Rabu, 09 Januari 2013

Mianhaeyo (PART 1)

Title: Mianhaeyo




Cast: Jung Jun Hyung (B2ST), Yang Yo Seob (B2ST), Eun Ji (A Pink)
Genre: Friendship, Family, Sad
PG: + 13
---
Ini Fan Fiction udah lama, udah beberapa abad yang lalu, makanya tulisannya masih rada-rada xD
Tapi, happy reading aja deh, :)
---
          “Mwo? Jadi hari ini kamu langsung kembali ke Daegu?” aku membelalakan mata, menatap anak lelaki berkacamata yang mejanya berada paling pojok ruangan kelas, tepat di belakang tempat dudukku. Ia hanya mengangguk pelan sekali, masih sibuk memasukkan beberapa peralatan tulisnya yang baru saja digunakan saat test tadi berlangsung.
          “Tapi, setelah inikan masih ada test wawancara siswa lagi yang harus kita selesaikan. Namamu berada diurutan paling akhir untuk dipanggil. Itu berarti, hari sudah mulai senja baru kamu bisa pulang. Apa nggak takut?” tanyaku lagi. Ia menggelengkan kepala.
“Gwenchanayo~!” sahutnya, lalu meletakkan tas sikut hitamnya itu di samping kursi yang ia duduki. Bocah asal Daegu yang baru aku kenal kemarin, saat hari pertama test masuk ShinDong High School—(Mianhae, namanya sekolahnya aku ngarang)—ini tersenyum kepadaku, lalu bangkit dari tempat duduknya. “Mending ke kantin yuk. Aku lapar!” ajaknya sambil membetulkan letak kacamata di hidungnya. Aku hanya bisa menarik napas, sebelum mengangguk mengiyakan. Bocah ini, selalu saja seperti ini. Kadang-kadang ia bisa terlihat humoris dengan lelucon-lelucon aneh dari ucapan dan sikapnya, tapi juga bisa jadi sedingin dan semisterius seperti saat ini. Kau tahu, bagaimana perasaan jenuh memenuhiku, saat berjalan bersamanya menuju kantin? Ia sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk dijadikan bahan perbincangan.
Sesekali aku mencoba meliriknya, menatap diam-diam wajahnya yang seperti menyimpan banyak hal-hal terpendam. Wajah yang mendaftarkan dirinya untuk mengikuti test penerimaan siswa baru di salah satu sekolah swasta di Seoul ini pada saat 10 menit tersisa sebelum penutupan. Wajah yang selalu datang paling awal setiap harinya semenjak hari pertama test. Aku benar-benar dibuat penasaran dengan bagaimana sebenarnya kehidupan yang ia jalani.
Di samping rasa penasaran itu,  aku juga diliputi rasa bingung dengan sikapnya terhadap anak-anak lain yang mengikuti test bersama-sama kami. Ia tidak terlihat mempunyai teman selain aku. Padahal beberapa anak sering menghampiri tempat duduknya untuk mengajak kenalan dan memintanya ikut bergabung dengan mereka. Tapi ia hanya menanggapinya dengan senyum dan berbicara seperlunya saat ia ditanya oleh anak-anak itu akan siapa namanya, dimana tempat tinggalnya, dan kenapa ia memutuskan untuk mengikuti test di sini, lalu menginap dimana untuk beberapa hari ini? Aku pun sempat bertanya kenapa ia selalu bersikap dingin kepada anak-anak itu? Dan dengan santainya ia menjawab, “Aku tidak terbiasa mempunyai banyak teman.” Lagi-lagi aku hanya bisa menghembuskan nafas. Sungguh, saat ini aku pun masih bertanya tentang bagaimana aku bisa berteman dengan orang seperti Yong JunHyung? Manusia dengan sifat gandanya yang dengan mudah mengubah mood. Saat sedang baik, maka suasana akan begitu hangat dan aku tak bisa lepas tertawa melihat kekonyolan-kekonyolan yang ia tunjukkan di depanku, tapi beberapa saat kemudian ia akan mengubah suasana lebih dingin daripada bongkahan salju.
“JunHyung-ah, kau mau apa? Biar nanti aku yang pesankan.” Tawarku begitu kami berdua sudah hampir sampai di depan pintu masuk kantin.
“Nggak usah! Lebih baik sama-sama. Lagi pula aku cuma pengen ambil beberapa potong roti.” sahutnya. Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Kali ini aku tidak ingin lagi berniat mendebat keputusannya.
“Ne~! Terserah saja.” kataku pelan. JunHyung tersenyum.
---
 “YoSeob~ah! Sekarang giliranmu!” JunHyung mengguncang-guncang tubuhku yang sempat tertidur bersandar pada dinding teras kelas tempat kami test. Aku menatap JunHyung yang duduk di sampingku dengan mata mengerjap-ngerjap karena sedikit terkejut. “Aish, ppali! Namamu sudah dipanggil!” katanya, lalu mendorong tubuhku ke arah pintu yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berdua menunggu sedari tadi. Aku bergegas berdiri, menarik nafas seejenak untuk mengumpulkan keberanian dan juga mengumpulkan kesadaran setelah beberapa menit yang lalu sempat tertidur. Aku tahu, ini semua adalah hasil dari begadang semalam demi menyiapkan diri untuk menghadapi test wawancara. Ah~ Ini sangat mendebarkan!
Sebelum melangkahkan kaki memasuki ruangan test, aku kembali menoleh ke arah bocah asal Daegu yang masih duduk menunggu gilirannya di belakangku itu. “JunHyung~ah. Gomawo, sudah memberitahuku.” ucapku berterimakasih.
Bocah berkacamata itu mengangguk dan lagi-lagi menampilkan senyumnya, “YoSeob~ah! FIGHTING!” ucapnya, memberiku semangat dengan tangan kanan yang mengepal ke udara. Aku terkekeh pelan, lalu menganggukkan kepala sebelum melangkahkan kaki masuk ruangan test.
---
YoSeob melangkah dengan pasti menuju ruangan test dengan jantung yang semakin cepat berdegup. Hatinya berharap penuh semoga dia dan JunHyung bisa melalui test wawancara ini dengan baik. Test terakhir yang akan mereka jalani dan sangat berpengaruh dengan diterima atau tidaknya mereka di sekolah favorite ini yang sudah menjadi tempat tujuan mereka untuk melanjutkan pendidikan. YoSeob sangat berharap besar agar sama-sama bisa diterima dengan JunHyung, lalu tinggal satu asrama dan pergi ke sekolah bersama-sama setiap paginya. Ya, memang begitu adanya jika memutuskan untuk menuntut ilmu di sekolah ini. Sekolah swasta yang didirikan oleh Yayasan ShinDong.
Di Yayasan ShinDong ini sendiri tidak hanya mendirikan High School, tapi dari Taman Bermain, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama semuanya ada dan bersatu dalam satu kompleks Yayasan ShinDong. Setiap hari suasana di kompleks ini sangat ramai oleh siswa-siswanya. Sekolah di sini pun terkenal dengan anak-anak didiknya yang banyak berprestasi. Sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan ShinDong ini sudah langganan merebut gelar juara oliempiade. Maka dari itu banyak orang-orang tua yang berkeinginan untuk anak-anak mereka bisa bersekolah di sini. Dengan harapan agar anak-anak mereka juga bisa mencetak prestasi-prestasi gemilang.
Meningkatnya jumlah pendaftar setiap tahunnya, membuat persaingan semakin ketat, sedangkan banyaknya yang diterima tergantung pada quota. Hal ini  jugalah yang banyak membuat hati para orang tua was-was, kalau seandainya anak-anak mereka dinyatakan tidak diterima karena gagal mengikuti test tertulis maupun test wawancara.
Lalu, untuk para siswa yang dinyatakan lolos dan diterima bersekolah di sana, maka mereka diharuskan untuk tinggal di asrama dengan tujuan agar belajar mereka lebih fokus. Terkecuali siswa-siswa yang masih di Taman Bermain dan Sekolah Dasar, mereka tidak diwajibkan tinggal di asrama.
---
“Waeyo?” JunHyung menatap heran YoSeob yang baru saja keluar dari ruangan test dengan ekspersi wajah ditekuk. Suara helaan nafas pun terdengar begitu ia mendudukan tubuhnya di samping kiri JunHyung, lalu menyandarkan punggungnya pada dinding teras. “Neon gwenchana?” tanya JunHyung lagi memastikan.
YoSeob menggelengkan kepalanya pelan, masih dengan ekspersi datar. Matanya menerawang ke depan, ke halaman sekolah. “Aku hanya takut kalau aku tidak diterima nantinya.” ucapnya lirih tiba-tiba. JunHyung yang mendengar itu langsung menoleh dengan satu alis terangkat.
“Mwo?”
“Ne~ Aku benar-benar akan merasa begitu bersalah. Aku…” YoSeob tertunduk. Ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Tsskk!” JunHyung mendesis jengkel, dan secara tiba-tiba langsung memukulkan buku tipis yang ada di tangannya itu ke kepala YoSeob.
“YA! Appo! Kenapa kau memukul kepalaku?” YoSeob mengusap-usap kepalanya. Protes karena tidak terima kepalanya dipukul sembarangan seperti itu.
“Pesimislah lagi? Maka buku ini akan terus melayang ke kepalamu?” YoSeob beringsut menggeser sedikit tubuhnya ke samping begitu JunHyung kembali mengangkat buku itu ke udara, berniat ingin menghantamkan ke kepala YoSeob lagi sepertinya. “Bagaimana bisa kau berpikir seperti anak kecil begitu, hah?” Melihat tatapan tajam JunHyung, YoSeob meringis. ‘Ternyata semengerikan itu JunHyung kalau sudah marah?’ bisik YoSeob dalam hati.
