeoji menuntut hal itu lagi.” Ucapnya dengan mimik wajah yang semakin tak bersemangat untuk hidup. Mendengarnya, Kyu Hyun membuang nafas kasar.
“Lalu? Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku meminta Abeoji menyetujui permohonanku untuk mengadopsi anak.” Sahut Jin Ki yang berhasil mengundang keterkejutan Kyu Hyun,
“MWO?”
Jin Ki membuang pandangan kembali ke jalan luar, “Ini adalah cara terakhir untuk mewujudkan keinginan Abeoji. Mengingat janjiku, aku tidak mungkin memenuhi keinginan beliau untuk segera menikah.”
“Ayahmu menyetujuinya?—Ah, ye~ gamsahamnida…” Kyu Hyun menganggukan kepala begitu seorang pelayan datang meletakan secangkir espresso ke meja di depannya. Lalu kembali beralih menatap Jin Ki.
“Untuk saat ini aku belum menerima respon.” Jawab Jin Ki sepergi pelayan itu dari hadapan mereka berdua.
“Kau sama saja seperti Chae Rin.” balas Kyu Hyun “Aneh! Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana jalan pikiran kalian.”
“—Aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya aku yang menjadi Ayahmu.” Celetuknya kemudian meraih cangkir espresso di hadapannya dan menyeruputnya perlahan-lahan. Sementara Jin Ki tersenyum kecut memandangi cangkir di hadapannya dengan tatapan hambar.
---
“Annyeonghasimnikka, Ahjussi~” sapa seorang bocah laki-laki di hadapannya sembari membungkukkan badan. Saat itu Kyu Hyun baru saja turun dari mobilnya hendak menuju kantor tempat sekarang ia bekerja sebelum nantinya benar-benar harus menerima jabatan sebagai penerus CEO di Shinhaedong Corp. Langkah Kyu Hyun terhenti begitu seorang namja dan seorang bocah laki-laki datang menyambanginya.
Awalnya Kyu Hyun tidak percaya dengan apa yang kini ada di depannya. Jin Ki tersenyum lebar sebelum menyuruh bocah yang ia bawa itu menyapa Kyu Hyun.
“Annyeonghasimnikka.” Balas Kyu Hyun, lalu menatap Jin Ki dengan penuh tanda tanya besar.
“Dia anakku Hyeong~” jawab Jin Ki yang masih menautkan senyum lebar di wajahnya. Sampai beberapa detik kemudian, Kyu Hyun baru bisa mengerti, “—Namanya Lee Jun Hae.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar