Title: Mianhaeyo
Cast: Jung Jun Hyung (B2ST), Yang Yo Seob
(B2ST), Eun Ji (A Pink)
Genre: Friendship, Family, Sad
PG: + 13
---
Ini Fan Fiction udah lama, udah beberapa abad
yang lalu, makanya tulisannya masih rada-rada xD
Tapi, happy reading aja deh, :)
---
“Mwo? Jadi hari ini kamu langsung kembali ke Daegu?” aku membelalakan mata,
menatap anak lelaki berkacamata yang mejanya berada paling pojok ruangan kelas,
tepat di belakang tempat dudukku. Ia hanya mengangguk pelan sekali, masih sibuk
memasukkan beberapa peralatan tulisnya yang baru saja digunakan saat test tadi
berlangsung.
“Tapi, setelah inikan masih ada test wawancara siswa lagi yang harus kita
selesaikan. Namamu berada diurutan paling akhir untuk dipanggil. Itu berarti,
hari sudah mulai senja baru kamu bisa pulang. Apa nggak takut?” tanyaku lagi.
Ia menggelengkan kepala.
“Gwenchanayo~!” sahutnya, lalu meletakkan tas
sikut hitamnya itu di samping kursi yang ia duduki. Bocah asal Daegu yang baru
aku kenal kemarin, saat hari pertama test masuk ShinDong High School—(Mianhae,
namanya sekolahnya aku ngarang)—ini tersenyum kepadaku, lalu bangkit dari
tempat duduknya. “Mending ke kantin yuk. Aku lapar!” ajaknya sambil membetulkan
letak kacamata di hidungnya. Aku hanya bisa menarik napas, sebelum mengangguk
mengiyakan. Bocah ini, selalu saja seperti ini. Kadang-kadang ia bisa terlihat
humoris dengan lelucon-lelucon aneh dari ucapan dan sikapnya, tapi juga bisa
jadi sedingin dan semisterius seperti saat ini. Kau tahu, bagaimana perasaan jenuh
memenuhiku, saat berjalan bersamanya menuju kantin? Ia sama sekali tidak
mengeluarkan sepatah kata pun untuk dijadikan bahan perbincangan.
Sesekali aku mencoba meliriknya, menatap
diam-diam wajahnya yang seperti menyimpan banyak hal-hal terpendam. Wajah yang
mendaftarkan dirinya untuk mengikuti test penerimaan siswa baru di salah satu
sekolah swasta di Seoul ini pada saat 10 menit tersisa sebelum penutupan. Wajah
yang selalu datang paling awal setiap harinya semenjak hari pertama test. Aku
benar-benar dibuat penasaran dengan bagaimana sebenarnya kehidupan yang ia
jalani.
Di samping rasa penasaran itu, aku juga
diliputi rasa bingung dengan sikapnya terhadap anak-anak lain yang mengikuti
test bersama-sama kami. Ia tidak terlihat mempunyai teman selain aku. Padahal
beberapa anak sering menghampiri tempat duduknya untuk mengajak kenalan dan
memintanya ikut bergabung dengan mereka. Tapi ia hanya menanggapinya dengan
senyum dan berbicara seperlunya saat ia ditanya oleh anak-anak itu akan siapa
namanya, dimana tempat tinggalnya, dan kenapa ia memutuskan untuk mengikuti
test di sini, lalu menginap dimana untuk beberapa hari ini? Aku pun sempat
bertanya kenapa ia selalu bersikap dingin kepada anak-anak itu? Dan dengan
santainya ia menjawab, “Aku tidak terbiasa mempunyai banyak teman.” Lagi-lagi
aku hanya bisa menghembuskan nafas. Sungguh, saat ini aku pun masih bertanya
tentang bagaimana aku bisa berteman dengan orang seperti Yong JunHyung? Manusia
dengan sifat gandanya yang dengan mudah mengubah mood. Saat sedang baik, maka
suasana akan begitu hangat dan aku tak bisa lepas tertawa melihat
kekonyolan-kekonyolan yang ia tunjukkan di depanku, tapi beberapa saat kemudian
ia akan mengubah suasana lebih dingin daripada bongkahan salju.