JunHyung membuang nafas. “Seharusnya kau bisa berpikir sedikit dewasa.” Suaranya tiba-tiba melemah. YoSeob menoleh. Menatap wajah JunHyung yang sekarang membuang pandangannya ke arah halaman. Ia pun sudah menurunkan tangannya, tidak lagi berniat memukul kepala YoSeob dengan buku.
“YoSeob~ah! Apapun hasilnya nanti, itu adalah yang terbaik. Tidak ada kata gagal, selagi kita mau mencoba. Tuhan punya maksud sangat indah yang kita belum tahu. Jadi belajarlah untuk menerima. ARRSEO?!!” JunHyung menekankan suaranya pada akhir kalimat yang ia ucapkan, membuat YoSeob terperanjat dan lagi-lagi menggeser tubuhnya ke samping. Tangannya yang tadi baru saja selesai ia gunakan untuk mengelus kepalanya, kini beralih mengelus dadanya dan saat itu merasakan jantungnya berdetak lima kali lebih cepat. Ditambah lagi dengan tatapan tajam JunHyung, YoSeob hanya bisa menelan ludah, lalu mengangguk seperti nyawanya yang akan terancam apabila ia menggelengkan kepala.
JunHyung mendengus, “Sudahlah! Kau yang tidak punya urusan lagi sekarang, lebih baik pulang!” ucap JunHyung. YoSeob menarik telapak tangannya ke bawah.
“Anni!” Ia menggeleng, “Aku masih punya urusan!” katanya lagi. JunHyung mengerutkan kening.
“Urusan apa lagi?”
“Ne~ Aku masih punya urusan untuk memastikan bahwa bocah asal Daegu itu menuntaskan testnya apa tidak? Aku takut dia kabur hanya gara-gara takut berhadapan dengan penguji.”
Dan sekali lagi, buku itu pun dengan sempurna menghantam kepala YoSeob.
---
JunHyung melangkahkan kaki kanannya begitu keluar dari ruangan test. Menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan. Seorang bocah lelaki yang mengenakan seragam SMP berbeda dengan yang ia kenakan, tengah berdiri menunggunya selesai menjalani test wawancara. Bocah lelaki yang memiliki name tag bertuliskan “Yang YoSeob” pada seragamnya itu tersenyum begitu melihat JunHyung yang sudah keluar dan juga tengah memandang ke arahnya.
JunHyung balas tersenyum, lalu berjalan menghampiri YoSeob, teman yang baru ia kenal kemarin, saat hari pertama test di ShinDong Senior High School ini.
“Bagaimana? Sukses?” tanya YoSeob bersemangat kepada JunHyung yang sudah berdiri di hadapannya.
JunHyung mengangguk, tanpa menanggalkan senyum manis di wajahnya, “Ne~ Kau tahu? Aku sudah membuat Ibu penguji itu terpukau dengan jawaban-jawaban dariku.” jawab JunHyung dengan begitu percaya diri.
“Geurae? Ah, kau hebat!” pekik YoSeob. “Aku jadi takut kalah saingan denganmu.”
“Berkata sekali lagi seperti itu, bukan buku yang melayang, tapi tas ini yang akan menghantam kepalamu! Kau mau?!” YoSeob terundur beberapa langkah ke belakang begitu mendengar ancaman yang mengerikan keluar dari mulut JunHyung.
“Andwae!” teriaknya sambil memposisikan kedua lengan tangannya di depan wajah, bermaksud menangkis jika JunHyung benar-benar akan melayangkan tas itu ke kepalanya.
“Tssk!” JunHyung melengos.
“Ah, ne~!” ucap YoSeob tiba-tiba. JunHyung memandangnya heran, masih dengan wajah jengkel.
“Wae?” JunHyung menyahut ketus.
“Tadi aku udah nelpon Eomma, minta jemput. Mungkin sebentar lagi datang. Kamu ikut aku aja ya? Ini udah sore banget. Nginep dulu lah di tempat aku. Besok baru  pulang. Eottae?” bujuk YoSeob. Entah sudah keberapa kalinya ia meminta JunHyung menunda rencananya untuk pulang ke Daegu sore ini juga.
JungHyun berpikir sejenak, “Gomawo atas tawarannya.” Sahut JunHyung, lalu menepuk pundak kiri YoSeob. Dalam hati Ia benar-benar merasa terharu dengan kebaikan yang sudah YoSeob lakukan untuknya semenjak mereka kenal. “Tapi aku harus kembali ke Daegu hari ini juga.” Katanya  kemudian, lalu membiarkan matanya menerawang, dan menjejalkan kedua tangannya pada saku jas seragam sekolahnya yang berwarna hitam.
“Geurea.” YoSeob hanya bisa menganggukkan kepala, mencoba menyetujui keputusan JunHyung. Dia mencoba untuk mengerti. Barangkali JunHyung punya urusan yang penting dan harus segera ia selesaikan.
JungHyung melirik sejenak ke arah jam tangan putih di pergelangan tangan kirinya, lalu beralih menatap kepada YoSeob, “Aku harus segera ke terminal. Aku tinggal duluan ya? Gwenchanna?” katanya.
YoSeob menganggukkan kepala, “Ye~. Gwenchannayo!” sahut YoSeob dengan senyum manis yang tersungging di wajahnya.
JunHyung terdiam beberapa saat, sebelum ia meraih pundak teman seperjuangannya itu, lalu merengkuhnya ke dalam pelukkan. Ia memeluk YoSeob erat sekali. Seperti sudah berteman lama saja. Padahal baru kenal 2 hari, semenjak test itu dimulai. “Terimakasih sudah menjadi temanku. Seandainya tidak bertemu denganmu, mungkin aku hanya akan terlihat seperti patung malang yang duduk di pojok ruangan kelas, karena tidak memiliki teman seorang pun.” Kata JunHyung, membuat YoSeob yang sempat merasa sedikit terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba saja itu tersenyum dan membalas memeluk JunHyung.
“Ne~! Aku juga sangat bersyukur karena sudah diizinkan untuk mengenalmu. Kita sama-sama orang yang canggung untuk berteman, tapi kita bisa menjadi sahabat yang baik.” sahut YoSeob tak kalah mengharukan. Ia menepuk-nepuk punggung JunHyung. “Gomawoyo~!” katanya lagi. JunHyung mengangguk, lalu melepaskan pelukan mereka.
“Aku yakin kita pasti lolos! Dan akan mewujudkan harapan kita di sini!” JunHyung menarik nafas sejenak, menatap wajah YoSeob yang mendengarkan ucapannya dengan seksama, “Tapi ingat!” katanya kemudian, “Jika kita bertemu lagi nanti, aku tidak ingin melihat pikiran pesimis itu masih melekat di otakmu. Arraseo?!” JunHyung memasang wajah mengancam, meskipun kali ini malah membuat YoSeob terkekeh melihatnya.
“Ne~ Arraseo!” sahut YoSeob. JunHyung tersenyum. Ditepuknya sekali lagi pundak YoSeob.
“Annyeong!” ucapnya sambil merundukkan sedikit badannya, kemudian menegakkannya kembali.
YoSeob mengangguk, “Annyeonghigaseyo!” sahutnya
JunHyung pun bergegas menapakkan kakinya menuju ke arah gerbang untuk keluar kompleks Yayasan ShinDong ini. Ia harus segera ke terminal. “JunHyung~ah. Jamkanmannyo!” tiba-tiba YoSeob berteriak menahan langkah JunHyung yang sudah berada beberapa meter di hadapannya.
JunHyung menoleh ke belakang, ke arah YoSeob, “Waeyo?” tanyanya juga setengah berteriak.
“Tanggal 20 nanti, apa kau datang?”
JunHyung terdiam sejenak. ‘Tanggal 20?’ “Apa kau bisa hadir ke sini untuk melihat hasil pengumuman?” YoSeob bertanya lagi. JunHyung menganggukkan kepalanya.
“Aku usahakan untuk datang!” sahutnya. YoSeob tersenyum, lalu mengacungkan dua jempol tangannya ke arah JunHyung. JunHyung pun melakukan hal serupa. Membuat senyum YoSeob semakin tertaut lebar.
“Hati-hati di jalan, ne? Semoga sampai ke Daegu dengan selamat!” pesan YoSeob. JunHyung tersenyum, menganggukan kepalanya sekali, sebelum ia membalik tubuhnya untuk beranjak pergi dan benar-benar sudah tidak terlihat lagi oleh mata YoSeob.
***
          JunHyung melirik jam tangannya, sudah hampir pukul 8. Perjalanan dari Seoul ke Daegu memang memakan waktu cukup lama. Hampir 4 jam. Tapi, sekarang JunHyung sudah bisa menarik nafas lega. Karena ia sudah sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Begitu keluar dari terminal Daegu tadi, JunHyung langsung menyetop taksi untuk membawanya ke rumah.
          “Gamsahamnida.” ucap JunHyung begitu menyerahkan beberapa lembar uang kepada sopir taksi. Si sopir taksi itu tersenyum, menganggukkan kepala hormat setelah menerima uangnya, lalu membawa taksi itu berlalu.
          JunHyung membalik badan, sejenak membiarkan matanya memandangi keadaan rumahnya dari luar, kemudian membuang nafas kasar. Ia sudah bisa menerka apa yang akan terjadi jika nanti dia masuk ke dalam sana. Tapi ia tidak peduli itu.
          Perlahan ia mendorong pagar kayu rumahnya, lalu masuk melewati pekarangan yang cukup luas.
          Sesampainya di beranda rumah, JunHyung membuka pintu. Suara decitan terdengar. Lalu menutupnya kembali, setelah terlebih dahulu masuk. Ia melepas sepatunya, meletakannya pada rak yang terletak tidak terlalu jauh dari pintu.
          “JunHyung-ah!” suara berat seseorang terdengar memanggil nama JunHyung. JunHyung sudah tahu akan siapa orang itu. Tapi, ia masih sibuk menata susunan sepatu-sepatunya di rak, bersikap seolah-olah tidak mendengar. “Sudah berapa kali Appa katakan, jangan pergi ke Seoul!” kali ini, suara orang yang ternyata adalah Appanya JunHyung itu meninggi. Terdengar membentak.
          JunHyung membalik badan, menatap Appanya dengan wajah santai. Tangannya ia jejalkan ke dalam saku jaketnya, lalu menerawangkan pandangan sambil menghembuskan nafas dari mulut. Tidak mempedulikan bagaimana ekspersi wajah sang Ayah yang sepertinya sudah dikuasai amarah tingkat atas itu.
          “Berhenti bersikap seperti ini JunHyung~ah! Appa muak meladeni anak keras kepala sepertimu! Stop mengatakan untuk-“
          “Dan berhenti melarangku untuk mencari Eomma, APPA!”
---
          Yong JunHyung’s POV
Pintu berdecit begitu aku membukanya. Keadaan rumah masih sama saja dengan sebelum aku berangkat ke Seoul beberapa hari yang lalu, sangat sepi. Aku menutup kembali pintu dan masuk ke dalam, setelah terlebih dahulu melepas sepatuku, kemudian meletakannya di rak.
 “JunHyung~ah!” seseorang sepertinya memanggilku dari arah belakang. Ah, bukan sepertinya lagi, tapi memang aku yang dipanggil. Dan yang memanggil itu pun aku tahu dia siapa. Emang selain aku dan Appa siapa lagi yang menghuni rumah ini?
Aku tidak menghiraukan panggilan itu. Masih sibuk membereskan sepatu-sepatuku di rak, bersikap seolah-olah tak mendengar. Bukan maksud apa-apa, aku hanya menghindari perdebatan malam ini. Sudah kukatakan kalau aku sedang capek bukan? Dan aku tidak punya energi menghabiskan waktu untuk saling menegangkan suara dengan Appa.
“Sudah berapa kali Appa katakan, jangan pergi ke Seoul!” bentak Appa dengan suara tinggi. Sepertinya kemarahan beliau sudah hampir mencapai titik puncak. Aku hanya menarik nafas begitu membalik badan. Berusaha menampilkan ekspresi santai menghadapi sikap pemarah Appa. Itu tidak terlalu sulit untukku sebenarnya, karena aku telah terbiasa menghadapi Appa seperti ini. Aku sudah sering mendapat marah Appa, tapi lama-lama itu malah menjadikan aku seperti sekarang. Aku yang tidak menghiraukan perintahnya, menjadi sosok anak bandel yang selalu melunjak. Maaf Appa, caramu yang mendidikku dengan emosi membuatku menjadi kebal setiap kali kau membentakku.
Kutatap Appa sejenak dengan ekspresi biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Lalu melempar pandangan ke sekeliling sambil menjejalkan tanganku pada saku jaket. Kemudian dengan pelan menghembuskan nafas dari mulut. Entahlah, bagaimana perasaan Appa melihat tingkahku, tapi sepertinya raut wajahnya semakin tidak membaik.
“Berhenti bersikap seperti ini JunHyung~ah! Appa muak meladeni anak keras kepala sepertimu! Stop mengatakan untuk-“
“Dan berhenti melarangku untuk mencari Eomma, APPA!” entah setan apa yang sekarang memasuki tubuhku membuatku tidak bisa mengendalikan otakku sendiri, hingga aku bisa menyambar perkataan Appa dengan suara yang terdengar jauh lebih nyaring daripada suara Appa. Seketika tubuhku menegang setelah melihat ekspersi terkejut Appa menatap wajahku. Ini… Aku tidak pernah terpikir untuk seperti ini. Demi Tuhan, meskipun selama ini aku sering berdebat dengan Appa dan terkesan sebagai seorang anak bandel yang melunjak akan perintah orang tua, tapi aku tidak pernah membalas Appa dengan suara yang melengking seperti tadi.
Kulihat Appa terdiam di hadapanku. Wajahnya semakin memerah, “KAU-!” Appa tampak mengepalkan tangannya geram. Matanya semakin tajam menatap wajahku yang berdiri beberapa meter di hadapannya.
Aku tahu bagaimana kemarahan sekarang sudah memenuhi perasaannya, hingga ia kehabisan akal untuk melanjutkan ucapannya lagi. Dan aku tahu darahnya yang semakin mendidih karena mendapati putra satu-satunya yang ia miliki sudah berani membalas membentaknya dengan suara tinggi. Aku memang kurang ajar Appa. Maafkan aku. Ini diluar kendaliku. Demi Tuhan, jauh di dalam hatiku, aku menyesal. Aku menyesal dengan semua ini.
---
Setelah merasa berhasil menguasi diri dan pikirannya, Jun Hyung kembali mencoba untuk menatap Appa, “Appa… Anak mana yang tidak ingin bertemu dengan Ibunya? Anak mana yang tidak merasa teriris hatinya setiap kali melihat teman-temannya bahagia berada di dekat Ibu mereka, sedangkan ia tidak? Bahkan untuk menyebut nama orang yang sudah melahirkannya ke dunia ini pun ia tidak tahu. Sekali saja Appa, biarkan aku melihat langsung orang yang sudah melahirkanku ke dunia ini. Jebal~!” ucapan yang benar-benar tidak terpikirkan oleh Ayahnya akan meluncur dari mulut seorang Yong JunHyun. Suara yang tiba-tiba melemah itu, membuat Ayahnya diguncang perasaan tak tentu arah. Di satu sisi ia tetap ingin mempertahankan JunHyung mengikuti kehendaknya, tapi di sisi lain, ketika ia melihat pandangan itu, pandangan yang tadinya tajam membalas perintahnya, kini tiba-tiba meredup sendu, ia jadi merasa akan ada sesuatu yang mencabiknya saat itu juga. Apakah ia selama ini salah menutup-nutupi semua ini dari JunHyung?
Ia tidak tahu harus menggunakan cara apa lagi. Mendengar ungkapan jujur JunHyung akan bagaimana ia selama ini menjalani hari-harinya tanpa seorang Ibu, membuat ia merasa tiba-tiba persendiannya melemah. Kepalan kuat tangannya tiba-tiba merenggang. Panas emosi di wajahnya kini perlahan merangkak ke matanya.
Sejenak suasana dingin, JunHyung membeku di tempatnya. Sang Ayah memilih untuk mendudukan tubuhnya pada sofa hitam yang tak jauh dari tempat ia tadi berdiri. Terpekur di sana untuk beberapa saat. Pikirannya benar-benar kalut. Melepas kacamata, lalu memijit-mijit dahi seperti orang frustasi, hanya itu yang bisa ia lakukan.
“Tapi dia bukan seorang Ibu untukmu, JunHyung~ah!” katanya pelan dengan suara lirih, namun masih bisa ditangkap JunHyung. JunHyung mengangkat kepalanya, menatap sang Ayah yang kini tertunduk di sofa.
“Waeyo? Kenapa Ayah berkata seperti itu?”
“Dia sudah meninggalkanmu, JunHyung~ah. Berhentilah berharap untuk bertemu dengannya.”
Mendengar ucapan Ayahnya kali ini, JunHyung tersenyum kecut.
“Pasti Eomma punya alasan tersendiri untuk meninggalkanku. Aku tidak bisa langsung memvonisnya kalau dia membenciku. Seandainya dia tidak menginginkan aku lahir, mungkin dia sudah membunuhku sejak aku masih dalam perut.”
Appanya yang semula tertunduk, langsung mengangkat wajah. “Biarkan aku menemuinya Appa. Aku hanya ingin melihatnya, memanggilnya Eomma, dan mengucapkan terimakasih karena sudah melahirkanku, meskipun itu terjadi hanya sekali.” sambung JunHyung lagi, tanpa memberikan kesempatan Ayahnya untuk menyahut.
Ini benar-benar…
Ayahnya tidak bisa berkutik sama sekali lagi sekarang. Ia membuang pandangan dari wajah JunHyung. Wajah putra yang sudah ia besarkan sendiri hingga hampir menginak usia 16 tahun itu, sungguh sangat keras kepala.
Suara hembusan nafas berat terdengar begitu pria paruh baya itu bangkit dari posisi duduknya di sofa. Sekali lagi ia memandang JunHyung, namun kali ini tatapannya terlihat sayu. “Geurae.” ucapnya, “Tapi jangan salahkan Appa jika kau kecewa nantinya.”
JunHyung mengangguk. Lagi, sang Ayah hanya bisa menghembuskan nafas, lalu berlalu dari hadapan JunHyung menuju ke kamarnya.
Sepeninggal sang Ayah, JunHyung benar-benar tidak bisa mengontrol perasaannya lagi. Menahan airmata yang sudah mendesak untuk keluar semenjak ia mengatakan bagaimana batinnya selama ini menanggung status anak tanpa mengatahui “Ibu”. Bagaimana ia memendam iri yang teramat sangat saat menyaksikan teman-temannya yang berbahagia bersama Ibu mereka.
Secepat ia bisa, JunHyung berlari menjangkau kamarnya yang ada di lantai dua. Meraih ganggang pintu dan melesat masuk ke dalam. Lalu tersandar begitu saja pada badan pintu. Berusaha menahan isaknya dengan membekap mulut menggunakan telapak tangan. Tak kuat, ia ambruk begitu saja ke lantai. Air mata yang beberapa menit lalu ia tahan untuk disembunyikan, kini merembes deras keluar. Tak bisa ia cegah lagi.
Mungkin selama ini orang mengira bahwa JunHyung adalah sosok anak yang berpendirian “masa bodoh”. Tidak mahu tahu dengan apapun. Orang yang terkesan misterius dengan sifat pendiamnya. Tapi ternyata itu hanyalah bagian dari sisi luar. Sedangkan di dalam, rintihan sakit yang orang-orang tidak tahu, terus saja mengguncang batinnya setiap detik. Rasa iri, miris, kecewa di hatinya beremebuk menjadi satu dan membuat ia harus menanggung perih setiap kali menghela nafas. JunHyung memang adalah sosok yang pandai menyembunyikan keadaan hatinya kepada orang-orang di sekitarnya, tapi ia tidak bisa mengelabuhi dirinya sendiri dan malam ini dia akan mengakui semua, bahwa dia juga adalah sosok yang menangis saat rapuh. Meski hanya bersandar hanya pada badan pintu, ia menumpahkan semunya sendiri setelah mengunci pintu kamarnya rapat.
---
***
Eottae? Ini gimana? Gaje yaa?? xD
FF gue udah lama nih, sempet pernah gue posting di Fp Kumpul