“JunHyung-ah, kau mau apa? Biar nanti aku
yang pesankan.” Tawarku begitu kami berdua sudah hampir sampai di depan pintu
masuk kantin.
“Nggak usah! Lebih baik sama-sama. Lagi pula
aku cuma pengen ambil beberapa potong roti.” sahutnya. Aku hanya bisa
menganggukkan kepala. Kali ini aku tidak ingin lagi berniat mendebat
keputusannya.
“Ne~! Terserah saja.” kataku pelan. JunHyung
tersenyum.
---
“YoSeob~ah! Sekarang giliranmu!”
JunHyung mengguncang-guncang tubuhku yang sempat tertidur bersandar pada
dinding teras kelas tempat kami test. Aku menatap JunHyung yang duduk di
sampingku dengan mata mengerjap-ngerjap karena sedikit terkejut. “Aish, ppali!
Namamu sudah dipanggil!” katanya, lalu mendorong tubuhku ke arah pintu yang
tidak terlalu jauh dari tempat kami berdua menunggu sedari tadi. Aku bergegas
berdiri, menarik nafas seejenak untuk mengumpulkan keberanian dan juga
mengumpulkan kesadaran setelah beberapa menit yang lalu sempat tertidur. Aku
tahu, ini semua adalah hasil dari begadang semalam demi menyiapkan diri untuk
menghadapi test wawancara. Ah~ Ini sangat mendebarkan!
Sebelum melangkahkan kaki memasuki ruangan
test, aku kembali menoleh ke arah bocah asal Daegu yang masih duduk menunggu
gilirannya di belakangku itu. “JunHyung~ah. Gomawo, sudah memberitahuku.”
ucapku berterimakasih.
Bocah berkacamata itu mengangguk dan
lagi-lagi menampilkan senyumnya, “YoSeob~ah! FIGHTING!” ucapnya, memberiku
semangat dengan tangan kanan yang mengepal ke udara. Aku terkekeh pelan, lalu
menganggukkan kepala sebelum melangkahkan kaki masuk ruangan test.
---
YoSeob melangkah dengan pasti menuju ruangan
test dengan jantung yang semakin cepat berdegup. Hatinya berharap penuh semoga
dia dan JunHyung bisa melalui test wawancara ini dengan baik. Test terakhir
yang akan mereka jalani dan sangat berpengaruh dengan diterima atau tidaknya
mereka di sekolah favorite ini yang sudah menjadi tempat tujuan mereka untuk
melanjutkan pendidikan. YoSeob sangat berharap besar agar sama-sama bisa
diterima dengan JunHyung, lalu tinggal satu asrama dan pergi ke sekolah
bersama-sama setiap paginya. Ya, memang begitu adanya jika memutuskan untuk
menuntut ilmu di sekolah ini. Sekolah swasta yang didirikan oleh Yayasan
ShinDong.
Di Yayasan ShinDong ini sendiri tidak hanya
mendirikan High School, tapi dari Taman Bermain, Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah Pertama semuanya ada dan bersatu dalam satu kompleks Yayasan ShinDong.
Setiap hari suasana di kompleks ini sangat ramai oleh siswa-siswanya. Sekolah
di sini pun terkenal dengan anak-anak didiknya yang banyak berprestasi.
Sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan ShinDong ini sudah
langganan merebut gelar juara oliempiade. Maka dari itu banyak orang-orang tua
yang berkeinginan untuk anak-anak mereka bisa bersekolah di sini. Dengan
harapan agar anak-anak mereka juga bisa mencetak prestasi-prestasi gemilang.
Meningkatnya jumlah pendaftar setiap
tahunnya, membuat persaingan semakin ketat, sedangkan banyaknya yang diterima
tergantung pada quota. Hal ini jugalah yang banyak membuat hati para
orang tua was-was, kalau seandainya anak-anak mereka dinyatakan tidak diterima
karena gagal mengikuti test tertulis maupun test wawancara.