Senin, 07 Januari 2013

Love Like Oxygen (TEASER)

Title : Love Like Oxygen (TEASER)
Cast: Park Hye Rim
         Lee Jinki
Author: Mongmong
Rate: +13
Genre: Romance, Family

* Ulalala~ Ini ide yang udah saya dapat pas menjelang ujian semester kelas X kemaren. Tapi baru bisa diterusin sekarang. Ini juga baru selese teasernya. Hahaha~
Happy reading^^
---
 Ini adalah bagaimana awal aku dikenalkan dengan yang namanya cinta. Saat dimana aku merekam kisah pertemuan itu di hatiku, bukan pada camera yang selalu menggantung di leherku semenjak berumur kurang lebih 5 tahun. Aku menyimpan namanya sudah lama. Nama yang dengan mengingatnya saja aku jadi seperti merasakan mudah untuk bernafas. Melenyapkan sejenak rasa nyeri yang selalu membuatku memegang dada dan kadang-kadang sambil merenggang.

        Waktu itu, beberapa tahun yang lalu, saat aku masih di Daegu, aku pikir aku tidak akan pernah bertemu kembali dengannya. Asma akut yang sudah kuidap sejak kecil itu sering mendatangiku tiba-tiba. Sakitnya minta ampun, aku seperti kekurangan oksigen. Aku benar-benar sulit untuk menarik nafas meski satu kali helaan saja. Jika sudah begitu, aku langsung jatuh pingsan, dan begitu tersadar, aku mendapati tubuhku sudah terbaring di atas tempat tidur sebuah rumah sakit. Dan aku juga melihat Appa duduk di sebuah bangku, di samping tempat tidur yang menjadi tempatku berbaring untuk menungguku.
        Begitu melihat aku membuka mata, Appa tersenyum sambil mengelus-elus rambutku lembut. Sejak berumur 3 tahun, aku hanya mendapat perhatian dari Ayah. Eommaku meninggal saat melahirkan adikku yang juga ikut pergi bersama. Karena itulah, kenapa hanya Appa yang selalu tertangkap kedua mataku saat aku sadarkan diri.
        Dari kecil aku sudah terbiasa mengikuti Appaku pergi ke sana ke mari untuk tuntutan profesinya yang adalah seorang fotograper dan sutradara. Biasa saja bagiku hari ini ke Daegu dan malamnya ke pulau Jaeju, besoknya ke Seoul, dan lusanya ke Busan, lalu kembali lagi ke Daegu.
        ---

Rabu, 02 Januari 2013

LOVE (CERPEN)

Aku bener-bener nggak tau harus ngasih judul yang pas buat cerpenku yang ini gimana -_- , mangkanya tak kasih LOVE aja. Berhubungan ini cerpen memuat cerita cinta remaja yang masih unyu-unyu xD hahahaa~ Awalnya ide mau nulis ini cerpen terinspirasi dari cerita sohibku. Walaupun endingnya kagak sama. Itu Cuma aku bumbu-bumbuin biar jadi so sweet. Kkekeke~ Kalau mau baca, silahkan. #minggir kasih jalan. Buat yang mau copas, “Maaf tukang COPAS dilarang masuk!” :p
 cover-nya juga bikinnya dadakan. Malam ini selese, malam ini juga ngedit plus postingnya. Itung-itung ngisi kekosongan liburan. Untuk yang di tengah itu jadi tokoh Kakak Pelatihnya, walaupun pas nulis yang ada di bayangan saya itu si Abang Joongki. kkekeke. Yang di samping kiri tokoh Kakak Pelatih, itu tokoh Averi, sementara yang di samping kanan Kakak Pelatih itu Emily, tokonya terlihat feminim daripada Averi yang rambut pendek. Ya, semoga bisa memudahkan dalam memahami ceritanya yak :)
Happy reading...^^

---
“Egghhhrr…” aku meremas roti kejuku geram. Orang di hadapanku meringis melihat roti yang ada di tanganku seketika menjadi gepeng kubuat. Kubidik matanya tajam. Bagaimana tidak, ia benar-benar membuatku geregetan tingkat atas setiap kali ia menceritakan akan pertengkaran ia dengan kekasihnya kepadaku. “Kalau ada apa-apa jangan cerita kepadaku lagi. Aku bosan mendengarnya!”

          “Ta-tapi, aku butuh masukanmu sekarang, ..” ucapnya menahanku yang saat itu berniat bangkit dari posisiku untuk meninggalkannya.

          “Masukan apalagi? Bukannya aku sudah sering memintamu untuk memutusi saja laki-laki itu? Lalu harus berapa kali aku mengatakannya lagi, eoh? Sampai mulutku berbusa.” Sahutku. Membuat Emily menundukan kepala dengan bibir yang mengerucut. Suatu kebiasaannya setiap kali merajuk karena tidak bisa mengelak lagi ucapanku. Dia benar-benar seperti anak kecil. Padahal statusnya adalah tanteku. Lebih tua satu tahun pula dariku. Aku hanya bisa membuang wajah lalu berdecak sebal.
---
          Aku tidak pernah berpikir akan terlibat dalam hubungan rumit mereka. Bagaimana bisa aku menjadi pihak yang pusing hanya karena mengurusi kisah cinta mereka seperti ini? Sebenarnya kalau dipikir-pikir ini bukan urusanku, sih. Aku bisa angkat tangan kapan saja, lalu membiarkan Emily uring-uringan sendiri menikmati sakit hatinya yang hampir terjadi 3 kali seminggu. Tapi bagaimanapun sisi kemanusiaanku juga tetap muncul. Emily adalah tante sepermainanku. Dia adik Ibuku yang paling bungsu. Kebersamaan kami dari kecil membuat kami malah terlihat seperti adik-kakak.

          Aku bukannya tidak peduli. Malah aku sangat peduli dengan Emily. Sudah berapa kali aku mengusulkan pendapatku supaya ia memutusi Jhon segera, lalu jadian saja dengan Kakak Pelatih. Bukannya dia juga sering berhubungan dengan Kakak Pelatih beberapa minggu ini? Jika kuamat-amati mereka berdua cocok sebenarnya apabila menjadi sepasang kekasih. Kakak Pelatih jauh lebih dewasa dibandingkan dengan Jhon yang tingkahnya lebih menyebalkan daripada anak kecil. Aku yang setiap kali melihat Jhon bersikap terlalu over terhadap Emily saja selalu makan hati. Apa Emily tidak merasa jenuh jika seperti itu terus? Benar-benar pasangan aneh.
---

          “Apa? Jadi dia-”

          “Ssttt!” Emily langsung menarik leherku dengan sebelah tangannya. Sementara sebelah tangannya yang lain membekap mulutku rapat. Aku yang ingin meronta seketika menjerit tertahan di dalam cekikan lengan Emily. Kakiku kananku menginjak batu kerikil dan itu sakit sekali. “Jangan keras-keras!” bentaknya.

          Setelah beberapa kali meronta, Emily menghentikan penganiayaannya terhadapku. Aku bisa menarik nafas dalam setelahnya. Meskipun leherku mau patah akibat lengannya yang terlalu kuat. Langkahku juga limbung karenanya.

          “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku sembari berlari seperti sedia kala. Beriringan dengan Emily yang berada di sebelah kananku tanpa mengoceh-ngoceh panjang seperti biasanya hanya karena kakinya yang terinjak batu, atau karena perutnya sakit akibat makan duluan sebelum latihan.

          “Dia yang memberitahu semalam.” Jawab Emily pelan. Aku cukup kecewa mendengarnya. Itu berarti peluang rencanaku untuk mempersatukan mereka sudah berubah gelap. Titik terang yang kuharapkan seperti semenjak pertemuan kami pada awal latihan kini redup. “Mangkanya sekarang aku tidak menghubungi Kakaknya lagi.” Lanjut Emily. Aku menoleh ke arahnya. Mencoba menelisik wajahnya di bawah pencahayaan malam yang redup.

          “Kau kecewa dengan ini?” tanyaku yang sontak membuat Emily membulatkan mata begitu mendengarnya.

          “Ti-tidak!” sahutnya, “Siapa bilang, ..”

          “Sungguh kau tidak apa-apa?” tanyaku lagi, sedikit terdengar menggoda.

          “Kau, .. apa-apaan, sih? Aku betul tidak kenapa-kenapa! Aku punya Jhon dan aku tidak mungkin berpaling darinya. Dan yang perlu kauingat, aku tidak sama sekali menaruh perasaan terhadap Kak William!” ucapnya panjang lebar.

          “Apa kau yakin dalam minggu ini kau tidak akan bertengkar lagi dengan Jhon?” Emily terdiam mendengar pertanyaanku kali ini. “Jika kenyataannya kalian masih bertengkar, maka jangan temui aku lagi sebelum kalian benar-benar putus.”
---

          “Averi… Averi…” aku menoleh begitu mendengar seseorang memanggilku dengan suara yang berbisik. Irene di ujung rak dalam lorong yang sama denganku, tengah berdiri dengan tumpukan buku yang ia dekap. Ia tersenyum sembari melambaikan tangan dan beberapa detik kemudian melangkah mendekat ke arahku. “Apa yang kaulakukan di sini?” tanyanya seraya membetulkan letak kacamata besarnya yang agak melorot ke bawah.

          “Cari bukulah, masak beli nasi goreng?” -__-

          “Nggak biasanya gitu, .. Biasanyakan tongkronganmu di atap sekolah sambil baca komik.” Ucapnya lagi yang bikin aku bergeser beberapa langkah menjauh. Jujur saja, aku tidak pernah suka dengan anak ini. Kelakuannya kalau boleh dibilang sama saja dengan sepupunya yang adalah pacar Emily. Namun sayangnya, bocah ini terus saja mengikutiku. Jika aku bergeser 5 langkah, dia juga bergeser 5 langkah ke arahku. Membuatku  hampir saja meledak memarahinya seperti ketika aku meneriakinya “bocah aneh” di lapangan saat jam pelajaran olahraga pertama. Tapi aku menahannya saat mengingat sekarang aku tengah berada di perpustakaan. Ini adalah kunjungan pertamaku soalnya, jadi aku tidak ingin meninggalkan kesan tidak baik.

          “Apa kau sudah tahu?” Irene kembali mengoceh di sampingku. Aku yang tidak ingin menghiraukannya memilih berpura-pura sibuk dengan buku. Sementara dalam hatiku berdoa agar Tuhan menurunkan utusaannya dari langit untuk mendepak bocah menyebalkan ini dari kehidupanku. Aku benar-benar sudah tidak tahan sekarang. “Kemarin aku melihat Jhon. Dia tidak seperti biasanya.”

          “Ehhem..” aku berdehem begitu menutup buku yang aku pegang dan menaruhnya kembali ke tempat. Mencoba memberi tahu bocah di dekatku itu bahwa aku tidak sama sekali tertarik dengan topik pembicaraannya. Aku pikir ini adalah salah satu cara peneguranku yang halus. Dan aku berharap sekali untuk dia tidak kembali mengeluarkan suara kalau tidak mau aku benar-benar memuntahkan semua kejengkelan yang sedari tadi kutahan mati-matian.

          “Apa kau sudah tahu sesuatu?” bisiknya lagi. Kini aku benar-benar sudah jenuh. “Mereka sudah putus, … kemarin!”

          “Apa?” pekikku tertahan, “Me-mereka siapa maksudmu?”

          “Aissh, kau ini. Jangan bicara keras-keras! Kau taukan ini perpustakaan?!” ucapnya memperingatkanku. Seandainya saja dia tidak tengah membawa info yang aku pikir cukup penting, pasti aku sudah merebahkan salah satu rak buku agar menindihinya. “Mereka siapa lagi kalau bukan Jhon dengan tante mudamu itu.”

          “Sungguh?”
---

          “Kenapa lagi?” ucapku menegur Emily yang dari tadi tidak mengubah ekspresi mukanya. Dari kemarin dia terus-terusan cemberut seperti ini. Aku tau, … putus cinta memang tidak enak. Dan sekarang Emily sedang mengalami itu. Tapi, tidak seharusnya ia seperti ini berlarut-larut. Ia sebenarnya patut bersyukur karena Tuhan menunjukkan kebenaran apa yang selama ini selalu ia tampik setiap kali aku memberitahunya. “Sudahlah, .. kau jangan terlihat lebih bodoh hanya karena laki-laki itu. Lebih baik kau berdoa dan berterimakasih kepada Tuhan karena matamu sudah dibukakan untuk melihat bagaimana kelakukan Jhon yang sebenarnya.”

          Emile tidak menanggapi perkataanku. Dia masih saja memain-mainkan sedotan minuman di hadapannya. Sementara satu tangannya menopang wajahnya yang menekuk sedari tadi. Aku sendiri heran, kenapa Emily harus ditakdirkan menjadi tanteku?

          “Ini semua bukan karena Jhon,” suara Emily keluar setelah sedari tadi diam. Matanya masih tidak berpaling dari gelas minumannya yang sedotannya masih dimain-mainkan oleh tangannya, “Tapi ini karena—“

          “Karena?” potongku yang sudah tidak sabar dengan apa yang sebenarnya ingin Emily sampaikan.

          “Aish~ Entahlah, .. aku hanya merasa sepi akhir-akhir ini. Kakak pelatih tidak menghubungiku seperti biasanya lagi.”

          TEPAT! Apa yang aku harap-harapkan keluar dari mulut Emily akhirnya pun keluar juga. Ini menjadi lampu hijau rencanaku yang sempat menggantung nasibnya, meskipun Emily tidak menyatakannya secara langsung, tapi dari ucapannya tadi aku menjadi benar-benar yakin dengan apa sebenarnya yang ia rasakan selama ini. Aku pikir, dia memang benar-benar menyukai… menyukai.

          “Tu-tunggu!” ucapku seraya mengeluarkan handphoneku dari saku jas seragam yang kukenakan, “Sepertinya ada pesan masuk!” Emily hanya diam. Terawangannya kini beralih ke arah luar jendela. Ini kesempatan emas. Aku harus menjalankan misi pertamaku. Suara Emily akan kurekam dan lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya.

          PLLIPP!
---

          “Kau benar-benar tidak kenapa-kenapa kalau aku pergi duluan?” tanya Emily yang saat itu sudah menunggangi sepedanya. Aku mengangguk dengan senyum untuk meyakinkannya.

          “Sungguh. Kau pulang saja duluan. Aku mungkin agak lama di tempat temanku. Tugas kami terlalu banyak.”

          Emile menganggukan kepalanya mendengar ucapanku, “Baiklah. Kalau begitu aku pergi. Bye~”

          “Bye~” sahutku seraya melambaikan tangan. Emily sudah beberapa meter menjauh dari tempatku berdiri. Aku tersenyum puas. Ah, sebenarnya belum seharusnya puas. Karena ini baru menginjak misi kedua. Aku harap semua berjalan dengan lancar.
---

          “Kakak Pelatih…” panggilku. Seseorang yang membelakangiku dan yang sepertinya sudah siap menghidupkan sepeda motornya, menoleh ke arahku yang berada beberapa meter di belakangnya.

          “Averi. Kau masih di sini? Kenapa belum pulang?” tanyanya. Aku belum menjawab. Memilih kembali melangkah untuk mendekat ke arahnya.

          “Ada yang ingin kubicarakan,” ucapku. Kulihat Kakak Pelatih mengernyitkan keningnya sebelum benar-benar menyetujui permintaanku dengan menganggukan kepala.

---

          Kakak Pelatih tampak semakin mengeratkan jaketnya. Malam ini memang cukup dingin. Kami sekarang duduk di sebuah bangku panjang yang berada di pinggir lapangan tempat kami latihan.

          Aku merogoh handphone di dalam sakuku dan mengeluarkannya. Sementara headset putih menggantung karena sebelumnya sudah kusambungkan. Aku memencet-mencetnya sebentar. Mencari rekaman yang tadi siang berhasil kudapatkan. Lalu menyodorkan headset itu ke arah Kakak Pelatih.

          “Kau harus mendengarkannya.” Ucapku. Kakak Pelatih hanya menatap apa yang kusodorkan, tidak mengambilnya segera. “Kau cobalah dengarkan dulu, baru nanti bertanya.” Kataku lagi. Ia pun mengambilnya meskipun terlihat sedikit canggung.

          Setelah ia mengenakan headset itu ke telinganya, aku pun mulai menyetel suara rekaman Emily di handphoneku.

          5 detik…

          15 detik…

          30 detik…
---

          “Apa semua itu benar?” tanya Averi. Suara dan tatapannya terkesan benar-benar menyelidiki. Membuat orang di sampingnya ketar-ketir dalam hati karena bimbang harus menjawab bagaimana. Ia membuang wajah ke sembarang arah dengan telapak tangan yang saling bergesek-gesekan. “Apa kau memang sudah memiliki seorang, .. girlfriend?”

          William menggeleng.

          “Lalu?”

          “Aku berbohong.” Ucap William singkat. Kepalanya menunduk.

          “Untuk apa?” Averi kembali menyerangnya dengan pertanyaan yang sulit sekali untuk dia jawab.