Lalu, untuk para siswa yang dinyatakan lolos
dan diterima bersekolah di sana, maka mereka diharuskan untuk tinggal di asrama
dengan tujuan agar belajar mereka lebih fokus. Terkecuali siswa-siswa yang
masih di Taman Bermain dan Sekolah Dasar, mereka tidak diwajibkan tinggal di
asrama.
---
“Waeyo?” JunHyung menatap heran YoSeob yang
baru saja keluar dari ruangan test dengan ekspersi wajah ditekuk. Suara helaan
nafas pun terdengar begitu ia mendudukan tubuhnya di samping kiri JunHyung,
lalu menyandarkan punggungnya pada dinding teras. “Neon gwenchana?” tanya
JunHyung lagi memastikan.
YoSeob menggelengkan kepalanya pelan, masih
dengan ekspersi datar. Matanya menerawang ke depan, ke halaman sekolah. “Aku
hanya takut kalau aku tidak diterima nantinya.” ucapnya lirih tiba-tiba.
JunHyung yang mendengar itu langsung menoleh dengan satu alis terangkat.
“Mwo?”
“Ne~ Aku benar-benar akan merasa begitu
bersalah. Aku…” YoSeob tertunduk. Ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Tsskk!” JunHyung mendesis jengkel, dan
secara tiba-tiba langsung memukulkan buku tipis yang ada di tangannya itu ke
kepala YoSeob.
“YA! Appo! Kenapa kau memukul kepalaku?”
YoSeob mengusap-usap kepalanya. Protes karena tidak terima kepalanya dipukul
sembarangan seperti itu.
“Pesimislah lagi? Maka buku ini akan terus
melayang ke kepalamu?” YoSeob beringsut menggeser sedikit tubuhnya ke samping
begitu JunHyung kembali mengangkat buku itu ke udara, berniat ingin
menghantamkan ke kepala YoSeob lagi sepertinya. “Bagaimana bisa kau berpikir
seperti anak kecil begitu, hah?” Melihat tatapan tajam JunHyung, YoSeob
meringis. ‘Ternyata semengerikan itu JunHyung kalau sudah marah?’ bisik YoSeob
dalam hati.
JunHyung membuang nafas. “Seharusnya kau bisa
berpikir sedikit dewasa.” Suaranya tiba-tiba melemah. YoSeob menoleh. Menatap
wajah JunHyung yang sekarang membuang pandangannya ke arah halaman. Ia pun
sudah menurunkan tangannya, tidak lagi berniat memukul kepala YoSeob dengan
buku.
“YoSeob~ah! Apapun hasilnya nanti, itu adalah
yang terbaik. Tidak ada kata gagal, selagi kita mau mencoba. Tuhan punya maksud
sangat indah yang kita belum tahu. Jadi belajarlah untuk menerima. ARRSEO?!!”
JunHyung menekankan suaranya pada akhir kalimat yang ia ucapkan, membuat YoSeob
terperanjat dan lagi-lagi menggeser tubuhnya ke samping. Tangannya yang tadi
baru saja selesai ia gunakan untuk mengelus kepalanya, kini beralih mengelus
dadanya dan saat itu merasakan jantungnya berdetak lima kali lebih cepat.
Ditambah lagi dengan tatapan tajam JunHyung, YoSeob hanya bisa menelan ludah,
lalu mengangguk seperti nyawanya yang akan terancam apabila ia menggelengkan
kepala.
JunHyung mendengus, “Sudahlah! Kau yang tidak
punya urusan lagi sekarang, lebih baik pulang!” ucap JunHyung. YoSeob menarik
telapak tangannya ke bawah.
“Anni!” Ia menggeleng, “Aku masih punya
urusan!” katanya lagi. JunHyung mengerutkan kening.
“Urusan apa lagi?”