          “Karena, ..” sahutnya terbata, “Ka-karena aku pikir hanya dengan berbohong seperti itu aku jadi tidak terlihat seperti menutupi mati-matian perasaanku selama ini.”

          ‘Konyol!’ itu kata-kata yang terbersit pertama kali di benak Averi setelah mendengar pengakuan William. Ia terkekeh pelan. Benar-benar tidak habis pikir kenapa sepanjang hidupnya harus bertemu dengan orang-orang aneh seperti mereka? Emile, William, .. mereka semua hidup dalam pemahaman yang sulit sekali ditebak dan dicerna.

          “Lalu apa yang akan kaulakukan setelah ini? Kau sudah mengetahui semuanya. Tentang perasaan Emily terhadapmu selama ini dan kau juga tidak bisa lagi berbohong dengan perasaanmu sendiri, .. Kakak Pelatih!” Averi menekankan suaranya pada akhir kalimatnya. William yang mendengar hanya bisa membuang nafas berat. Apa yang dikatakan Averi itu semua benar. Dalam hati ia mengutuk kenapa Averi hidup dengan jalan pikiran yang lebih dewasa daripada dirinya? Padahal umur mereka terbilang cukup jauh.

          “Aku harap kau tidak mengambil tindakan bodoh. Cepat ungkapkan apa yang seharusnya kauungkapkan. Kau mengerti?”

          “Tapi aku masih tidak yakin dengan perasaannya yang sebenarnya. Aku takut jika itu hanya karena ia memiliki masalah dengan Jhon, dan-“

          “Dengar! Aku ini keponakannya. Aku sudah dekat dengannya dari semenjak kami kecil. Dan aku tahu semua tentang dirinya.” Balas Averi yang membuat ucapan William terpotong dan saat itu juga bungkam tak bisa berkata-kata lagi. “Besok adalah kesempatan. Aku harap kau bisa melakukannya.”

          William tidak bergeming saat Averi menepuk pundak William layaknya seseorang yang labih tua darinya. Dengan mimik wajah yang sok-sokan dewasa. Sementara William masih sibuk berkelut dengan hatinya. Antara mengikuti ucapan bocah tengik di hadapannya itu atau tidak. Telapak tangannya terasa panas sudah karena sedari tadi ia gosok-gosokkan. Suatu kebiasaannya apabila sedang gelisah.

          “Aku pulang duluan. Kita bertemu lagi besok. Oke, Kakak Pelatih?”
---

          Malam ini cuaca cerah. Ini adalah pertemuan ke-15 kami semenjak aku dan Emily memutuskan untuk mengikuti latihan di sini. Setiap waktu yang kami lalui di tempat latihan ini semua terangkum indah dalam memori otakku dan akan menjadi sebuah kenangan yang indah.

          ‘Kau harus mengatakannya malam ini jika tidak mau minggu depan perut dan tanganmu yang menjadi sasaranku. Mengerti?’

          Aku tidak tahu pasti apakah Kak William membaca pesanku atau tidak. Yang pasti aku hanya melihat ia yang terkekeh-kekeh sendiri, lalu menoleh ke arahku sambil mengacungkan ibu jari tangan kanannya.

          Yah… Aku harap semua akan menjadi happy ending. Karena aku pikir itulah tujuan hidupku sesungguhnya. Kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita bisa membahagiakan orang-orang disekitar kita. Aku ingin Emily bahagia. Itu saja.
---

          “Emily,” suara seseorang menghentikan niatan Emily yang ingin segera mengayuh sepedanya untuk kembali pulang ke rumah. Lalu menoleh dan mendapati William berdiri di belakangnya.

          “Iya. Ke-kenapa?” tanyanya yang tidak berhasil menyembunyikan kegugupan.

          William melangkah beberapa tapak mendekat. “Ada satu pengumuman penting yang belum aku sampaikan.” Ucapnya begitu sudah berada di samping sepeda Emily.

          “Apa itu? Ke-kenapa tidak disampaikan saat penutupan tadi saja kalau itu sesuatu yang penting?”

          “Karena ini hanya menyangkut dirimu.” Sahut William yang sukses membuat Emily mengerutkan kening.
          “A-ada apa dengan aku?” tanyanya semakin gugup.

          “Kau bermasalah.” Balas William santai. Sementara Emily merasakan hawa tidak nyaman menyelimutinya. “Kau sudah membuat otakku mengalami permasalahan karena hanya memikirkan tentangmu. Dan selalu ingin berbicara mengenaimu.”

          “Maksudmu?” tanya Emily masih memasang tampang polosnya. Walaupun semburat kemerah-merahan tidak bisa ia cegah muncul di kedua belah pipinya. Ia bisa mencerna sedikit maksud perkataan itu karena ia tidak tuli dan bodoh. Tapi karena sesuatu yang membuatnya tidak yakinlah yang akhirnya menjadikan ia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan yang menuntut kepastian terhadap William.

          “Aissh~” William mendengus lirih. “Kau belum juga mengerti, eoh?” tanyanya yang dijawab Emily dengan gelengan kepala. “Baiklah! Kali ini kau harus paham!” ucap William yang setelah itu pelan-pelan mendekatkan wajahnya. Emile benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi selain hanya menikmati detak jantungnya yang semakin detik semakin berdegup kencang tak beraturan. Ia berpikir sebentar lagi ia akan mendengarkan suara Ibunya berteriak membangunkannya. Jadi ia tidak ingin terlalu berharap jauh.

          “I love You!” Namun yang ditangkap oleh telinganya malah itu, bukan teriakan Ibunya. Ya, William baru saja mendekatkan wajahnya ke telinga sebelah kanannya hanya untuk mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sebenarnya berhasil membuat Emily terenyuh beberapa saat. Seperti rohnya dicabut beberapa detik untuk sekedar melayang sejenak ke negeri kayangan. Sebelum akhirnya ia menyadari kenyataan bahwa sebenarnya ia masih di sini. Masih berada di dekat lapangan untuk mereka latihan.
---
END
---

Kamis, 13 September 2012

Only Look At Me






Title: Only Look At Me

Author: Keiko Ai Hoshiko

Cast: Ryu Hwa Young ( Hwa Young T-Ara)

Jun Jung Hyung (Jun Hyung B2ST)

---
          Mempertanyakan tentang bagaimana sebenarnya perasaanmu, memang pernah, .. malah sering kali mengusik keseharianku. Aku ragu, .. Cintamu apakah sebenarnya murni dari hati? Bahkan dari pertama kau mengatakannya.
          Ah, memang caramu menuturkannya terkesan romantis. Dengan drama-drama TOP di TV-pun tidak bisa dibilang kalah.
          Bunga gardenia hingga bunga mawar sepertinya menjadi saksi kisah ini. Kisah di mana aku harus menekan ketidak-nyamanan yang seperti tak pernah absen menjadi bintang tamu dalam setiap pertemuan kencan kita.
          Maafkan aku jika harus membicarakannya. Hanya saja aku benar-benar sudah gondok menahan egomu yang keseringan acuh dengan apa yang kulakukan apabila kita berdua jalan bersama.
          Jangan bilang jika karena kesibukan. Kau tidak terlihat dalam sebuah rutinitas, tapi terkesan seperti menjauhiku. Jika menginginkan semua berakhir, mungkin tidak masalah. Daripada terus menjalin ikatan tak berdasar pada kejujuran. Aku harap kau memahami ini. Cukup dengan memahami bagaimana perasaanku, Jun Hyung~aa, .. Aku tidak butuh elakanmu dan kata-kata manis seperti setiap kali aku mengutarakan tetang perasaanku, keraguan, serta bagaimana letihnya aku menghadapi hubungan kita dan sikapmu.
--- 
          Mempertanyakan hal itu berulang-ulang, apa kau tak merasa jenuh? Dan jawaban yang kuberikan, tidak cukupkah membuatmu yakin? Tolong jangan dengarkan kata-kata tak berisi seperti itu lagi, .. Cukup lihat ke aku, dengar apa yang aku katakan, percaya aku, karena itu adalah yang benar! Aku mencintaimu... Harus berapa kali aku mengatakannya lagi?
***
          Tap, .. Tap, .. Tap, ...

          Tas selempang itu bergoyang ringan di sisi kanan tubuhnya yang menaiki tangga berkelok menuju ruang kelas yang ada di lantai dua. Sampai sesuatu menghentikan langkahnya di sisa-sisa tanjakan tangga yang terakhir. Hanya tersisa 3 anak tangga, setangkai bunga mawar merah muda tergeletak di atas sebuah amplop putih kecil. Ia menghela nafas berat. Ini acap kali terjadi. Saat ia benar-benar merasa sudah tidak tahan menekan emosinya, bunga ini pasti muncul sebagai pencair. Dan bodohnya, ia tidak bisa mengelak, bahwa itu cukup membuatnya kembali pada perasaan awal. Perasaan yang hanya orang-orang yang memiliki kesetiaan, cukup untuk memahaminya.
          Membungkuk sedikit, ia mencoba untuk mengambil bunga itu yang berada di atas satu tingkat dari tempat kakinya berpijak. Ia sudah tahu apa maksud suratnya, juga yakin siapa pengirimnya. Jadi tanpa perlu membolak-balik amplop yang sudah berpindah ke tangannya itu pun, ia sudah bisa menelisik. Ini sering terjadi, bahkan hampir 2 kali seminggu. Oh, Tuhan... Terlalu hiperbolakah ini? , .. 
          Hari ini tidak ada latihan, soalnya pertandingan tinggal 2 hari lagi. Kau tidak ada kegiatankan? Kita jalan-jalan, bagaimana? Aku tunggu di tempat biasa, ne~?
          Aku merindukanmu, Youngi~aa. Saranghae^^

          Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, Hwa Young menghela nafas lemah.
---
          Aku berpikir bahwa Tuhan menggariskan aku dalam jalur tak pasti. Tidak pernah mendapat sesuatu yang akurat. Selalu saja ragu akan sesuatu. Seperti hubungan ini dan apapun tentang kami. Apa yang terjalin memang sebuah ikatan cinta. Tapi yang tercipta bukan keromantisan, melainkan tanda tanya besar seputar perasaan masing-masing. Haruskah aku berlutut memintanya kali ini? Tolong, jangan acuhkan aku.
---
          Seperti apa yang diminta si pengirim dalam surat tangga tadi, Hwa Young memenuhinya. Usai pelajaran terakhir berakhir, ia berjalan menuju tempat yang dijanjikan, di depan kedai seberang gerbang sekolahnya.
          Hwa Young bisa melihat punggung Jun Hyung di atas motor menunggunya. Seperti saat mereka melakukan janji kemarin-kemarin. Semakin dekat, langkah Hwa Young memperlambat. Wajahnya mendung diterpa angin pertengahan musim gugur tahun ini.
          "Kau kenapa? Hey, Youngi~aa, .." tanya Jun Hyung menelisik intens muka Hwa Young begitu sudah berdiri di samping motornya. Seperti kondisi seperti ini baru pertama kali terjadi pada Hwa Young, padahal sudah sering terjadi setiap kali mereka bertengkar. Dan itu tidak bisa dihitung dengan jari, karena pertengkaran itu hampir selalu muncul apabila mereka kencan. Hubungan yang aneh memang.
          Hwa Young menggeleng lemas, seperti tenaganya tersedot setiap kali berhadapan dengan Jun Hyung. Padahal baru berhadapan, dan perang itu belum dimulai sebenarnya
          "Kau masih marah?" Jun Hyung bertanya lagi yang masih direspon hanya dengan anggukan oleh Hwa Young. Lalu menghela nafas lemah, sebelum melanjutkan berbicara lagi, "Aku harap kau tidak pernah mempermasalahkan komentar-komentar konyol seperti itu lagi. Dan sekarang naiklah, pegang pinggangku, dan lupakan hal-hal tak penting yang mengganggumu. Kkaja!"
          "—Ah, ini pakai dulu."
          Hwa Young menangguk seraya menyambut apa yang disodorkan Jun Hyung. Helm hitam, yang setelahnya langsung ia kenakan ke kepala. Berusaha menekan perasaannya, Hwa Young naik ke atas motor, melingkarkan pergelangan tangannya di pinggang Jun Hyung erat. Kehangatan yang benar-benar sangat ia rindukan saat Jun Hyung sibuk dengan rutinitas latihan tenis-nya. Mungkin ada benarnya, tidak sepantasnya komentar-komentar konyol dari orang tidak penting yang hanya untuk mendinginkan hatinya dalam hubungan ia dan Jun Hyung bisa mengganggu pikirannya, toh, Jun Hyung masih bersedia di sampingnya meski bisa dihitung dengan jari saat-saat mereka bersama selama 1 tahun setengah hubungan mereka terjalin. Ia pikir sekarang sudah saatnya ia bisa berpikir sedikit dewasa menjadi seorang pacar dari atlet tenis andalan di sekolah mereka.
          Dan tak banyak yang bisa lakukan lagi saat Jun Hyung menempelkan telapak tangan kirinya ke punggung tangan Hwa Young, selain hanya menyandar ke punggung si namja. Pelukan itu terasa semakin hangat.
---
          Hwo Young tersenyum kecil. Ia merasa sedikit lebih baik saat ini. Semenjak Jun Hyung menggenggam tangannya hingga mereka sampai di depan Cafe yang memang sudah biasa menjadi tempat mereka berkencan.
          Hwa Young mencoba menikmati suasana sore musim gugur dengan mengetuk-ngetukan ringan jari telunjuknya di atas meja tempat dimana sekarang ia menunggu Jun Hyung yang memesan minuman, sementara matanya menerawang di keadaan luar jendela. Lalu lalang kendaraan bisa terlihat matanya dan terpaan angin sore itu ia rasakan sejuk membelai pipinya.
          'Seberapa lama kau bisa bertahan dengan sikap Jun Hyung seperti itu? Kalian benar-benar terlihat tidak seperti pasangan. Jun Hyung terlalu sibuk dengan urusannya, sementara melihat keadaanmu sendiri, .. Aish, apa kau tidak miris melihat kondisimu sekarang? Lebih baik akhiri saja hubunganmu dengannya, masih banyak lelaki yang bisa memperlakukanmu lebih layak sebagai seorang yeojachingu.'
          Hwa Young mendengus. Sekuat tenaga sudah ia mengerahkan usaha untuk menghalau gangguan-gangguan dari ucapan teman-temannya, tetap saja gagal. Suara komentar-komentar itu masih terngiang-ngiang setiap kali ia mencoba menabahkan hatinya.
          Sampai sebuah suara membuat ia mengalihkan perhatiannya,
          "Apa yang kau lihat, eoh?"
          Jun Hyung datang dengan sebuah nampan yang berisi dua gelas kaca dan 2 kaleng minuman soft drink, lalu duduk di bangku yang berhadapan dengan sang kekasih.
          Hwa Young tersenyum memperhatikan Jun Hyung yang saat itu berusaha membuka penutup soft drink di tangannya. Menatap wajah namja di depannya, .. Entahlah, ia merasa udara terasa begitu sangat sejuk memenuhi sekitar tempatnya, membuat oksigen terasa begitu sangat lembut ia hirup dan menyerbakan aroma harum yang tidak pernah ia rasakan selain berada di sisi Jun Hyung.
          Dengan senyum terkembang manis, Hwa Young meraih gelas di nampan, lalu menyodorkannya kepada Jun Hyung, tetapi Jun Hyung malah mengambil satu gelas lain yang tersisa dan menuangkan soft drink itu ke sana, tidak mengindahkan Hwa Young yang meminta dituangkan olehnya.
          Hwa Young menurunkan gelas dari tangannya, sementara Jun Hyung sudah menghabiskan satu gelas terlebih dahulu. Seperti tidak bisa membaca bagaimana kerutan cemberut memenuhi wajah Hwa Young, Jun Hyung bersikap biasa saja begitu menyuruh kekasihnya untuk minum,
          "Aku sudah memesankannya untukmu, .. Ayo, minum..."
          Hwa Young mengangguk lemas, mood-nya kembali buruk karena sikap acuh Jun Hyung yang seperti tidak bisa memahami keinginan pacaranya yang sebenarnya.