“Ne~ Aku masih punya urusan untuk memastikan
bahwa bocah asal Daegu itu menuntaskan testnya apa tidak? Aku takut dia kabur
hanya gara-gara takut berhadapan dengan penguji.”
Dan sekali lagi, buku itu pun dengan sempurna
menghantam kepala YoSeob.
---
JunHyung melangkahkan kaki kanannya begitu
keluar dari ruangan test. Menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan. Seorang
bocah lelaki yang mengenakan seragam SMP berbeda dengan yang ia kenakan, tengah
berdiri menunggunya selesai menjalani test wawancara. Bocah lelaki yang
memiliki name tag bertuliskan “Yang YoSeob” pada seragamnya itu tersenyum
begitu melihat JunHyung yang sudah keluar dan juga tengah memandang ke arahnya.
JunHyung balas tersenyum, lalu berjalan
menghampiri YoSeob, teman yang baru ia kenal kemarin, saat hari pertama test di
ShinDong Senior High School ini.
“Bagaimana? Sukses?” tanya YoSeob bersemangat
kepada JunHyung yang sudah berdiri di hadapannya.
JunHyung mengangguk, tanpa menanggalkan
senyum manis di wajahnya, “Ne~ Kau tahu? Aku sudah membuat Ibu penguji itu
terpukau dengan jawaban-jawaban dariku.” jawab JunHyung dengan begitu percaya
diri.
“Geurae? Ah, kau hebat!” pekik YoSeob. “Aku
jadi takut kalah saingan denganmu.”
“Berkata sekali lagi seperti itu, bukan buku
yang melayang, tapi tas ini yang akan menghantam kepalamu! Kau mau?!” YoSeob
terundur beberapa langkah ke belakang begitu mendengar ancaman yang mengerikan
keluar dari mulut JunHyung.
“Andwae!” teriaknya sambil memposisikan kedua
lengan tangannya di depan wajah, bermaksud menangkis jika JunHyung benar-benar
akan melayangkan tas itu ke kepalanya.
“Tssk!” JunHyung melengos.
“Ah, ne~!” ucap YoSeob tiba-tiba. JunHyung
memandangnya heran, masih dengan wajah jengkel.
“Wae?” JunHyung menyahut ketus.
“Tadi aku udah nelpon Eomma, minta jemput.
Mungkin sebentar lagi datang. Kamu ikut aku aja ya? Ini udah sore banget.
Nginep dulu lah di tempat aku. Besok baru pulang. Eottae?” bujuk YoSeob.
Entah sudah keberapa kalinya ia meminta JunHyung menunda rencananya untuk
pulang ke Daegu sore ini juga.
JungHyun berpikir sejenak, “Gomawo atas
tawarannya.” Sahut JunHyung, lalu menepuk pundak kiri YoSeob. Dalam hati Ia
benar-benar merasa terharu dengan kebaikan yang sudah YoSeob lakukan untuknya
semenjak mereka kenal. “Tapi aku harus kembali ke Daegu hari ini juga.” Katanya
kemudian, lalu membiarkan matanya menerawang, dan menjejalkan kedua
tangannya pada saku jas seragam sekolahnya yang berwarna hitam.
“Geurea.” YoSeob hanya bisa menganggukkan
kepala, mencoba menyetujui keputusan JunHyung. Dia mencoba untuk mengerti.
Barangkali JunHyung punya urusan yang penting dan harus segera ia selesaikan.
JungHyung melirik sejenak ke arah jam tangan
putih di pergelangan tangan kirinya, lalu beralih menatap kepada YoSeob, “Aku
harus segera ke terminal. Aku tinggal duluan ya? Gwenchanna?” katanya.
YoSeob menganggukkan kepala, “Ye~.
Gwenchannayo!” sahut YoSeob dengan senyum manis yang tersungging di wajahnya.
JunHyung terdiam beberapa saat, sebelum ia
meraih pundak teman seperjuangannya itu, lalu merengkuhnya ke dalam pelukkan.
Ia memeluk YoSeob erat sekali. Seperti sudah berteman lama saja. Padahal baru
kenal 2 hari, semenjak test itu dimulai. “Terimakasih sudah menjadi temanku.
Seandainya tidak bertemu denganmu, mungkin aku hanya akan terlihat seperti
patung malang yang duduk di pojok ruangan kelas, karena tidak memiliki teman
seorang pun.” Kata JunHyung, membuat YoSeob yang sempat merasa sedikit terkejut
dengan sikapnya yang tiba-tiba saja itu tersenyum dan membalas memeluk
JunHyung.
“Ne~! Aku juga sangat bersyukur karena sudah
diizinkan untuk mengenalmu. Kita sama-sama orang yang canggung untuk berteman,
tapi kita bisa menjadi sahabat yang baik.” sahut YoSeob tak kalah mengharukan.
Ia menepuk-nepuk punggung JunHyung. “Gomawoyo~!” katanya lagi. JunHyung
mengangguk, lalu melepaskan pelukan mereka.
“Aku yakin kita pasti lolos! Dan akan
mewujudkan harapan kita di sini!” JunHyung menarik nafas sejenak, menatap wajah
YoSeob yang mendengarkan ucapannya dengan seksama, “Tapi ingat!” katanya
kemudian, “Jika kita bertemu lagi nanti, aku tidak ingin melihat pikiran
pesimis itu masih melekat di otakmu. Arraseo?!” JunHyung memasang wajah
mengancam, meskipun kali ini malah membuat YoSeob terkekeh melihatnya.
“Ne~ Arraseo!” sahut YoSeob. JunHyung
tersenyum. Ditepuknya sekali lagi pundak YoSeob.
“Annyeong!” ucapnya sambil merundukkan
sedikit badannya, kemudian menegakkannya kembali.
YoSeob mengangguk, “Annyeonghigaseyo!”
sahutnya
JunHyung pun bergegas menapakkan kakinya
menuju ke arah gerbang untuk keluar kompleks Yayasan ShinDong ini. Ia harus
segera ke terminal. “JunHyung~ah. Jamkanmannyo!” tiba-tiba YoSeob berteriak
menahan langkah JunHyung yang sudah berada beberapa meter di hadapannya.
JunHyung menoleh ke belakang, ke arah YoSeob,
“Waeyo?” tanyanya juga setengah berteriak.
“Tanggal 20 nanti, apa kau datang?”
JunHyung terdiam sejenak. ‘Tanggal 20?’ “Apa
kau bisa hadir ke sini untuk melihat hasil pengumuman?” YoSeob bertanya lagi.
JunHyung menganggukkan kepalanya.
“Aku usahakan untuk datang!” sahutnya. YoSeob
tersenyum, lalu mengacungkan dua jempol tangannya ke arah JunHyung. JunHyung
pun melakukan hal serupa. Membuat senyum YoSeob semakin tertaut lebar.
“Hati-hati di jalan, ne? Semoga sampai ke
Daegu dengan selamat!” pesan YoSeob. JunHyung tersenyum, menganggukan kepalanya
sekali, sebelum ia membalik tubuhnya untuk beranjak pergi dan benar-benar sudah
tidak terlihat lagi oleh mata YoSeob.
***
JunHyung melirik jam tangannya, sudah hampir pukul 8. Perjalanan dari Seoul ke
Daegu memang memakan waktu cukup lama. Hampir 4 jam. Tapi, sekarang JunHyung
sudah bisa menarik nafas lega. Karena ia sudah sampai ke tempat tujuan dengan
selamat. Begitu keluar dari terminal Daegu tadi, JunHyung langsung menyetop
taksi untuk membawanya ke rumah.
“Gamsahamnida.” ucap JunHyung begitu menyerahkan beberapa lembar uang kepada
sopir taksi. Si sopir taksi itu tersenyum, menganggukkan kepala hormat setelah
menerima uangnya, lalu membawa taksi itu berlalu.
JunHyung membalik badan, sejenak membiarkan matanya memandangi keadaan rumahnya
dari luar, kemudian membuang nafas kasar. Ia sudah bisa menerka apa yang akan
terjadi jika nanti dia masuk ke dalam sana. Tapi ia tidak peduli itu.