          "Setelah ini kita ke tokonya Dong Joon Hyeong bagaimana? Kau setuju?" ajak Jun Hyung yang sekali lagi hanya dibalas oleh anggukan. Hwa Young benar-benar malas berkomentar---lebih tepatnya tidak mau berkomentar---akan ucapan dan sikap lelaki itu. Ia benar-benar sudah lelah berharap akan perhatian yang lebih dari seorang Jun Hyung. Dan mirisnya, Jun Hyung tak pernah bisa mengetahui apa yang ia inginkan.
          Usai merasa cukup mengunjungi cafe yang memang sering menjadi tempat pertemuan mereka, keduanya pun memutuskan untuk pergi ke toko baju dan aksesoris milik Doon Joon.
          Sesampainya di sana, Doon Joon yang adalah mantan pelatih Jun Hyung menyambut begitu mereka masuk ke dalam tokonya,
          Dan sialnya, lagi-lagi Hwa Young merasa dirinya kembali dikacangi oleh Jun Hyung yang asik bercengkrama dengan sosok laki-laki bertubuh tinggi tegap itu, seperti sudah lupa dengan ia yang berdiri di sampingnya sambil mengeluarkan rutukan-rutukan sebal dalam hati,
          "Dia pacarmu?" tanya Doon Joon seraya beralih menatapi gadis di samping kanan Jun Hyung yang langsung dijawab oleh Jun Hyung dengan anggukan kepala.
          "Ne," Jun Hyung menjawab, lalu mengaitkan lengan kanannya ke pinggang Hwa Young bermaksud merapatkan jarak antara mereka berdua, "Dia pacarku."
          "Cantik sekali, .." komentar Doon Joon tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Hwa Young dengan raut wajah terpukau,
          "—Ya, Jun Hyung~ah, .. Apa kau tidak takut dengan membawanya ke sini aku akan merebutnya darimu?" celetuk Doon Joon.
          Jun Hyung terkekeh, "Kau berani melakukannya?"
          "Tentu saja," balas Doon Joon, "Apapun usaha akan dikerahkan demi gadis secantik dirinya,"
          Mendengarnya tiba-tiba Hwa Young merasa udara jadi tidak nyaman. Apalagi dengan tatapan yang ia dapatkan dari laki-laki bernama Doon Joon itu,
          Masih merasa akan pergelangan tangan seseorang melingkar di pinggangnya, Hwa Young menatap Jun Hyung seperti mengabarkan bahwa ia merasa jenuh di sini, tapi lagi-lagi Jun Hyung bersikap seperti tidak bisa mengerti, ia malah terkekeh menanggapi ucapan temannya tersebut,
          "Kau bisa mendapatkannya, tapi kau harus pastikan dulu bahwa dia benar-benar beralih menyukaimu. Ah, aku pikir kau tidak bisa melakukannya." tantang Jun Hyung yang sukses membuat Doon Joon tergelak, sementara Hwa Young di sampingnya menyenggol sebal pinggang Jun Hyung dengan siku,
          "Kau apa-apaan sih?" gerutunya cemberut.
          "Kau meragukan kemampuanku Jun Hyung~ah?" ucap Doon Joon berusaha menahan tawanya.
          "Aku tidak meragukan kemampuanmu, hanya saja aku meragukan kalau gadisku bisa lepas atau tidak dariku."
          Hwa Young memutar bola matanya jengah. Namjanya lagi-lagi bertingkah narsis yang membuat ia mendengar jadi mual sendiri.
          "Arraseo," ucap Doon Joon di sela-sela tawanya yang lagi-lagi meledak, benar-benar membuat udara semakin tak bersahabat untuk seorang Hwa Young, "Silahkan melihat-lihat barang-barang di sini Tuan Muda Jun Hyung, .. Kami akan memberi potongan harga spesial dikarenakan anda pendatang pertama hari ini yang membawa pasangan ke toko kami," ucap Doon Joon mempersilahkan calon pembelinya itu memilih-milih barang yang ada di tokonya.
          Jun Hyung mengangguk tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang dulu adalah teman seperjuangnya di klub tenis sekolah, lalu melangkah dengan tangan yang tak lepas mengandeng pinggang Hwa Young, menuju tempat aksesoris.
          Lagi, .. Hwa Young menatap Jun Hyung dengan tatapan tak mengira akan mendapat perlakuan manis seperti ini dari namjachingunya yang terlalu dingin itu, ia merasa sesuatu yang indah memenuhi dadanya, namun tidak lama, karena beberapa detik kemudian, ketika mereka sudah memasuki ruang khusus aksesoris, Jun Hyung melepas pegangannya dari pinggang Hwa Young, lalu melenggang sendiri ke arah jejeran jam tangan, meninggalkan Hwa Young yang merasa saat itu semuanya pupus. Keindahan bersama Jun Hyung tak pernah lama ia rasakan, hanya beberapa detik saja, lalu berubah dingin kembali. Dalam hati Hwa Young merutuk untuk kesekian kalinya dan itu bisa terpancar dari raut wajahnya yang mengerucutkan bibir sebal.
          Daripada berdiri kikuk sendiri menunggu Jun Hyung selesai dengan aktifitasnya, Hwa Young memutuskan melihat-lihat kebagian aksesoris wanita yang dimana di sana banyak sekali terdapat hiasan-hiasan untuk rambut. Sampai hatinya merasa jatuh cinta pada sebuah bando plastik berhias bunga mawar kecil berwarna pink, Hwa Young pun meraihnya,
          "Oppa," panggilnya.
Jun Hyung menoleh, "Wae~?"
          "Bagaimana menurutmu?" tanya Hwa Young menunjukkan apa yang ada di tangannya kepada Jun Hyung, bermaksud meminta pendapat.
          "Yeppo," sahut Jun Hyung singkat, kemudian beralih kepada sumber fokus awal kegiatannya, sibuk dengan model jam tangan yang akan ia beli,
          Hwa Young cemberut untuk kesekian kalinya. Benar-benar, .. Jun Hyung tak pernah absen membuat ia merasa gondok setiap kali mereka jalan berdua. Sikap dinginnya yang sering kumat kapanpun dan dimana pun itu membuat Hwa Young merasa sangat teracuhkan.
          Setelah mendapatkan apa yang dicari di ruang aksesoris, Jun Hyung mengajak Hwa Young menuju ke ruang baju,
          "Kau tidak menginginkan apapun di sini?" tanya Jun Hyung begitu melihat Hwa Young yang masih bertangan kosong, "Kau tidak jadi membeli bandonya?"
          Hwa Young menggeleng. Ia benar-benar sudah kehilangan nafsu untuk berbelanja sepertinya,
          "Coba lihat ini?" Hwa Young mengambil sepasang baju couple bertuliskan 'LOVE' pada bagian dadanya, lalu menunjukkannya kepada Jun Hyung. Satunya berwarna merah muda cerah dan satunya berwarna merah muda tipis,
          "Hmm," Jun Hyung tampak berpikir, "Bagus sih, .. Kau suka?"
          "Sepertinya aku perlu lihat-lihat yang lain dulu," jawab Hwa Young seraya mengembalikan baju itu ke tempatnya dan mencoba memilih-milih lagi baju lain yang ada,
          "Igon—" ucap Hwa Young yang seketika itu jua tersendat. Matanya menerawang mencari sosok Jun Hyung yang beberapa detik sebelumnya masih di sampingnya, namun sekarang sudah tidak ada.
          Kesebelan itu kembali menguap begitu ia melihat sosok laki-laki muncul dari kamar ganti menuju cermin besar yang ada di luar tirai, menatapi bayangannya dirinya yang mengenakan kaos oblong biru di dalam cermin besar di depannya.
          Hwa Young benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi sekarang. Keinginannya untuk memiliki baju pasangan dengan Jun Hyung sudah tidak ada lagi, selain hanya ingin segera pergi dari sana dan meninggalkan laki-laki itu sendiri, bahkan ia berpikir akan lebih baik jika mereka tak pernah bertemu lagi.
---
          Sempat mencuri perhatian seseorang, saat Hwa Young melangkah setengah berlari keluar dari toko tersebut, namun Doon Joon tak bisa mengejar meski hatinya setengah mendesak, tapi pembeli yang ada di sampingnya masih memintanya untuk melayani, dan sudah barang tentu ia tak bisa meninggalkan.
          Dengan perasaan kecewa yang bertumpuk-tumpuk semenjak awal dari hubungan mereka, Hwa Young merasa ini adalah titik terakhir pertahanannya. Ia sudah merasa bahwa sekarang ia harus mengucapkan kata cukup untuk apa yang selama ini menekan batinnya.
          Berlari membuat perasaannya yang terguncang semakin jadi. Sebenarnya ia benar-benar tidak kuat lagi saat itu, gravitasi seperti sudah memenuhinya dan terus saja menarik-nariknya agar terjatuh begitu saja, tapi ia mencoba bertahan, meski sesekali punggung tangannya menyeka cairan hangat di pipinya. Tak ada yang mencegat, Jun Hyung tidak datang mengejar. Walaupun Hwa Young tidak mengharapkannya lagi, karena ia pikir semua sudah cukup. Ia tidak mungkin bertahan di samping sosok cuek seorang Jun Hyung, sementara di dalam hatinya ia membutuhkan perhatian seseorang.
---
          Cukup! Ini terlampau memauakan.
Memintaku untuk selalu melihat ke arahnya, percaya dengan apa katanya, hanya mendengar ucapannya, sementara ia yang tidak pernah muncul di setiap kali aku membutuhkan ia mengucapkan kata-kata yang bisa kupercayai dan mendengar ia membela hatiku yang hari demi hari mulai goyah untuk mempertahankan hubungan ini. 
Harus berapa kali aku mengatakan? Lihat aku, percaya aku, dengar aku, .. Jangan pedulikan mereka yang tidak sepenuhnya mengetahui tentang hubungan kita.
Hwa Young~aa, aku merasa benar-benar tersiksa setiap kali kau mempertanyakannya dan lebih memilih tak acuh dari komentar-komentar tak bersahabat itu. Jika kau peduli aku, tolong hapus keraguanmu tentang aku. Malam ini kutunggu di bangku taman dekat telpon umum, .. Datanglah sebagaimana kita kencan pertama.
Saranghae^^ 

 ---
Uap kecil mengepul keluar sesaat dari mulut Hwa Young setelah ia selesai membaca tulisan di secarik kertas putih di tangannya itu, entah ini sudah untuk yang keberapa kalinya.
Lalu matanya beralih ke arah jam tangan putih di pergelangan tangannya. Pukul 21.45. Sudah lebih 1 jam dari perjanjian yang tertulis di surat tangga yang lagi-lagi tadi pagi ia dapatkan sewaktu menuju kelas.
Ini malam pertama musim dingin. Hwa Young memegang kedua bahunya dengan telapak tangan yang tersilang, mencoba menghalau rasa dingin yang beberapa menit sudah membuat kakinya bergetar. Ia masih saja duduk di bangku dekat telpon umum itu, menunggu seseorang yang lagi-lagi membuat Hwa Young tersenyum miris dengan keadaannya yang tragis. Entahlah, Hwa Young pikir, begitulah adanya ia sekarang.
Ia tidak bisa menghitung sudah berapa tetesan airmata yang jatuh hanya karena seorang Jun Hyung, seperti ia tidak bisa menghitung bagaimana ia yang selalu terperdaya untuk mempercayai kata-kata laki-laki itu yang ternyata pada akhirnya malah luka yang dihasilkan di hatinya.
Hwa Young menghela nafas, lalu menghembuskannya sedikit bergetar. Bukan karena udara yang menggigitnya, tapi karena berusaha menahan apa yang sekarang sudah memenuhi rongga matanya. Tidak tahu bagaimana dengan esok hari, apakah kata-kata "cukup" itu benar-benar terjadi, atau malah kembali percaya pada seseorang yang akhirnya malah mengkhianati.
***
END~
---
SORRY KALAU CERITANYA GAJE. INI FAN FICTION TEMEN GUE YANG REQUEST. MINTANYA TENTANG KEPERCAYAAN YANG DIKHIANTI. JADINYA YAA, GINI AJA… SEDIKIT TERINSPIRASI DARI MV B1A4 SIH. TAPI SEDIKIT AJA, KOQ .. HHEHEHE
GOMAWOYO~