Perlahan ia mendorong pagar kayu rumahnya, lalu masuk melewati pekarangan yang
cukup luas.
Sesampainya di beranda rumah, JunHyung membuka pintu. Suara decitan terdengar.
Lalu menutupnya kembali, setelah terlebih dahulu masuk. Ia melepas sepatunya,
meletakannya pada rak yang terletak tidak terlalu jauh dari pintu.
“JunHyung-ah!” suara berat seseorang terdengar memanggil nama JunHyung.
JunHyung sudah tahu akan siapa orang itu. Tapi, ia masih sibuk menata susunan
sepatu-sepatunya di rak, bersikap seolah-olah tidak mendengar. “Sudah berapa
kali Appa katakan, jangan pergi ke Seoul!” kali ini, suara orang yang ternyata
adalah Appanya JunHyung itu meninggi. Terdengar membentak.
JunHyung membalik badan, menatap Appanya dengan wajah santai. Tangannya ia
jejalkan ke dalam saku jaketnya, lalu menerawangkan pandangan sambil
menghembuskan nafas dari mulut. Tidak mempedulikan bagaimana ekspersi wajah
sang Ayah yang sepertinya sudah dikuasai amarah tingkat atas itu.
“Berhenti bersikap seperti ini JunHyung~ah! Appa muak meladeni anak keras
kepala sepertimu! Stop mengatakan untuk-“
“Dan berhenti melarangku untuk mencari Eomma, APPA!”
---
Yong JunHyung’s POV
Pintu
berdecit begitu aku membukanya. Keadaan rumah masih sama saja dengan sebelum
aku berangkat ke Seoul beberapa hari yang lalu, sangat sepi. Aku menutup
kembali pintu dan masuk ke dalam, setelah terlebih dahulu melepas sepatuku,
kemudian meletakannya di rak.
“JunHyung~ah!”
seseorang sepertinya memanggilku dari arah belakang. Ah, bukan sepertinya lagi,
tapi memang aku yang dipanggil. Dan yang memanggil itu pun aku tahu dia siapa.
Emang selain aku dan Appa siapa lagi yang menghuni rumah ini?
Aku
tidak menghiraukan panggilan itu. Masih sibuk membereskan sepatu-sepatuku di
rak, bersikap seolah-olah tak mendengar. Bukan maksud apa-apa, aku hanya
menghindari perdebatan malam ini. Sudah kukatakan kalau aku sedang capek bukan?
Dan aku tidak punya energi menghabiskan waktu untuk saling menegangkan suara
dengan Appa.
“Sudah
berapa kali Appa katakan, jangan pergi ke Seoul!” bentak Appa dengan suara
tinggi. Sepertinya kemarahan beliau sudah hampir mencapai titik puncak. Aku
hanya menarik nafas begitu membalik badan. Berusaha menampilkan ekspresi santai
menghadapi sikap pemarah Appa. Itu tidak terlalu sulit untukku sebenarnya,
karena aku telah terbiasa menghadapi Appa seperti ini. Aku sudah sering
mendapat marah Appa, tapi lama-lama itu malah menjadikan aku seperti sekarang.
Aku yang tidak menghiraukan perintahnya, menjadi sosok anak bandel yang selalu
melunjak. Maaf Appa, caramu yang mendidikku dengan emosi membuatku menjadi
kebal setiap kali kau membentakku.
Kutatap
Appa sejenak dengan ekspresi biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Lalu
melempar pandangan ke sekeliling sambil menjejalkan tanganku pada saku jaket.
Kemudian dengan pelan menghembuskan nafas dari mulut. Entahlah, bagaimana
perasaan Appa melihat tingkahku, tapi sepertinya raut wajahnya semakin tidak
membaik.
“Berhenti
bersikap seperti ini JunHyung~ah! Appa muak meladeni anak keras kepala
sepertimu! Stop mengatakan untuk-“
“Dan
berhenti melarangku untuk mencari Eomma, APPA!” entah setan apa yang sekarang
memasuki tubuhku membuatku tidak bisa mengendalikan otakku sendiri, hingga aku
bisa menyambar perkataan Appa dengan suara yang terdengar jauh lebih nyaring
daripada suara Appa. Seketika tubuhku menegang setelah melihat ekspersi
terkejut Appa menatap wajahku. Ini… Aku tidak pernah terpikir untuk seperti
ini. Demi Tuhan, meskipun selama ini aku sering berdebat dengan Appa dan
terkesan sebagai seorang anak bandel yang melunjak akan perintah orang tua,
tapi aku tidak pernah membalas Appa dengan suara yang melengking seperti tadi.
Kulihat
Appa terdiam di hadapanku. Wajahnya semakin memerah, “KAU-!” Appa tampak
mengepalkan tangannya geram. Matanya semakin tajam menatap wajahku yang berdiri
beberapa meter di hadapannya.
Aku
tahu bagaimana kemarahan sekarang sudah memenuhi perasaannya, hingga ia kehabisan
akal untuk melanjutkan ucapannya lagi. Dan aku tahu darahnya yang semakin
mendidih karena mendapati putra satu-satunya yang ia miliki sudah berani
membalas membentaknya dengan suara tinggi. Aku memang kurang ajar Appa. Maafkan
aku. Ini diluar kendaliku. Demi Tuhan, jauh di dalam hatiku, aku menyesal. Aku
menyesal dengan semua ini.
---
Setelah
merasa berhasil menguasi diri dan pikirannya, Jun Hyung kembali mencoba untuk
menatap Appa, “Appa… Anak mana yang tidak ingin bertemu dengan Ibunya? Anak
mana yang tidak merasa teriris hatinya setiap kali melihat teman-temannya
bahagia berada di dekat Ibu mereka, sedangkan ia tidak? Bahkan untuk menyebut
nama orang yang sudah melahirkannya ke dunia ini pun ia tidak tahu. Sekali saja
Appa, biarkan aku melihat langsung orang yang sudah melahirkanku ke dunia ini.
Jebal~!” ucapan yang benar-benar tidak terpikirkan oleh Ayahnya akan meluncur
dari mulut seorang Yong JunHyun. Suara yang tiba-tiba melemah itu, membuat
Ayahnya diguncang perasaan tak tentu arah. Di satu sisi ia tetap ingin
mempertahankan JunHyung mengikuti kehendaknya, tapi di sisi lain, ketika ia
melihat pandangan itu, pandangan yang tadinya tajam membalas perintahnya, kini
tiba-tiba meredup sendu, ia jadi merasa akan ada sesuatu yang mencabiknya saat
itu juga. Apakah ia selama ini salah menutup-nutupi semua ini dari JunHyung?
Ia
tidak tahu harus menggunakan cara apa lagi. Mendengar ungkapan jujur JunHyung
akan bagaimana ia selama ini menjalani hari-harinya tanpa seorang Ibu, membuat
ia merasa tiba-tiba persendiannya melemah. Kepalan kuat tangannya tiba-tiba
merenggang. Panas emosi di wajahnya kini perlahan merangkak ke matanya.
Sejenak
suasana dingin, JunHyung membeku di tempatnya. Sang Ayah memilih untuk
mendudukan tubuhnya pada sofa hitam yang tak jauh dari tempat ia tadi berdiri.
Terpekur di sana untuk beberapa saat. Pikirannya benar-benar kalut. Melepas
kacamata, lalu memijit-mijit dahi seperti orang frustasi, hanya itu yang bisa
ia lakukan.
“Tapi
dia bukan seorang Ibu untukmu, JunHyung~ah!” katanya pelan dengan suara lirih,
namun masih bisa ditangkap JunHyung. JunHyung mengangkat kepalanya, menatap
sang Ayah yang kini tertunduk di sofa.
“Waeyo?
Kenapa Ayah berkata seperti itu?”
“Dia
sudah meninggalkanmu, JunHyung~ah. Berhentilah berharap untuk bertemu dengannya.”
Mendengar
ucapan Ayahnya kali ini, JunHyung tersenyum kecut.
“Pasti
Eomma punya alasan tersendiri untuk meninggalkanku. Aku tidak bisa langsung
memvonisnya kalau dia membenciku. Seandainya dia tidak menginginkan aku lahir,
mungkin dia sudah membunuhku sejak aku masih dalam perut.”
Appanya
yang semula tertunduk, langsung mengangkat wajah. “Biarkan aku menemuinya Appa.
Aku hanya ingin melihatnya, memanggilnya Eomma, dan mengucapkan terimakasih
karena sudah melahirkanku, meskipun itu terjadi hanya sekali.” sambung JunHyung
lagi, tanpa memberikan kesempatan Ayahnya untuk menyahut.
Ini
benar-benar…
Ayahnya
tidak bisa berkutik sama sekali lagi sekarang. Ia membuang pandangan dari wajah
JunHyung. Wajah putra yang sudah ia besarkan sendiri hingga hampir menginak
usia 16 tahun itu, sungguh sangat keras kepala.
Suara
hembusan nafas berat terdengar begitu pria paruh baya itu bangkit dari posisi
duduknya di sofa. Sekali lagi ia memandang JunHyung, namun kali ini tatapannya
terlihat sayu. “Geurae.” ucapnya, “Tapi jangan salahkan Appa jika kau kecewa
nantinya.”
JunHyung
mengangguk. Lagi, sang Ayah hanya bisa menghembuskan nafas, lalu berlalu dari
hadapan JunHyung menuju ke kamarnya.
Sepeninggal
sang Ayah, JunHyung benar-benar tidak bisa mengontrol perasaannya lagi. Menahan
airmata yang sudah mendesak untuk keluar semenjak ia mengatakan bagaimana
batinnya selama ini menanggung status anak tanpa mengatahui “Ibu”. Bagaimana ia
memendam iri yang teramat sangat saat menyaksikan teman-temannya yang
berbahagia bersama Ibu mereka.
Secepat
ia bisa, JunHyung berlari menjangkau kamarnya yang ada di lantai dua. Meraih
ganggang pintu dan melesat masuk ke dalam. Lalu tersandar begitu saja pada
badan pintu. Berusaha menahan isaknya dengan membekap mulut menggunakan telapak
tangan. Tak kuat, ia ambruk begitu saja ke lantai. Air mata yang beberapa menit
lalu ia tahan untuk disembunyikan, kini merembes deras keluar. Tak bisa ia
cegah lagi.
Mungkin
selama ini orang mengira bahwa JunHyung adalah sosok anak yang berpendirian
“masa bodoh”. Tidak mahu tahu dengan apapun. Orang yang terkesan misterius
dengan sifat pendiamnya. Tapi ternyata itu hanyalah bagian dari sisi luar.
Sedangkan di dalam, rintihan sakit yang orang-orang tidak tahu, terus saja
mengguncang batinnya setiap detik. Rasa iri, miris, kecewa di hatinya beremebuk
menjadi satu dan membuat ia harus menanggung perih setiap kali menghela nafas.
JunHyung memang adalah sosok yang pandai menyembunyikan keadaan hatinya kepada
orang-orang di sekitarnya, tapi ia tidak bisa mengelabuhi dirinya sendiri dan
malam ini dia akan mengakui semua, bahwa dia juga adalah sosok yang menangis
saat rapuh. Meski hanya bersandar hanya pada badan pintu, ia menumpahkan
semunya sendiri setelah mengunci pintu kamarnya rapat.
---
***
Eottae? Ini gimana? Gaje yaa?? xD
FF gue udah lama nih, sempet pernah gue posting di Fp Kumpul
Eottae? Ini gimana? Gaje yaa?? xD
FF gue udah lama nih, sempet pernah gue posting di Fp Kumpul



